Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal keempat 2025 menunjukkan performa gemilang, membukukan angka +5,39% secara tahunan dan melampaui berbagai ekspektasi. Capaian ini menegaskan kembali ketahanan dan potensi pasar domestik yang menjadi penopang utama geliat ekonomi nasional.
- Pertumbuhan ekonomi Indonesia 4Q25 mencapai +5,39% YoY, melampaui konsensus +5,1% YoY.
- Pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 mencapai +5,11% YoY, sedikit di atas target konsensus.
- Investasi (PMTB) tumbuh +6,12% YoY di 4Q25, didorong impor mesin dan belanja pemerintah.
- Konsumsi rumah tangga tumbuh +5,11% YoY di 4Q25, didukung stimulus dan keyakinan konsumen.
- Kontribusi net ekspor menurun akibat perlambatan ekspor dan kenaikan impor.
- Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi +5,4% YoY pada 2026, dengan proyeksi lebih ambisius hingga +6% YoY.
- Perbaikan makroekonomi diprediksi positif untuk IHSG, terutama saham _blue chip_ perbankan dan konsumer.
Analisis Mendalam Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 4Q25
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa ekonomi Indonesia berhasil mencatatkan pertumbuhan sebesar +5,39% secara tahunan (YoY) pada kuartal keempat tahun 2025. Angka ini tidak hanya melampaui proyeksi konsensus pasar yang memperkirakan di angka +5,1% YoY, tetapi juga menandai pertumbuhan tahunan tertinggi sejak kuartal ketiga 2022. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2025 secara keseluruhan mencapai +5,11% YoY, sedikit melampaui target konsensus (+5,04% YoY) namun masih berada di bawah target pemerintah (+5,2% YoY).
Investasi dan Konsumsi Domestik sebagai Mesin Penggerak Utama
Dalam rinciannya, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi tampil sebagai komponen dengan kontribusi pertumbuhan tahunan tertinggi pada 4Q25, melonjak sebesar +6,12% YoY. Peningkatan ini terutama didorong oleh aktivitas impor mesin produksi untuk menunjang sektor industri, serta peningkatan belanja pemerintah yang difokuskan pada pengadaan peralatan dan mesin. Pertumbuhan investasi ini sejalan dengan data realisasi investasi yang dirilis oleh Kementerian Investasi dan Hilirisasi, yang mencatat pertumbuhan sebesar +9,7% YoY pada periode yang sama. Sepanjang tahun 2025, PMTB secara kumulatif tumbuh sebesar +5,09% YoY.
Tak kalah penting, konsumsi rumah tangga, yang merupakan komponen terbesar dalam struktur perekonomian Indonesia, juga menunjukkan akselerasi yang solid. Pada 4Q25, pertumbuhan konsumsi rumah tangga mencapai +5,11% YoY. Peningkatan ini terlihat selaras dengan tren positif pada indeks penjualan ritel dan indeks keyakinan konsumen, yang turut diperkuat oleh intervensi stimulus pemerintah senilai Rp37,4 triliun. Secara total untuk tahun 2025, konsumsi rumah tangga membukukan pertumbuhan sebesar +4,98% YoY.
Perlambatan Net Ekspor dan Proyeksi ke Depan
Namun, di sisi lain, kontribusi net ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan pada 4Q25. Hal ini disebabkan oleh perlambatan laju pertumbuhan ekspor yang hanya mencapai +3,3% YoY, jauh tertinggal dibandingkan dengan +9,14% YoY pada 3Q25. Sementara itu, impor justru menunjukkan peningkatan signifikan sebesar +4% YoY, berbanding terbalik dengan +0,9% YoY pada kuartal sebelumnya. Data ini mengindikasikan bahwa penguatan pasar domestik, baik dari sisi investasi maupun konsumsi, menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi pada akhir tahun 2025, bukan semata-mata didorong oleh kinerja ekspor.
Tren penguatan pasar domestik ini semakin diperkuat oleh data Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia yang menunjukkan akselerasi, serta pertumbuhan kredit yang juga kian kencang. Menatap ke depan, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar +5,4% YoY pada tahun 2026. Menteri Keuangan bahkan memproyeksikan target yang lebih ambisius, yaitu di level +6% YoY, menandakan optimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Implikasi Pasar Modal dan Dinamika Supply-Demand
Tren perbaikan makroekonomi yang berkelanjutan ini diperkirakan akan memberikan dampak positif yang signifikan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Saham-saham _blue chip_, khususnya di sektor perbankan dan konsumer, diprediksi akan menjadi primadona. Fenomena ini berpotensi memicu kembalinya arus masuk investor asing (_foreign inflow_) ke pasar modal Indonesia.
Dalam konteks ini, pemahaman yang mendalam mengenai dinamika _supply_ dan _demand_ menjadi krusial bagi para pelaku pasar modal, sebagaimana ditekankan oleh ulasan Stockbitor ariefhidayatst. Konsep _support_ dan _resistance_ tidak sekadar garis statis pada grafik, melainkan representasi dari interaksi kekuatan jual dan beli yang dinamis. Mengidentifikasi kapan tekanan jual mulai melemah dan _demand_ mulai muncul adalah kunci utama dalam membaca struktur pasar, terutama di fase pasar yang menantang. _Support_ yang valid terbentuk di area di mana penurunan harga tertahan karena melemahnya _supply_ dan munculnya _demand_, bukan hanya berdasarkan level psikologis.























