JAKARTA – Keputusan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk menunjuk dua warga negara asing (WNA) ke dalam jajaran dewan direksi pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) 24 Oktober 2025 lalu, telah memicu gelombang perdebatan sengit. Ini bukan sekadar pergantian manajemen biasa; ini adalah momen bersejarah sekaligus kontroversial bagi maskapai pelat merah tersebut.
Langkah ini, yang diklaim sebagai strategi krusial untuk menyelamatkan Garuda dari lilitan utang Rp 140 triliun dan erosi pangsa pasar, harus berhadapan dengan gejolak sentimen nasionalisme yang kental di Indonesia. Pertanyaan mendasar pun muncul: apakah suntikan keahlian global ini adalah obat mujarab yang dibutuhkan, atau justru pengorbanan kedaulatan di altar pragmatisme ekonomi?
Penunjukan WNA ke posisi strategis dalam Badan Usaha Milik Negara (BUMN) adalah sebuah preseden baru yang menandai pergeseran paradigma dalam pengelolaan aset-aset vital negara. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian BUMN sebagai pemegang saham utama, bersama investor swasta, tampaknya memandang bahwa keahlian global adalah kunci untuk memulihkan Garuda yang terhuyung pasca-pandemi dan krisis keuangan kronis.
Namun, di sisi lain, kritik keras dari serikat pekerja dan anggota DPR menyoroti kekhawatiran akan nasionalisme dan kapabilitas talenta lokal. Situasi ini bukan hanya tentang Garuda, melainkan cerminan dari dilema yang lebih besar: bagaimana Indonesia menyeimbangkan kebutuhan akan efisiensi dan daya saing global dengan menjaga kedaulatan ekonomi dan identitas nasionalnya.
Menyelami Akar Krisis Keuangan Garuda: Mengapa Talenta Global Dipandang Solusi?
Kondisi finansial Garuda Indonesia telah menjadi sorotan publik selama bertahun-tahun. Dengan akumulasi utang yang mencapai Rp 140 triliun dan penurunan pangsa pasar yang signifikan, maskapai kebanggaan nasional ini berada di ambang kolaps. Pandemi COVID-19 memang memperparah keadaan, namun masalah struktural seperti inefisiensi operasional, manajemen rute yang kurang optimal, dan beban biaya yang tinggi sudah menggerogoti perusahaan jauh sebelumnya.
Pihak manajemen, yang diwakili oleh Direktur Utama Garuda, Bapak Wamildan Tsani, menjelaskan bahwa penunjukan dua WNA ini adalah bagian integral dari strategi revitalisasi dan restrukturisasi keuangan yang komprehensif. Harapannya, keahlian global yang dibawa oleh direksi asing dapat membawa perspektif baru, inovasi dalam efisiensi operasional, dan mempercepat ekspansi rute internasional yang krusial untuk diversifikasi pendapatan. Seorang pakar aviasi dari Bandara Soekarno-Hatta, yang tidak disebutkan namanya namun sering dikutip dalam diskusi industri, menekankan bahwa industri penerbangan sangat terglobalisasi. “Mengundang talenta terbaik, dari mana pun asalnya, untuk mengatasi masalah kompleks seperti yang dihadapi Garuda, bukanlah hal yang aneh dalam praktik korporasi global,” ujarnya.
Situasi Garuda ini sesungguhnya bukan anomali dalam lanskap BUMN di Indonesia. Beberapa BUMN lain juga menghadapi tantangan efisiensi dan daya saing yang serupa, meskipun skalanya mungkin berbeda. Pemerintah Indonesia sendiri, dalam beberapa tahun terakhir, telah mendorong reformasi BUMN untuk meningkatkan kinerja, mengurangi ketergantungan pada subsidi, dan membuatnya lebih kompetitif di pasar global. Penunjukan direksi asing di Garuda bisa jadi merupakan sinyal bahwa pemerintah semakin terbuka terhadap ‘cara-cara global’ demi penyelamatan aset strategis, meski ini selalu menjadi isu sensitif di tengah masyarakat.
Jejak Panjang Restrukturisasi dan Harapan Pemulihan
Sejarah Garuda Indonesia dipenuhi dengan berbagai upaya restrukturisasi, mulai dari pemotongan utang hingga program efisiensi. Namun, masalah fundamental tetap menghantui. Dengan RUPSLB yang mengesahkan jajaran direksi baru, termasuk dua WNA yang disebutkan, Garuda kini menancapkan harapan pada pendekatan yang lebih radikal. Mandat utama direksi baru adalah melakukan pemangkasan biaya besar-besaran, merenegosiasi kontrak-kontrak yang memberatkan, serta mengidentifikasi dan mengembangkan rute-rute internasional yang paling menguntungkan. Harapan akan peningkatan investasi asing juga mengemuka, seiring dengan citra manajemen yang lebih global dan transparan.
