Di tengah Samudra Hindia, sebuah kisah tentang ketokohan dan perjuangan melampaui batas geografis terbentang. Syekh Yusuf al-Taj-al-Makassari (1626-1699), seorang ulama besar dari Nusantara, menjadi bukti nyata bagaimana seorang individu dapat menorehkan jejak abadi dalam sejarah dua benua, serta memperkaya khazanah budaya dunia.
- Syekh Yusuf al-Taj-al-Makassari, ulama Tarekat Khalwatiyah, adalah pahlawan nasional Indonesia dan tokoh penting di Afrika Selatan.
- UNESCO memperingati 400 tahun kelahirannya melalui Program Anniversaries, menyoroti perannya dalam diplomasi budaya antara Indonesia dan Afrika Selatan.
- Nelson Mandela menyebut Syekh Yusuf sebagai “salah seorang putra Afrika terbaik” dan sumber inspirasi perjuangan anti-apartheid.
- Perjalanan hidup Syekh Yusuf mencakup penuntut ilmu di Timur Tengah, penyebaran ajaran Tarekat Khalwatiyah di Nusantara, pengasingan oleh VOC, dan dakwah di Afrika Selatan.
- Karya-karyanya yang ditulis dalam bahasa Arab, Melayu, dan Bugis-Makassar menjadi warisan intelektual yang terus lestari.
- Penghargaan Order of the Companions of Oliver Reginald Tambo in Gold dari Afrika Selatan mengukuhkan kontribusinya.
- Rencana pembangunan Indonesian Cultural Center Syekh Yusuf al-Taj-al-Makassari di Cape Town memperkuat hubungan diplomasi budaya kedua negara.
Syekh Yusuf: Jejak Sang Ulama Lintas Benua
Kisah Syekh Yusuf al-Taj-al-Makassari adalah narasi tentang seorang pejuang spiritual dan intelektual yang pengaruhnya merasuk jauh melampaui tanah kelahirannya di Gowa, Sulawesi Selatan. Lahir pada tahun 1626 dalam lingkungan bangsawan, perjalanan intelektualnya membawanya menuntut ilmu hingga ke Yaman, Mekkah, Madinah, dan Damaskus. Pengembaraan ini tidak hanya memperkaya pengetahuannya tetapi juga membentuk pandangan dunia dan metodologi dakwahnya.
Di Nusantara, Syekh Yusuf dikenal sebagai pelopor Tarekat Khalwatiyah, sebuah tarekat sufi yang diperkenalkannya dan mendapatkan tempat di hati banyak pengikut. Selama periode penting di Banten (1670–1683), beliau tidak hanya menjadi penasihat spiritual Sultan Ageng Tirtayasa, tetapi juga menghasilkan karya-karya tulis yang monumental, termasuk Zubdat al-Asrār fī Tahqīq Ba‘ḍ Masyārib al-Akhyār.
Meskipun ditangkap dan diasingkan oleh VOC ke Sri Lanka pada tahun 1683, ajaran dan pengaruh Syekh Yusuf tidak padam. Para muridnya gigih menyebarkan ajaran beliau, khususnya di Makassar dan wilayah Bugis. Bukti keberlanjutan pengaruhnya terlihat dari naskah-naskah yang disalin berabad-abad kemudian atas perintah penguasa lokal, menunjukkan betapa dalamnya akar spiritual yang ditanamkan Syekh Yusuf.
Karya Intelektual dan Penyebaran Ajaran Islam
Selama masa pengasingan di Sri Lanka, Syekh Yusuf terus berkarya dan membangun jaringan keilmuan. Bersama ulama India seperti Sidi Matilaya dan Ibrahim Minhan, beliau menghasilkan karya penting seperti Safīnat an-Najāh. Di Sri Lanka, beliau juga menulis sedikitnya 17 karya, beberapa di antaranya mengidentifikasi “Sarandib” atau “Sailāniyyah” sebagai lokasi penulisan. Karya-karya ini, seperti Al-Nafḥat as-Sailāniyyah dan Barakah as-Sailāniyyah, sering kali lahir dari inspirasi pertemuan dengan ulama lain atau permintaan sahabat.
