Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk melancarkan serangan terhadap Iran disebut-sebut dipicu oleh lobi intensif dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang menjadi titik krusial dalam penentuan langkah militer AS.
Faktor Pendorong Serangan AS ke Iran
Beberapa sumber terpercaya mengungkapkan bahwa PM Israel Benjamin Netanyahu melakukan panggilan telepon krusial kepada Presiden AS Donald Trump 48 jam sebelum serangan yang dijadwalkan pada 28 Februari. Panggilan inilah yang menjadi momentum utama bagi Netanyahu untuk melobi Trump agar AS terlibat dalam konfrontasi militer dengan Iran.
Argumen Kunci Benjamin Netanyahu
Dalam percakapan tersebut, Netanyahu dilaporkan menyampaikan bahwa tanggal 28 Februari merupakan kesempatan emas untuk melenyapkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Informasi intelijen yang dimiliki Israel, dan juga dibagikan kepada Trump, mengindikasikan bahwa Khamenei akan menghadiri pertemuan dengan para bawahannya di kediamannya di Teheran pada hari tersebut.
Lebih lanjut, Netanyahu berusaha meyakinkan Trump dengan menekankan bahwa ini adalah momen yang tepat untuk membalas upaya Iran yang diduga merencanakan pembunuhan terhadap Trump saat ia masih menjadi kandidat presiden pada tahun 2024. Insiden ini merupakan balasan atas tewasnya komandan tertinggi IRGC, Qassem Soleimani, oleh drone AS pada Januari 2020 atas perintah Trump.
Netanyahu juga menyoroti potensi Trump untuk mencetak sejarah dengan mengakhiri kepemimpinan teokratis Iran yang dianggap sebagai sumber terorisme dan ketidakstabilan global sejak tahun 1979.
Motivasi Tambahan Donald Trump
Selain argumen yang disampaikan oleh Netanyahu, keputusan Trump juga dipengaruhi oleh keberhasilan operasi militer AS di Venezuela pada 3 Januari yang berhasil menggulingkan rezim yang dianggap musuh lama Washington. Trump disebut-sebut ingin mereplikasi kesuksesan tersebut dalam menghadapi Iran.
Demonstrasi anti-pemerintah yang sedang berlangsung di Iran juga menambah motivasi Trump. Ia dilaporkan menerima masukan bahwa, meskipun kemungkinannya kecil, penyingkiran para pemimpin Iran dapat membuka jalan bagi pemerintahan yang lebih moderat.
Penegasan, Bantahan, dan Ambiguitas
Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menyatakan bahwa Operasi Epic Fury AS ke Iran dirancang untuk menghancurkan kemampuan militer rezim Teheran, termasuk rudal balistik, kapasitas produksi, angkatan laut, dan pencegahan perolehan senjata nuklir. Namun, ia enggan mengonfirmasi adanya percakapan telepon antara Trump dan Netanyahu.
Baik kantor Netanyahu maupun perwakilan Iran di PBB memilih untuk tidak memberikan komentar. Dalam jumpa pers terpisah, Netanyahu membantah keras klaim bahwa Israel menyeret AS ke dalam konflik dengan Iran, menyebutnya sebagai “berita palsu” dan meragukan adanya pihak yang dapat mendikte keputusan Presiden Trump.
Trump sendiri secara terpisah menyatakan bahwa keputusan untuk menyerang Iran adalah murni keputusannya sendiri. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sempat mengindikasikan bahwa dendam pribadi Trump atas upaya pembunuhan terhadap dirinya menjadi salah satu motif di balik Operasi Epic Fury.
Prediksi dan Pandangan Intelijen
Laporan ini tidak mengklaim Netanyahu berhasil memaksa Trump, namun menekankan pengaruh persuasif sang PM terhadap keputusan akhir Trump. Namun, pandangan bahwa kematian para pemimpin Iran akan menghasilkan pemerintahan yang lebih lunak tidak dianut oleh CIA. Badan intelijen AS memprediksi bahwa jika Khamenei tewas, ia kemungkinan akan digantikan oleh sosok yang lebih garis keras, seperti putranya, Ayatollah Mojtaba Khamenei, yang dinilai memiliki sikap lebih anti-Amerika.























