Wartakita.id, LUMAJANG — Tanggal 19 November 2025 seharusnya menjadi hari Selasa yang biasa bagi warga Dusun Curah Kobokan dan sekitarnya. Petani bersiap ke ladang, penambang pasir mulai memanaskan truk mereka, dan anak-anak sekolah baru saja selesai sarapan. Namun, alam memiliki agendanya sendiri—sebuah agenda yang tidak tunduk pada kalender manusia.
Pukul 07.15 WIB, tanpa peringatan suara ledakan yang memekakkan telinga, langit yang semula cerah mendadak berubah kelabu. “Wedhus Gembel”—julukan lokal untuk Awan Panas Guguran (APG)—meluncur turun dari kawah Jonggring Saloko. Bukan berjalan, ia berlari. Dengan kecepatan luncur yang diperkirakan mencapai ratusan kilometer per jam, material vulkanik itu menyapu aliran Besuk Kobokan, membawa pesan sunyi namun mematikan: Sang Mahameru sedang “bangun”.
Peristiwa 19 November ini bukan sekadar statistik bencana. Ini adalah perpaduan kompleks antara siklus geologis yang tak terelakkan dan narasi kultural yang telah hidup ratusan tahun di tanah Jawa.
Anatomi Letusan: Mengapa 19 November?
Secara geologis, letusan Semeru kali ini berbeda dengan karakter letusan eksplosif biasa. Berdasarkan analisis data vulkanologi terkini, peristiwa 19 November 2025 dipicu oleh ketidakstabilan kubah lava.
Selama berbulan-bulan, suplai magma dari perut bumi terus mendesak ke atas, membentuk gundukan lava beku di bibir kawah. Karena gravitasi dan dorongan energi dari dalam yang tak tertahankan, kubah ini runtuh. Runtuhan inilah yang berubah menjadi APG—campuran gas, batuan, dan abu vulkanik bersuhu di atas 800 derajat Celcius yang meluncur deras ke lereng tenggara.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat amplitudo getaran banjir lahar dingin yang menyertai letusan ini mencapai angka overscale pada seismograf pos pantau. Hujan abu vulkanik dilaporkan menutup jarak pandang hingga nol meter di beberapa desa di Kecamatan Candipuro dan Pronojiwo, memaksa siang hari berubah menjadi malam yang pekat dalam hitungan menit.
Ini adalah pengingat keras bahwa Semeru adalah stratovolcano aktif tertinggi di Pulau Jawa (3.676 mdpl) yang “hidup”. Ia bernapas, ia tumbuh, dan terkadang, ia harus melepaskan beban energinya untuk menjaga keseimbangan internalnya.
Paku Bumi yang Terguncang: Sisi Lain Semeru
Namun, bagi masyarakat Tengger dan penduduk lereng Semeru, gunung ini bukan sekadar tumpukan batuan piroklastik. Semeru adalah pusat kosmos.
Dalam kitab Tantu Pagelaran, naskah kuno dari abad ke-15, dikisahkan bahwa Pulau Jawa pada zaman dahulu terombang-ambing di lautan luas, tidak stabil dan terus berguncang. Para Dewa—Brahma dan Wisnu—memutuskan untuk memaku pulau ini agar tenang. Mereka memindahkan puncak Gunung Meru dari India (Jambudwipa) ke atas Pulau Jawa.
Puncak gunung itu menjadi Semeru (Mahameru), yang diyakini sebagai “Paku Pulau Jawa”. Bagian yang tercecer saat pemindahan menjadi gunung-gunung lain yang berderet di Jawa, seperti Lawu, Wilis, Kelud, Kawi, dan Arjuno.
Legenda ini menciptakan ikatan batin yang kuat. Erupsi Semeru seringkali dimaknai bukan sebagai bencana semata, melainkan sebagai “teguran” atau tanda bahwa keseimbangan spiritual sedang terganggu. Ada kepercayaan bahwa ketika Semeru “batuk” atau “mengaum”, sang Paku Bumi sedang menyeimbangkan kembali beban Pulau Jawa yang semakin berat—baik berat secara fisik (populasi dan bangunan) maupun berat oleh perilaku manusia yang mulai melupakan alam.
Kearifan lokal ini sebenarnya sejalan dengan logika sains: alam mencari keseimbangan. Jika tekanan di dalam terlalu kuat, ia harus dikeluarkan. Bedanya, sains berbicara lewat data seismik, sementara legenda berbicara lewat rasa dan simbol.
Keduanya mengajarkan satu hal yang sama: Rendah hatilah di hadapan kekuatan alam.
Analisis Dampak: Ekonomi Abu Vulkanik
Dampak letusan 19 November 2025 ini melampaui kerusakan fisik. Sektor pertanian di Lumajang dan Malang selatan menghadapi ancaman gagal panen total. Abu vulkanik yang mengandung asam tinggi dapat mematikan tanaman hortikultura—cabai, tomat, dan sayuran—yang menjadi tumpuan ekonomi warga.
Selain itu, sektor pertambangan pasir di sepanjang aliran Sungai Regoyo dan Besuk Kobokan lumpuh total. Meskipun pasir Semeru dikenal sebagai salah satu yang kualitasnya terbaik di Indonesia, keberadaannya kini menjadi pedang bermata dua. Jalur tambang kini menjadi jalur kematian bagi siapa saja yang nekat mendekat saat hujan masih mengguyur puncak, membawa potensi lahar dingin yang bisa menyeret truk pasir semudah menyeret kotak korek api.
Patuhi Zona Merah, Jangan Menawar Nyawa
Antara data seismograf yang bergetar hebat dan legenda Paku Bumi yang berguncang, pesan akhirnya tetap satu: Keselamatan adalah prioritas mutlak.
Letusan 19 November 2025 adalah bukti nyata bahwa ancaman Awan Panas Guguran (APG) bisa terjadi sangat cepat, seringkali lebih cepat dari kemampuan manusia untuk berlari. Oleh karena itu, tidak ada ruang untuk negosiasi dengan alam.
Kami menyerukan kepada seluruh masyarakat di sekitar lereng Semeru dan wisatawan untuk mematuhi rekomendasi resmi PVMBG yang berlaku saat ini:
-
Jauhi Sektor Tenggara: Jangan melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi). Area ini adalah jalur utama peluncuran awan panas.
-
Waspada Perluasan Awan Panas: Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak boleh beraktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak.
-
Radius Aman Puncak: Tidak beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).
-
Waspada Lahar Dingin: Mengingat musim hujan yang mulai intens di akhir tahun 2025 ini, waspadai aliran lahar di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Semeru, terutama Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.
Semeru adalah ibu yang memberi kehidupan lewat tanahnya yang subur dan pasirnya yang melimpah. Namun, hari ini, Sang Ibu sedang meminta ruang untuk dirinya sendiri. Menghormati jarak aman bukan berarti takut, melainkan bentuk penghormatan tertinggi manusia terhadap alam—dan terhadap nyawa yang telah dititipkan Tuhan kepada kita.
Tetap waspada, tetap pantau informasi resmi, dan salam tangguh.