Polemik Nasionalisme vs. Pragmatisme Ekonomi: Suara dari Berbagai Sisi
Keputusan pengangkatan direksi WNA ini segera menuai badai kritik. Serikat pekerja Garuda (SPG), misalnya, menyuarakan kekecewaan dan kekhawatiran atas potensi erosi kedaulatan dan identitas nasional. “Apakah tidak ada putra-putri bangsa yang mampu memimpin Garuda? Ini adalah BUMN strategis yang mengibarkan bendera Indonesia di langit dunia,” ungkap salah satu perwakilan SPG, menuntut transparansi lebih lanjut dari Kementerian BUMN.
Di parlemen, anggota DPR juga menyerukan kekhawatiran serupa, menuntut penjelasan detail mengenai alasan dan proses seleksi. Isu ini dengan cepat menjadi viral di platform media sosial seperti X (sebelumnya Twitter), dengan tagar yang berkaitan dengan #SaveGaruda dan #NasionalismeBUMN mendominasi perbincangan. Ribuan retweet dan komentar menunjukkan betapa isu kedaulatan ekonomi dan peran WNA dalam BUMN sangat sensitif bagi publik Indonesia.
Sentimen nasionalisme yang kuat di Indonesia selalu menjadi faktor penentu dalam setiap kebijakan yang melibatkan aset strategis negara atau kepemilikan asing. Contoh kasus di masa lalu, seperti divestasi saham di perusahaan tambang besar atau akuisisi perusahaan domestik oleh asing, seringkali memicu perdebatan sengit tentang “kepemilikan bangsa”. Bagi banyak orang Indonesia, Garuda bukan sekadar maskapai; ia adalah simbol kebanggaan nasional, sehingga keputusan yang melibatkan ‘orang asing’ di pucuk pimpinan akan selalu dilihat dengan kacamata kritis.
Reformasi BUMN Era Prabowo: Keterbukaan Terhadap Talenta Global?
Penunjukan ini juga terjadi di tengah era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang baru, yang telah mengisyaratkan fokus pada reformasi korporasi dan peningkatan investasi. Keputusan Garuda ini dapat diinterpretasikan sebagai langkah awal menuju keterbukaan BUMN terhadap talenta global yang lebih besar, dengan asumsi bahwa efisiensi dan profitabilitas harus menjadi prioritas utama. Pertanyaannya, apakah ini akan menjadi tren baru bagi BUMN lain, ataukah akan ada batas-batas tertentu yang tidak boleh dilampaui?
Dampak Jangka Panjang: Investasi, Transparansi, dan Masa Depan Garuda
Terlepas dari polemik, penunjukan direksi WNA ini berpotensi membawa dampak signifikan. Di satu sisi, kehadiran talenta global dengan rekam jejak internasional yang terbukti dapat meningkatkan kepercayaan investor asing, membuka akses ke pasar dan teknologi baru, serta mendorong praktik tata kelola perusahaan (good corporate governance) yang lebih baik. Ini adalah aspek krusial untuk menarik modal segar yang sangat dibutuhkan Garuda.
Namun, di sisi lain, tantangan adaptasi budaya dan manajemen juga tidak bisa diabaikan. Integrasi direksi asing ke dalam struktur BUMN yang memiliki kekhasan budaya kerja dan birokrasi Indonesia memerlukan strategi komunikasi dan adaptasi yang matang. DPR telah menuntut transparansi penuh mengenai kinerja direksi baru ini dan bagaimana indikator keberhasilan akan diukur. Potensi gesekan dengan karyawan lokal juga harus diantisipasi dan dikelola dengan baik agar tidak menghambat proses pemulihan.
Pada akhirnya, nasib Garuda Indonesia akan menjadi studi kasus penting bagi arah reformasi BUMN di Indonesia. Keberhasilan atau kegagalan strategi ini tidak hanya akan menentukan kelangsungan hidup maskapai, tetapi juga akan membentuk narasi mengenai keseimbangan antara sentimen nasionalisme dan kebutuhan pragmatis akan keahlian global demi kemajuan ekonomi.
Kesimpulan Redaksi
Penunjukan direksi asing di Garuda Indonesia adalah langkah berani yang menyoroti dilema mendalam antara kebutuhan mendesak akan pemulihan ekonomi dan kuatnya sentimen nasionalisme. Ini adalah perjudian strategis: apakah keahlian global mampu memangkas utang Rp 140 triliun dan membawa Garuda kembali terbang tinggi, ataukah justru akan memicu ketegangan yang lebih besar? Keberhasilan langkah ini sangat bergantung pada transparansi pemerintah dalam mengelola polemik, keefektifan direksi baru dalam menjalankan mandatnya, dan kemampuan seluruh pemangku kepentingan untuk menyeimbangkan kepentingan nasional dengan realitas pasar global yang kompetitif. Masa depan Garuda Indonesia kini berada di persimpangan jalan, dan setiap mata tertuju pada hasilnya.























