Di tengah riuh rendah pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, sebuah narasi yang mengkhawatirkan muncul di ranah publik, mengklaim bahwa ketergantungan pada pajak justru berujung pada kebangkrutan, bukan kemakmuran. Klaim ini, yang diperkuat dengan penyajian data parsial, secara tegas bertentangan dengan realitas ekonomi global dan strategi fiskal negara-negara maju. Wartakita.id melakukan analisis mendalam untuk mengurai benang kusut klaim tersebut, menyoroti fakta-fakta berbasis data OECD dan strategi reformasi struktural yang tengah ditempuh Indonesia guna mewujudkan kemakmuran yang berkelanjutan dan akuntabel.
- Klaim “negara makmur tidak mengandalkan pajak” dibantah oleh data OECD; negara maju justru menggunakan pajak tinggi untuk kesejahteraan.
- Denmark dan Swedia, contoh negara makmur, memiliki rasio pajak terhadap PDB tinggi namun diiringi layanan publik berkualitas dan ketimpangan rendah.
- APBN 2026 diproyeksikan masih mengandalkan pajak, namun pemerintah berupaya mengurangi ketergantungan melalui optimalisasi PNBP dan reformasi BUMN.
- Reformasi BUMN bertujuan meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan efisiensi, bukan sekadar “sapi perahan” politis.
- Tantangan Indonesia bukan pada besaran pajak, melainkan efisiensi penggunaannya untuk pertumbuhan ekonomi inklusif.
Wartakita.id – Sebuah unggahan yang beredar luas di platform X baru-baru ini melontarkan klaim yang provokatif: “survei sudah membuktikan tidak ada negara yang makmur yang mengandalkan pajak, justru yang ada adalah kebangkrutan.” Narasi ini diperkuat dengan penyajian pie chart dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan dominasi pajak sebesar 82,4% dari total pendapatan negara, yang kemudian dikaitkan dengan risiko kebangkrutan fiskal Indonesia.
Lebih jauh, kritik tajam dilayangkan pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang disebut sebagai “sapi perahan” akibat politisasi, serta mengemukakan ketidakjelasan dalam pengelolaan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan dana tilang. Klaim ini, yang beredar di tengah dinamika pembahasan APBN 2026, menimbulkan pertanyaan serius dan memerlukan tinjauan kritis berdasarkan data dan fakta yang valid.
Analisis Struktur Pendapatan Negara dalam APBN 2026: Pajak Tetap Dominan, Namun Reformasi Sedang Berjalan
Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 118 Tahun 2025 tentang Rincian APBN 2026 memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai struktur pendapatan negara. Ditargetkan mencapai Rp 3.153,6 triliun, terjadi peningkatan signifikan dari target Rp 2.866,9 triliun pada tahun 2025. Dalam kerangka ini, penerimaan pajak memang masih memegang peranan sentral, dengan proyeksi mencapai Rp 2.357,7 triliun hingga Rp 2.693,7 triliun, atau berkisar antara 75 hingga 85% dari total pendapatan negara. Komponen utama penerimaan pajak ini mencakup Pajak Penghasilan (PPh) Badan, PPh Pasal 21, dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), yang diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan sebesar 13,5% dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) ditargetkan berada di kisaran Rp 455 triliun hingga Rp 459,2 triliun, yang sebagian besar bersumber dari pengelolaan sumber daya alam seperti mineral dan batu bara. Angka hibah yang relatif kecil, hanya sekitar Rp 0,7 triliun, semakin menegaskan bahwa ketergantungan Indonesia pada penerimaan pajak masih cukup tinggi. Pemerintah optimis bahwa target pendapatan ini dapat tercapai melalui berbagai strategi, termasuk optimalisasi sistem perpajakan dan upaya peningkatan iklim investasi, meskipun tantangan ketidakpastian global tetap membayangi. Dalam konteks fiskal, defisit APBN direncanakan sebesar 2,68% dari Produk Domestik Bruto (PDB), atau setara dengan Rp 689,15 triliun, dengan total belanja negara yang diproyeksikan mencapai Rp 3.842,7 triliun.
Penting untuk dicatat bahwa pie chart BPS yang dikutip dalam unggahan tersebut kemungkinan merujuk pada data lama atau estimasi yang belum mencerminkan proyeksi APBN 2026 secara utuh. Meskipun proporsi pajak dalam struktur pendapatan negara tetap signifikan, target pendapatan secara absolut mengalami peningkatan. Isu mengenai ketidakjelasan penggunaan PNBP dan dana tilang yang diangkat dalam unggahan tersebut, sejatinya, mencerminkan tantangan yang lebih luas terkait transparansi dan efisiensi pengelolaan anggaran. Fenomena ini kerap dikaitkan dengan potensi kebocoran, korupsi, serta alokasi dana yang kurang efektif, seperti pada proyek-proyek infrastruktur yang tidak memiliki kejelasan tujuan atau manfaat yang optimal bagi publik.
Klaim Survei vs. Data OECD: Negara Makmur Justru Bergantung pada Pajak Tinggi
Klaim yang menyatakan bahwa negara makmur tidak mengandalkan pajak merupakan pandangan yang keliru dan bertentangan langsung dengan data empiris dari Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD). Sebaliknya, negara-negara Nordik seperti Denmark dan Swedia, yang kerap dijadikan tolok ukur kemakmuran global, justru memiliki struktur pendapatan negara yang sangat bergantung pada penerimaan pajak yang tinggi. Model negara-negara ini membuktikan bahwa pajak yang tinggi dapat menjadi instrumen efektif untuk membiayai layanan publik berkualitas tinggi, mulai dari pendidikan gratis, layanan kesehatan universal, hingga sistem pensiun yang kokoh.
