Iran mengumumkan kebijakan baru yang memungkinkan kapal-kapal komersial Jepang melintasi Selat Hormuz secara selektif, menandai perubahan signifikan pasca-serangan yang terjadi akhir Februari lalu. Langkah ini diharapkan meredakan kekhawatiran energi global.
- Iran menerapkan blokade maritim selektif di Selat Hormuz, mengizinkan kapal komersial Jepang.
- Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengonfirmasi pelonggaran ini setelah dialog dengan Jepang.
- Pelonggaran ini krusial bagi Jepang yang sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah.
- Iran siap memfasilitasi jalur aman bagi negara yang tidak terlibat dalam serangan terhadap wilayahnya.
- Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dilaporkan mengembangkan sistem pemeriksaan baru untuk kapal yang melintas.
Iran Buka Jalur Selektif di Selat Hormuz untuk Kapal Jepang
Pemerintah Iran telah mengonfirmasi penerapan kebijakan blokade selektif di salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia, Selat Hormuz. Kebijakan ini secara spesifik mengizinkan kapal-kapal komersial asal Jepang untuk melintasi selat tersebut. Pelonggaran pembatasan maritim ini merupakan respons terhadap situasi pasca-serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah Iran pada akhir Februari lalu.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara langsung mengonfirmasi adanya rute khusus ini setelah melakukan pembicaraan intensif dengan perwakilan pemerintah Jepang. Menurut Araghchi, klaim bahwa selat tersebut ditutup sepenuhnya tidaklah akurat. Ia menjelaskan bahwa pihak keamanan Iran hanya membatasi akses bagi kapal-kapal milik negara yang dianggap sebagai musuh dan terlibat dalam serangan terhadap Iran.
“Kami belum menutup selat tersebut. Menurut pendapat kami, selat itu terbuka. Selat itu hanya ditutup untuk kapal-kapal milik musuh kami, negara-negara yang menyerang kami. Untuk negara lain, kapal dapat melewati selat tersebut,” ujar Araghchi dalam wawancara dengan Kyodo News, yang dilansir AlJazeera pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Dampak Kritis bagi Jepang dan Fasilitasi Keamanan
Pelonggaran pembatasan di Selat Hormuz ini disambut baik oleh Jepang, mengingat ketergantungan negara tersebut yang sangat tinggi terhadap pasokan energi dari kawasan Timur Tengah. Jepang mengimpor lebih dari 90% kebutuhan minyak mentahnya dari wilayah ini. Oleh karena itu, penutupan Selat Hormuz selama tiga pekan terakhir menimbulkan ancaman signifikan terhadap stabilitas dan ketahanan energinya.
Araghchi menambahkan kesiapan Iran untuk memfasilitasi perjalanan yang aman bagi kapal-kapal Jepang. “Kami sedang berbicara dengan mereka untuk menemukan cara agar dapat melintas dengan aman. Kami siap memberi mereka jalur yang aman. Yang perlu mereka lakukan hanyalah menghubungi kami untuk membahas bagaimana rute ini nantinya,” tegasnya, menunjukkan adanya jalur koridor aman yang akan disediakan.
Perubahan Sikap dan Implementasi Sistem Baru
Langkah ini menandai sebuah perubahan sikap yang patut dicatat dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Sebelumnya, terdapat ancaman dari IRGC yang akan membakar seluruh kapal yang mencoba melintas. Namun, kini dilaporkan bahwa IRGC tengah mengembangkan sistem pemeriksaan dan registrasi yang lebih terkoordinasi untuk kapal-kapal komersial yang ingin menggunakan jalur Selat Hormuz.
Berdasarkan laporan dari layanan informasi maritim Lloyd’s List, setidaknya sepuluh kapal telah berhasil melintasi selat dengan berlayar merapat ke garis pantai Iran, yang kini difungsikan sebagai koridor aman. Dengan kesepakatan terbaru ini, Jepang akan bergabung dengan kelompok negara seperti China, India, dan Pakistan, yang kapalnya telah terlebih dahulu mendapatkan izin melintas dari otoritas Teheran.























