Pada Minggu, 18 Januari 2026, Pulau Jawa diprediksi akan diselimuti hujan merata. Fenomena ini dipicu oleh adanya awan tebal yang terpantau di berbagai wilayah, mengindikasikan sistem konvektif yang aktif.
Poin Penting
- Hujan diperkirakan turun merata di seluruh Pulau Jawa pada Minggu, 18 Januari 2026.
- Penyebab utama adalah meluasnya awan tebal yang mengindikasikan sistem konvektif di atas pulau.
- Konvergensi angin yang terbentuk akibat sistem konvektif dapat meningkatkan pembentukan awan hujan.
- Fenomena ini merupakan hasil pertemuan antara ‘cold surge’ dari Benua Asia dan ‘southerly surge’ dari bibit siklon tropis 96S.
- Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) telah diluncurkan di Jawa Tengah untuk mengurangi intensitas hujan dan memitigasi dampak banjir serta longsor.
Penyebab Awan Hujan Meluas di Pulau Jawa
Peneliti di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, menjelaskan bahwa awan tebal yang terpantau merata di atas Pulau Jawa menjadi indikasi utama hujan yang meluas. Pagi itu, terdeteksi tiga sistem konvektif: dua awan tebal meluas di utara Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, serta satu lagi di selatan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sistem-sistem konvektif ini, menurut Erma, menciptakan fenomena konvergensi atau daerah pertemuan angin yang meluas di Jawa, khususnya di bagian barat dan tengah. Konvergensi adalah salah satu faktor krusial yang dapat memicu dan meningkatkan pembentukan awan-awan hujan.
Pertemuan Dua Fenomena Iklim Kunci
Meluasnya awan hujan yang terjadi dan bertahan selama seminggu terakhir ini disebabkan oleh interaksi dua fenomena meteorologi penting: ‘cold surge’ dan ‘southerly surge’.
- Cold Surge: Fenomena ini berasal dari benua Asia dan berperan memperkuat monsun barat. Udara dingin yang bergerak ke selatan ini membawa perubahan signifikan pada pola atmosfer.
- Southerly Surge: Fenomena ini terkait dengan prakondisi badai tropis di Samudera Hindia. Saat ini, prakondisi tersebut telah berkembang menjadi bibit siklon tropis dengan kode 96S, yang secara tidak langsung memengaruhi pola cuaca di wilayah Jawa.
Kombinasi kedua fenomena inilah yang menciptakan kondisi atmosfer yang mendukung pembentukan dan penguatan awan hujan secara luas di Pulau Jawa.
Operasi Modifikasi Cuaca untuk Mitigasi Bencana
Menghadapi dampak curah hujan yang tinggi, termasuk banjir dan tanah longsor yang melanda sedikitnya empat kabupaten di Jawa Tengah (Kudus, Pati, Jepara, dan Demak), Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah meluncurkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Sebanyak tiga armada pesawat dikerahkan, dua di antaranya dari BNPB dan satu dari Provinsi Jawa Tengah, untuk melaksanakan OMC.
Kepala BNPB, Suharyanto, menegaskan bahwa tujuan OMC bukanlah untuk menghentikan hujan sepenuhnya, melainkan untuk mengurangi intensitas dan debit curah hujan. Diharapkan, hujan yang semula turun lebat hingga ekstrem dapat berubah menjadi sedang hingga lebat namun dengan durasi yang lebih singkat. Hal ini penting untuk mencegah penambahan parah kondisi banjir di wilayah yang terdampak, meskipun langit masih terlihat mendung.
Banjir yang terjadi di sejumlah daerah ini dilaporkan telah menimbulkan kerusakan infrastruktur signifikan, seperti jalan dan jembatan yang terendam bahkan putus. Laporan korban jiwa juga turut tercatat, dengan dampak bencana yang paling menonjol terjadi di Kabupaten Pati dan Jepara.























