Wartakita.id – Di tengah sorotan isu integritas pejabat publik, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Selatan mengukir prestasi signifikan dengan menyelamatkan aset negara senilai Rp 36,6 miliar sepanjang tahun 2025. Angka ini menjadi bukti upaya penegakan hukum yang terus berjalan, meskipun tantangan pelayanan publik dan kepatuhan terhadap aturan masih menghantui.
Pencapaian Kejati Sulsel patut diapresiasi. Angka Rp 36,6 miliar bukan sekadar nominal, melainkan wujud nyata pengembalian uang negara yang seharusnya dinikmati rakyat. Upaya ini menjadi kontras tajam dengan beberapa kasus yang belakangan mencuat, menguji kepercayaan publik terhadap kinerja pemerintah daerah.
Korupsi vs. Empati Pelayanan: Celah Integritas yang Terlihat
Fokus Kejati Sulsel pada penyelamatan kerugian negara sejalan dengan upaya membangun kembali kepercayaan publik. Namun, isu-isu di lapangan menunjukkan adanya celah yang perlu segera ditambal. Kasus seorang lurah di Makassar yang meminta maaf karena nenek harus digotong untuk mengambil bantuan beras, misalnya, menggambarkan betapa pelayanan birokrasi masih jauh dari kata ideal dan menyentuh.
Hal serupa terjadi pada dugaan pelanggaran yang melibatkan Bupati Luwu Timur yang dikabarkan melakukan ibadah umrah di tengah larangan kepala daerah bepergian ke luar negeri. Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan krusial: bagaimana pejabat publik menyikapi aturan yang telah ditetapkan?
Pentingnya Transparansi dan Akuntabilitas
Data yang dihimpun Pewarta Warga (wartakita.id) menunjukkan bahwa penyelamatan kerugian negara oleh Kejati Sulsel dilakukan melalui proses hukum yang panjang. Mulai dari penyidikan, penuntutan, hingga eksekusi putusan pengadilan, setiap tahapan menjadi kunci agar aset negara kembali ke pangkuan publik.
Sementara itu, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menargetkan tahun 2026 sebagai tahun pembuktian kinerjanya. Harapan besar disematkan pada implementasi program inovatif dan peningkatan kualitas birokrasi agar pelayanan publik menjadi lebih baik dan responsif terhadap kebutuhan warga.
Langkah Strategis untuk Kepercayaan Publik
Pencapaian Kejati Sulsel adalah pengingat bahwa pemberantasan korupsi adalah tugas bersama. Namun, upaya ini akan semakin kuat jika diimbangi dengan peningkatan kualitas pelayanan publik yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
- Transparansi Anggaran: Publikasi data realisasi anggaran dan capaian program secara berkala.
- Akses Layanan yang Mudah: Penyederhanaan prosedur administrasi, terutama untuk program bantuan sosial.
- Mekanisme Pengaduan yang Efektif: Saluran pengaduan yang responsif dan tindak lanjut yang jelas.
- Sanksi Tegas: Penegakan disiplin bagi oknum pejabat yang terbukti lalai atau menyalahgunakan wewenang.
Kisah Rp 36,6 miliar yang terselamatkan oleh Kejati Sulsel menjadi motivasi. Namun, realitas di lapangan, seperti kesulitan warga mendapatkan bantuan atau dugaan pelanggaran oleh kepala daerah, menjadi pekerjaan rumah besar bagi seluruh pemangku kepentingan. Membangun integritas tidak hanya soal penegakan hukum, tetapi juga soal hati dan empati dalam melayani masyarakat.
FAQ
1. Berapa total kerugian negara yang berhasil diselamatkan oleh Kejati Sulsel pada tahun 2025?
Kejati Sulsel berhasil menyelamatkan kerugian negara sebesar Rp 36,6 miliar sepanjang tahun 2025.
2. Apa saja isu integritas yang disorot terkait dengan pemerintahan daerah di Sulsel?
Isu yang disorot antara lain kasus kelalaian pelayanan bantuan sosial (nenek digotong ambil beras) dan dugaan pelanggaran larangan bepergian ke luar negeri oleh kepala daerah (Bupati Luwu Timur).
3. Siapa yang bertanggung jawab atas pemantauan perjalanan ke luar negeri bagi kepala daerah?
Umumnya, Kementerian Dalam Negeri dan inspektorat daerah memiliki peran dalam memantau dan memberikan persetujuan perjalanan ke luar negeri bagi kepala daerah.
4. Kapan target pembuktian kinerja disebutkan oleh Wali Kota Makassar?
Wali Kota Makassar menargetkan tahun 2026 sebagai tahun pembuktian kinerjanya.
5. Bagaimana Kejati Sulsel menyelamatkan kerugian negara?
Kejati Sulsel menyelamatkan kerugian negara melalui proses hukum seperti penyidikan, penuntutan, dan eksekusi putusan pengadilan, serta pengembalian aset, denda, dan uang pengganti.
6. Mengapa penting untuk menyoroti kasus pelayanan publik yang buruk di samping kasus korupsi?
Penting untuk menyoroti kasus pelayanan publik yang buruk karena ini menunjukkan dampak langsung birokrasi terhadap kesejahteraan masyarakat dan menguji seberapa jauh integritas pejabat dalam menjalankan amanah pelayanan.























