Grammy Awards 2026 telah memecah keheningan, membuktikan bahwa panggung megah ini bukan lagi sekadar perayaan nada dan ritme, melainkan sebuah podium kuat untuk menyuarakan narasi sosial dan politik yang mendesak di era kontemporer.
Album of the Year: Bad Bunny dan Gema Identitas di Panggung Global
Penghargaan bergengsi Album of the Year di Grammy Awards 2026 jatuh ke tangan Bad Bunny untuk albumnya yang berbahasa Spanyol, DeBÍ TiRAR MáS FOToS. Kemenangan ini bukan sekadar pencapaian artistik, melainkan sebuah manifestasi kuat dari realitas global yang sarat isu, terutama terkait imigrasi dan pencarian identitas di tengah lanskap sosial yang terus berubah.
Secara historis, Album of the Year Grammy selalu menjadi cerminan esensi budaya dan selera kolektif pada masanya. Di tengah maraknya perburuan imigran dan diskriminasi yang dihadapi komunitas Latin serta kelompok minoritas lainnya, kemenangan Bad Bunny diinterpretasikan sebagai sebuah simbol perlawanan dan pengakuan atas suara yang terpinggirkan.
Puerto Riko, Gentrifikasi, dan Politik yang Melekat pada Seni
Album DeBÍ TiRAR MáS FOToS secara vokal mengupas persoalan gentrifikasi yang melanda tanah kelahirannya, Puerto Riko, serta kekhawatiran mendalam mengenai nasib pulau tersebut di bawah status kenegaraan yang kompleks. Pesan ini sejalan dengan resonansi yang digaungkan oleh banyak seniman lain di panggung Grammy, menegaskan bahwa seni, pada hakikatnya, tidak pernah terlepas dari dimensi politik.
Argumen yang kerap muncul, bahwa figur publik sebaiknya menghindari ranah politik, nampak semakin usang. Realitas membuktikan bahwa setiap aspek kehidupan, mulai dari harga pangan hingga etika kerja industri mode, merupakan produk dari keputusan-keputusan politik. Seni, musik, komedi, bahkan fesyen, pun tidak terkecuali dari pengaruh ini.
Sinyal Solidaritas di Karpet Merah Grammy
Jauh sebelum acara puncak, para bintang seperti Justin dan Hailey Bieber, Joni Mitchell, serta Kehlani telah memberikan sinyal dukungan mereka melalui pin ikonik “ICE OUT” yang menghiasi busana mereka di karpet merah. Aksi ini merupakan bentuk solidaritas yang tegas menolak praktik imigrasi yang dianggap kejam oleh banyak pihak.
Pembawa acara, Trevor Noah, tidak ketinggalan dalam memanfaatkan monolog pembukaannya untuk menyentil isu-isu politik yang relevan, termasuk kritik tajam terhadap mantan Presiden Donald Trump. Nada pembuka ini menjadi penanda awal bahwa Grammy 2026 akan menjadi panggung yang berani.
Suara Seniman di Panggung: Lebih dari Sekadar Hiburan
Di tengah sorotan global, Olivia Dean, Billie Eilish, dan Bad Bunny sendiri menggunakan momen berharga mereka di panggung untuk memberikan penghormatan kepada kontribusi para imigran. Mereka secara eksplisit menyuarakan ancaman yang ditimbulkan oleh badan imigrasi seperti ICE (Immigration and Customs Enforcement) di Amerika Serikat.
Saat menerima penghargaan untuk kategori Best Música Urbana Album, Bad Bunny menyampaikan pesan yang mengharukan dan tegas: “Kami bukan buas, kami bukan hewan, kami bukan alien. Kami adalah manusia, dan kami adalah orang Amerika.” Pernyataan ini menggema kuat, mengingatkan audiens global akan kemanusiaan yang seringkali terlupakan dalam narasi politik.
Seni sebagai Cerminan Ekosistem Politik yang Tak Terpisahkan
Bahkan karya-karya seni yang tidak secara eksplisit berorientasi pada isu-isu politik, tetap memiliki implikasi politik yang mendalam. Para seniman yang tampil di Grammy menyadari bahwa kehadiran mereka di ranah budaya secara inheren merupakan bagian dari ekosistem politik. Dengan jutaan pasang mata menyaksikan, mereka berhasil menggarisbawahi bahwa imigran adalah elemen krusial dalam tatanan negara dan turut berperan dalam menciptakan karya seni yang dinikmati oleh banyak orang.
Perdebatan mengenai apakah selebritas seharusnya membatasi diri dari percakapan politik terus bergulir. Sebagian memilih untuk bersikap netral karena kekhawatiran akan kesulitan mengartikulasikan isu-isu kompleks atau kehilangan sebagian basis penggemar mereka. Namun, terlepas dari kenyamanan personal, setiap individu adalah “aktor politik” karena hidup, mencintai, berkarya, dan berjuang dalam sebuah sistem yang dibentuk oleh keputusan-keputusan pemerintah.
Karya Seni sebagai Lensa Politik
Dampak keputusan politik seringkali tidak dirasakan secara merata. Kelompok berpenghasilan rendah, perempuan, dan komunitas kulit berwarna cenderung menjadi pihak yang paling rentan terhadap kebijakan yang bias. Di sinilah karya-karya seni seperti DeBÍ TiRAR MáS FOToS dari Bad Bunny atau Cowboy Carter dari Beyoncé—yang merayakan ketekunan kaum kulit hitam di Amerika di tengah penindasan politik—menjadi bukti nyata bagaimana seni secara langsung merefleksikan isu-isu politik.
Bahkan karya yang terkesan apolitis pun tetap dibentuk oleh norma gender dan dinamika kekuasaan yang hadir dalam lanskap politik suatu negara. Para artis yang bersuara di Grammy Awards 2026 tidak sedang mengganggu ruang sakral yang apolitis; sebaliknya, mereka menunjukkan kejujuran tentang posisi karya mereka dalam momen budaya saat ini. Dengan merangkul keterkaitan antara musik dan politik, mereka melanjutkan tradisi panjang para bintang yang menggunakan platform mereka untuk kebaikan publik, serta menunjukkan bagaimana seni dapat menjadi sarana ampuh untuk memperdalam kesadaran politik. Grammy Awards 2026 tidak serta-merta “menjadi politis,” melainkan berhenti berpura-pura bahwa mereka tidak pernah memiliki dimensi politik.























