Wartakita.id – Ketegangan global memuncak setelah Denmark secara tegas memperingatkan potensi runtuhnya NATO dan tatanan keamanan pasca-Perang Dunia II akibat manuver Amerika Serikat terhadap Greenland. Pernyataan ini menjadi alarm serius bagi stabilitas internasional.
Denmark: Serangan Militer AS ke Sekutu Sama Saja Menghancurkan NATO
Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, melontarkan peringatan paling keras yang pernah ada kepada Amerika Serikat terkait status Greenland. Ia menegaskan bahwa tindakan militer AS terhadap wilayah otonom yang berada di bawah Kerajaan Denmark bukanlah sekadar masalah bilateral, melainkan ancaman sistemik terhadap fondasi NATO dan seluruh tatanan keamanan global yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Pernyataan ini dipicu oleh kembali menguatnya retorika Presiden AS Donald Trump yang menyatakan bahwa Amerika Serikat “sangat membutuhkan Greenland”. Pernyataan ini muncul setelah Trump melancarkan operasi militer di Venezuela, mengindikasikan niat AS untuk memperluas pengaruhnya di wilayah Arktik yang strategis.
Greenland bukan hanya pulau es. Ia memiliki posisi vital dalam pertahanan rudal Amerika Serikat dan menjadi jalur keamanan transatlantik. Selain itu, kekayaan sumber daya mineralnya menjadi daya tarik tersendiri di tengah persaingan global.
Ancaman yang Tidak Dapat Diterima dan Penolakan Keras
Frederiksen menilai tekanan Washington telah melampaui batas kewajaran hubungan antarsekutu. “Jika Amerika Serikat memutuskan menyerang secara militer negara NATO lain, maka semuanya akan berhenti—termasuk NATO dan keamanan dunia pasca-Perang Dunia II,” ujarnya kepada TV2. Ia menekankan bahwa retorika AS yang mengabaikan kedaulatan berpotensi merobek fondasi aliansi transatlantik dan stabilitas internasional.
Prinsip kedaulatan, tegas Frederiksen, tidak dapat ditawar, bahkan oleh sekutu terdekat sekalipun. “Anda tidak bisa begitu saja masuk dan mengambil alih wilayah negara lain,” katanya, menggambarkan pendekatan Washington sebagai “tekanan yang tidak dapat diterima” dan “serangan yang tidak masuk akal terhadap komunitas internasional.”
Nuuk, ibu kota Greenland, pun tidak tinggal diam. Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, menyampaikan pernyataan tegas, “Ancaman, tekanan, dan pembicaraan tentang aneksasi tidak punya tempat dalam hubungan antarsekutu. Cukup sudah. Tidak ada lagi tekanan. Tidak ada lagi sindiran. Tidak ada lagi fantasi aneksasi.”
Dukungan Internasional dan Kesiapan Menghadapi Ketidakpastian
Menanggapi situasi ini, dukungan internasional terhadap Denmark dan Greenland menguat. Uni Eropa menegaskan komitmennya pada prinsip kedaulatan dan keutuhan wilayah. Juru bicara kebijakan luar negeri UE, Anitta Hipper, menyatakan, “Prinsip kedaulatan nasional, keutuhan wilayah, dan tidak dapat diganggu gugatnya perbatasan adalah prinsip universal, dan kami tidak akan berhenti mempertahankannya.”
Di tengah tekanan politik internal menjelang pemilihan umum, anggota parlemen Denmark asal Greenland, Aaja Chemnitz, menekankan pentingnya kesiapsiagaan. Ia menyebut pernyataan Trump sebagai “yang paling serius” dan menandai “munculnya tatanan dunia baru.”
Persaingan Arktik dan Ujian bagi NATO
Trump sendiri menolak mengesampingkan opsi tindakan lebih lanjut, bahkan menyindir kemampuan pertahanan Denmark. “Saat ini, Greenland dipenuhi kapal-kapal Tiongkok dan Rusia. Kami membutuhkan Greenland untuk alasan keamanan nasional. Denmark tidak akan mampu menangani tugas itu,” ujarnya.
Krisis ini terjadi di tengah persaingan AS, Tiongkok, dan Rusia di kawasan Arktik yang semakin memanas seiring mencairnya es dan perebutan sumber daya strategis. Dengan NATO dan Uni Eropa berdiri di belakang Denmark, krisis ini bukan hanya soal wilayah, tetapi menjadi ujian fundamental bagi ketahanan aliansi transatlantik dan masa depan tatanan keamanan global.
Tanya Jawab Seputar Peringatan Denmark
- Mengapa Denmark sangat keras memperingatkan AS soal Greenland?
Denmark melihat potensi tindakan militer AS terhadap Greenland sebagai ancaman langsung terhadap kedaulatan negara dan fondasi aliansi NATO serta stabilitas global. - Apa yang membuat Greenland begitu strategis bagi AS?
Greenland memiliki posisi vital dalam pertahanan rudal AS, jalur keamanan transatlantik, dan kekayaan sumber daya mineral yang menarik perhatian global. - Bagaimana respons Uni Eropa terhadap situasi ini?
Uni Eropa secara tegas mendukung Denmark dan Greenland, menegaskan komitmennya pada prinsip kedaulatan nasional, keutuhan wilayah, dan tidak dapat diganggu gugatnya perbatasan. - Apa dampak potensial dari ketegangan ini terhadap NATO?
Peringatan Denmark menyiratkan bahwa tindakan agresif AS terhadap negara anggota NATO dapat memicu keruntuhan aliansi dan mengancam seluruh tatanan keamanan global yang telah terbangun sejak Perang Dunia II. - Bagaimana situasi persaingan di Arktik mempengaruhi krisis ini?
Meningkatnya persaingan antara AS, Tiongkok, dan Rusia di Arktik, yang semakin terbuka karena pencairan es, menjadi latar belakang yang memperumit dan mempertinggi ketegangan diplomatik ini.
Gambar ilustrasi bendera AS dan Greenland dibuat dengan AI. Bendera Greenland (disebut Erfalasorput atau “bendera kami”) terdiri dari dua garis horizontal sama besar, putih di atas dan merah di bawah, dengan cakram lingkaran terbagi dua di sisi kiri (tiang bendera): bagian atas berwarna merah dan bagian bawah berwarna putih, melambangkan matahari terbenam di atas gunung es atau es mengapung.























