Aksi demonstrasi menuntut pemekaran Kabupaten Luwu Tengah dan pembentukan Provinsi Luwu Raya di Walenrang, Kabupaten Luwu, berdampak serius pada pasokan bahan bakar minyak (BBM) dan memicu lonjakan harga di Luwu Raya.
- Demonstrasi pemekaran Luwu Raya berlangsung sejak Jumat (23 Januari 2026) hingga Senin (26 Januari 2026).
- Aksi tersebut menyebabkan kelumpuhan total arus lalu lintas di Kabupaten Luwu hingga Luwu Utara.
- Blokade jalan menggunakan pohon tumbang, truk, dan ekskavator, bahkan diperkuat pondasi batu dan semen, menghentikan distribusi BBM.
- SPBU di Luwu Utara melaporkan pasokan BBM terakhir diterima pada Jumat pagi, memicu kelangkaan dan kenaikan harga bensin eceran hingga 35.000 rupiah per liter.
- Aparat kepolisian dan pemerintah daerah berupaya melakukan mediasi untuk membuka kembali jalur utama.
Demonstrasi Pemekaran Berdampak Luas pada Pasokan BBM
Aliansi Wija To Luwu menggelar demonstrasi besar-besaran sejak Jumat (23 Januari 2026) hingga Senin (26 Januari 2026) di Walenrang, Kabupaten Luwu. Tuntutan utama aksi ini adalah pemekaran Kabupaten Luwu Tengah dan pembentukan Provinsi Luwu Raya. Namun, aksi yang seharusnya menyuarakan aspirasi publik ini justru menimbulkan dampak negatif yang signifikan terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari, terutama terkait ketersediaan bahan bakar minyak (BBM).
Kronologi dan Metode Blokade yang Melumpuhkan
Sejak hari pertama demonstrasi, arus lalu lintas di jalur utama Trans Sulawesi, yang menghubungkan Kabupaten Luwu hingga Luwu Utara, lumpuh total. Para pengunjuk rasa menggunakan berbagai material berat untuk memblokade jalan, termasuk pohon tumbang, truk, dan alat berat seperti ekskavator. Parahnya, di titik strategis seperti depan Jembatan Baliase, yang merupakan perbatasan Kabupaten Luwu, blokade diperkuat dengan pondasi batu dan semen, menyulitkan upaya pembukaan paksa.
Dampak Langsung pada Distribusi Logistik dan Kelangkaan BBM
Blokade yang masif ini secara langsung menghentikan distribusi logistik, terutama untuk pasokan BBM dan elpiji. Mobil tangki pengangkut bahan bakar tidak dapat melintas, menyebabkan terhentinya pasokan ke sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Luwu Raya sejak akhir pekan lalu. Aidil, seorang petugas SPBU Pertamina 74.92903 di Kecamatan Baebunta, Kabupaten Luwu Utara, mengonfirmasi bahwa SPBU-nya terakhir menerima pasokan pada Jumat (23 Januari 2026) pagi, sebelum aksi demonstrasi dimulai. Ia berharap aksi segera berakhir agar masyarakat tidak semakin kesulitan mendapatkan BBM dan gas.
Lonjakan Harga BBM Picu Kekhawatiran Masyarakat
Situasi kelangkaan BBM yang disebabkan oleh blokade jalan ini tak pelak lagi memicu lonjakan harga yang drastis di pasaran. Dewi Ratna Sari, seorang warga Luwu Utara, melaporkan bahwa harga bensin eceran yang biasanya berkisar Rp13.000 per liter kini melonjak tajam menjadi Rp20.000 hingga Rp35.000 per botol. Ia menyayangkan oknum-oknum yang memanfaatkan situasi untuk menaikkan harga, padahal stok mereka kemungkinan sudah ada sebelum demonstrasi.
Mariati, seorang penjual bensin eceran di Luwu Utara, mengaku terpaksa menaikkan harga menjadi Rp25.000 per botol karena kesulitan mendapatkan pasokan baru dan tingginya harga pengambilan di tingkat distributor. “Stok susah sekali didapat, apalagi mobil tangki tidak bisa lewat,” ungkapnya, menggambarkan betapa sulitnya situasi di lapangan.
Upaya Mediasi Berlangsung
Hingga berita ini diturunkan, aparat kepolisian bersama pemerintah daerah setempat terus berupaya melakukan mediasi dengan massa aksi. Tujuan utama dari upaya ini adalah agar jalur utama segera dibuka, sehingga distribusi logistik, termasuk BBM, dapat kembali normal dan meringankan beban masyarakat yang terdampak.