Sebagai contoh, pada tahun 2025, rasio penerimaan pajak terhadap PDB di Denmark tercatat mencapai 46,9%, sementara Swedia menyusul dengan 42,6%. Tingkat penerimaan pajak yang tinggi ini tidak serta-merta menghambat pertumbuhan ekonomi; justru, kedua negara ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang stabil dan memiliki indeks kesejahteraan masyarakat yang sangat tinggi. Data OECD juga mencatat bahwa negara-negara Nordik ini memiliki tingkat mobilitas sosial yang tinggi dan disparitas pendapatan yang rendah, sebuah indikator kemakmuran yang merata.
Di sisi lain, negara-negara yang menerapkan tarif pajak rendah, seperti Meksiko yang memiliki rasio pajak terhadap PDB hanya sekitar 16,7%, justru seringkali dihadapkan pada tantangan defisit infrastruktur dan keterbatasan dalam menyediakan layanan publik yang memadai. Hal ini menunjukkan adanya korelasi positif antara tingkat penerimaan pajak dan kemampuan negara dalam membangun dan memelihara infrastruktur serta menyediakan jaring pengaman sosial yang kuat, yang pada gilirannya berkontribusi pada kemakmuran masyarakat.
Di Indonesia, situasi yang dihadapi sedikit berbeda. Rasio pajak terhadap PDB kita masih tergolong rendah, berkisar antara 11-12%. Namun, ketergantungan APBN pada pajak justru tinggi, sebagian disebabkan oleh minimnya kontribusi dari PNBP dan hibah. Ekonom seperti Josua Pardede dari Permata Bank menekankan bahwa akar permasalahan di Indonesia bukanlah besaran tarif pajak itu sendiri, melainkan pada efisiensi dan efektivitas penggunaan penerimaan pajak untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif. Ini menyiratkan bahwa fokus seharusnya tidak hanya pada peningkatan penerimaan pajak, tetapi juga pada bagaimana dana tersebut dikelola dan dialokasikan secara optimal.
Kritik atas BUMN sebagai ‘Sapi Perahan’: Menuju Tata Kelola yang Transparan dan Akuntabel
Unggahan yang beredar juga menyoroti isu krusial mengenai BUMN yang dianggap terpolitisasi, dengan gaji pegawai yang tinggi namun kontribusi yang minim, bahkan seringkali merugi. Kritik ini sejalan dengan kekhawatiran publik yang mendalam mengenai tata kelola dan transparansi di sektor BUMN. Namun, pemerintah telah menunjukkan langkah konkret untuk mengatasi permasalahan ini melalui reformasi struktural. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025 telah disahkan untuk merevisi Undang-Undang BUMN, yang mencakup penghapusan Kementerian BUMN dan pembentukan entitas baru seperti Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) dan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Reformasi ini dirancang untuk meminimalkan intervensi politik, meningkatkan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (corporate governance), serta memperkuat aspek transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan BUMN. Presiden Prabowo Subianto sendiri telah menggarisbawahi target ambisius untuk mengurangi jumlah BUMN dari sekitar 1.000 menjadi 200 entitas, serta menghapus mekanisme tantiem bagi dewan komisaris demi mendorong efisiensi operasional. Danantara, sebagai salah satu entitas baru, akan memiliki fokus strategis pada restrukturisasi BUMN-BUMN berskala besar seperti Garuda Indonesia, Krakatau Steel, dan Telkom. Penekanan akan diberikan pada adopsi teknologi terkini dan pengembangan diferensiasi bisnis agar BUMN dapat bersaing secara global.
Mengingat total aset BUMN yang mencapai lebih dari separuh PDB Indonesia, perbaikan dalam tata kelola dan efisiensi operasional BUMN menjadi sangat krusial untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan. Reformasi ini diharapkan dapat mengubah citra BUMN dari sekadar “sapi perahan” menjadi mesin penggerak ekonomi yang profesional, efisien, dan akuntabel.
Kesimpulan: Reformasi Fiskal sebagai Kunci Menuju Kesejahteraan Jangka Panjang
Perdebatan mengenai ketergantungan pajak dalam APBN 2026 ini menegaskan pentingnya diskusi publik yang didasarkan pada fakta dan data yang akurat. Meskipun pajak memang akan terus menjadi tulang punggung pendapatan negara dalam APBN 2026, model negara-negara makmur seperti Denmark dan Swedia secara gamblang membuktikan bahwa penerapan tarif pajak yang tinggi dapat berjalan selaras dengan kemakmuran, asalkan dikelola dengan prinsip transparansi dan efisiensi. Di Indonesia, upaya reformasi BUMN dan optimalisasi penerimaan dari sektor lain, seperti PNBP, menjadi kunci strategis untuk mengurangi potensi risiko kebangkrutan fiskal dan membangun fondasi ekonomi yang lebih kokoh.
Pemerintah diharapkan terus berkomitmen untuk mendorong akuntabilitas dalam setiap aspek pengelolaan pendapatan negara, memastikan bahwa setiap rupiah yang diterima benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat. Wartakita.id akan terus memantau perkembangan kebijakan fiskal dan reformasi struktural yang berkaitan dengan APBN 2026, menyajikan analisis mendalam demi pemahaman publik yang lebih baik. Sumber data yang digunakan dalam artikel ini mencakup Kementerian Keuangan Republik Indonesia, OECD, dan berbagai sumber resmi lainnya yang kredibel.
























