Minggu terakhir Januari 2026 menyajikan dinamika ekonomi yang kompleks, mulai dari kejutan di pucuk pimpinan lembaga keuangan hingga strategi jangka panjang pemerintah. Peristiwa-peristiwa ini tak hanya menarik perhatian pasar, tetapi juga menggarisbawahi tantangan dan arah kebijakan ekonomi Indonesia ke depan.
Guncangan Kepemimpinan: Mundurnya Tokoh Kunci di BEI dan OJK
Kabar paling menggegerkan datang dari mundurnya sejumlah pejabat tinggi di institusi krusial pasar modal dan keuangan. Iman Rachman, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), secara mengejutkan mengumumkan pengunduran dirinya. Bersamaan dengan itu, tampuk kepemimpinan di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mengalami perubahan signifikan. Mahendra Siregar, yang menjabat sebagai Ketua Dewan Komisioner OJK, beserta Inarno Djajadi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, turut menyampaikan pengunduran diri mereka.
Pergantian kepemimpinan di lembaga setinggi ini tentu menimbulkan berbagai spekulasi dan pertanyaan mengenai arah kebijakan selanjutnya. Kepergian tokoh-tokoh yang berpengalaman ini berpotensi memengaruhi sentimen pasar dan strategi operasional lembaga tersebut, meskipun penunjukan pelaksana tugas diharapkan dapat menjamin keberlangsungan operasional.
Proses Transisi dan Penunjukan Pengganti
Menyikapi situasi ini, pemerintah bergerak cepat menunjuk pengganti sementara. Jeffrey Hendrik didapuk sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Di sisi lain, Friderica Widyasari Dewi, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen, kini mengemban amanah sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Dewan Komisioner OJK. Penunjukan ini menegaskan komitmen untuk menjaga stabilitas dan kelancaran fungsi pengawasan di sektor jasa keuangan.
Strategi Fiskal dan Transformasi Sektor Vital: BUMN Kesehatan
Di tengah pergantian kepemimpinan, pemerintah juga menegaskan komitmennya terhadap kebijakan ekonomi yang lebih strategis. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan keputusan pemerintah untuk sengaja memperlebar defisit anggaran hingga mendekati batas 3 persen. Langkah ini bukan tanpa pertimbangan, melainkan sebuah upaya antisipasi untuk menghindari terulangnya krisis ekonomi dahsyat seperti yang dialami Indonesia pada 1997-1998.
Sementara itu, sektor Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga menjadi sorotan. Donny Oskaria, selaku Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN), secara tegas menekankan urgensi transformasi di sektor kesehatan dan farmasi yang dikelola oleh BUMN. Reformasi ini dinilai krusial untuk meningkatkan efisiensi, daya saing, serta memastikan keberlanjutan pelayanan publik di masa depan.
Transformasi BUMN Kesehatan: Menuju Efisiensi dan Daya Saing
Transformasi BUMN di sektor kesehatan dan farmasi bukan sekadar restrukturisasi internal, tetapi merupakan langkah strategis untuk menjawab tantangan kesehatan nasional dan global. Dengan inovasi dan efisiensi yang lebih baik, BUMN di sektor ini diharapkan mampu bersaing tidak hanya di pasar domestik tetapi juga di kancah internasional.
Pengembangan Infrastruktur Transportasi dan Ketegasan Aturan Pasar Modal
Perkembangan positif juga terlihat di sektor infrastruktur. Dony Oskaria, Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia), memaparkan rencana ambisius pengembangan kereta rel listrik (KRL) yang akan menghubungkan Jakarta dengan Cikampek dan Sukabumi pada tahun 2026. Proyek ini diharapkan dapat memangkas waktu tempuh, meningkatkan konektivitas antarkota, dan secara signifikan mendukung mobilitas serta aktivitas ekonomi masyarakat.
Di sisi lain, stabilitas pasar modal menjadi prioritas utama. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memberikan pernyataan tegas mengenai praktik manipulasi harga saham atau yang populer dikenal sebagai “menggoreng saham”. Pemerintah menegaskan tidak akan memberikan toleransi sedikit pun terhadap tindakan ilegal ini dan akan menindak tegas para pelakunya. Ketegasan ini penting untuk menjaga kepercayaan investor dan integritas pasar modal Indonesia.
Demutualisasi BEI dan Kesiapan Danantara Indonesia
Sejalan dengan upaya penguatan pasar modal, Danantara Indonesia menyatakan kesiapannya untuk mendukung kebijakan demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI). Langkah ini merupakan bagian dari agenda reformasi yang lebih luas, bertujuan untuk meningkatkan tata kelola, efisiensi, dan akuntabilitas BEI sebagai salah satu pilar utama pasar keuangan nasional.
Optimisme terhadap pergerakan pasar juga dilontarkan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan keluar dari zona merah dan bergerak positif pada pembukaan perdagangan Senin, 2 Februari 2026. Harapan ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk terus menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi di tengah berbagai dinamika global maupun domestik.























