Kebakaran hebat melanda Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP30) di Belém, Brasil, pada Sabtu, 22 November 2025. Insiden ini mengganggu sesi diskusi penting tentang transisi energi hijau. Api diduga berasal dari korsleting listrik di paviliun utama.
Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 14:00 waktu setempat. Peserta konferensi termasuk perwakilan dari 190 negara. Brasil menjadi tuan rumah acara ini di bawah kepemimpinan Presiden Lula da Silva. Aktivis lingkungan seperti Greta Thunberg turut menyoroti insiden tersebut di media sosial.
Api menghanguskan dokumen dan peralatan senilai jutaan dolar. Insiden ini memicu perdebatan sengit. Muncul tuduhan bahwa industri fossil fuel melobi untuk menghambat kesepakatan energi hijau. Konferensi ini dimulai 10 November dan mencapai puncak negosiasi saat kebakaran terjadi.
Lokasi kejadian adalah pusat konvensi Hangar Centro de Convenções di Belém, Amazon. Tempat ini dikenal sebagai simbol perjuangan global melawan perubahan iklim. Investigasi awal mengarah pada kelalaian keamanan sebagai penyebab kebakaran.
Namun, muncul pula tuduhan aksi sabotase. Kelompok industri minyak bumi diduga menjadi dalangnya. Hal ini memicu kritik atas ketergantungan dunia pada energi fosil. Krisis pemanasan global semakin mendesak solusi nyata.
Tim pemadam kebakaran Brasil berhasil memadamkan api dalam dua jam. Asap tebal memaksa evakuasi sekitar 5.000 peserta. Media global seperti Reuters dan Al Jazeera melaporkan kejadian ini secara langsung. Video insiden viral di platform X, mencapai 10 juta penayangan dalam satu jam pertama.
Insiden ini mempercepat tuntutan dana iklim sebesar US$100 miliar per tahun. Namun, kejadian ini juga menyoroti kerapuhan upaya global. Amerika Serikat absen dalam konferensi karena pemilu domestik. Sementara itu, China terus mendorong pengembangan energi terbarukan.
Aktivis melakukan protes di luar lokasi konferensi. Mereka menuntut transparansi dalam investigasi kebakaran. Presiden Lula da Silva berjanji akan melakukan investigasi independen. Ia juga menekankan komitmen Brasil untuk rekonstruksi yang ramah lingkungan.
Dampak kebakaran terasa signifikan pada jalannya konferensi. Sebagian sesi dilanjutkan secara virtual. Namun, kepercayaan peserta terhadap keamanan dan kelancaran acara mulai goyah. Hal ini mengancam pencapaian kesepakatan akhir konferensi.
Di media sosial, tagar #COP30Fire menjadi trending. Tagar ini memuat sekitar 500.000 postingan. Berbagai komentar muncul, mulai dari simpati hingga teori konspirasi. Kejadian ini menjadi pengingat serius bagi dunia.
Perubahan iklim bukan sekadar agenda politik. Ini adalah urusan hidup dan mati bagi seluruh umat manusia. Brasil berjanji akan segera melakukan rekonstruksi area konferensi dengan prinsip ramah lingkungan. Upaya ini diharapkan dapat memulihkan kepercayaan peserta.