Pilihan Syekh Yusuf dalam menulis menggunakan bahasa Arab, Melayu, dan Bugis-Makassar mencerminkan pemahamannya yang mendalam terhadap keragaman linguistik dan budaya. Melalui karya-karyanya, beliau memperkenalkan konsep tasawuf seperti Iḥāṭah (Tuhan meliputi segala sesuatu) dan Ma‘iyyah (Tuhan menyertai segala sesuatu), yang menekankan keesaan mutlak Allah. Konsep-konsep ini menjadi ciri khas ajaran tasawuf beliau.
Dampak Spiritual di Afrika Selatan
Pengasingan terakhir Syekh Yusuf membawanya ke Zandvliet, yang kini dikenal sebagai Macassar di Cape Town, Afrika Selatan. Di sini, beliau tidak lagi aktif menulis, namun memfokuskan energinya untuk membimbing para pengikut dan membangun komunitas muslim yang terdiri dari budak dan orang buangan. Tempat tinggalnya menjadi pusat spiritual dan sosial yang menguatkan martabat kaum tertindas serta menumbuhkan solidaritas.
Peran Syekh Yusuf di Afrika Selatan sangat signifikan dalam membangun struktur sosial-keagamaan awal bagi komunitas Muslim di sana. Dakwahnya menjangkau berbagai lapisan masyarakat, termasuk para budak, meninggalkan warisan yang terus hidup hingga kini. Di Indonesia, ajaran Syekh Yusuf melahirkan Jam’iyyah Tarekat Khalwatiyah yang masih aktif, terutama di Sulawesi Selatan.
Syekh Yusuf: Jembatan Diplomasi Budaya Indonesia-Afrika Selatan
Pengakuan UNESCO terhadap Syekh Yusuf al-Taj-al-Makassari sebagai tokoh yang dirayakan bukanlah kebetulan. Hal ini menggarisbawahi peran krusialnya dalam menenun hubungan historis antara Indonesia dan Afrika Selatan. Nelson Mandela, ikon perjuangan anti-apartheid, secara terbuka mengakui Syekh Yusuf sebagai sumber inspirasi. Mandela bahkan menyebutnya sebagai “salah seorang putra Afrika terbaik,” menyoroti bagaimana ajaran dan ketokohan Syekh Yusuf mampu melintasi batas agama, bangsa, dan samudra.
Keterkaitan antara kedua bangsa ini berakar jauh sebelum era diplomasi modern. Syekh Yusuf, yang diasingkan ke Cape Town pada tahun 1694, menjadi salah satu jembatan awal hubungan tersebut. Komunitas Cape Malay di Afrika Selatan, yang memiliki akar keturunan Indonesia, adalah bukti nyata ikatan persaudaraan yang kuat antara kedua negara.
Inspirasi bagi Perjuangan Kemerdekaan dan Identitas Global
Pengaruh Syekh Yusuf terasa begitu dalam bagi Nelson Mandela. Keduanya sama-sama mengalami pahitnya pengasingan karena perjuangan melawan penindasan. Kekuatan spiritual dan ketahanan Syekh Yusuf dalam menghadapi cobaan menjadi sumber kekuatan bagi Mandela dalam melawan sistem apartheid yang brutal. Mandela secara tegas menyatakan bahwa Syekh Yusuf adalah model perlawanannya.
Bahkan, kecintaan Mandela terhadap Syekh Yusuf turut memengaruhi apresiasinya terhadap budaya Indonesia. Setelah menerima kemeja batik pertamanya saat kunjungan resmi ke Jakarta pada tahun 1990, Mandela menjadikan batik sebagai bagian dari identitasnya, sering mengenakannya dalam acara resmi, bahkan membawanya ke kancah internasional. Batik Indonesia pun semakin mendunia berkat dukungannya.
Menjaga Warisan, Membangun Masa Depan
Dalam rangka memperingati 400 tahun Syekh Yusuf dan mempererat hubungan kedua negara, Kementerian Kebudayaan Indonesia merencanakan pembangunan Indonesian Cultural Center Syekh Yusuf al-Taj-al-Makassari di Cape Town. Pusat kebudayaan ini akan menjadi wadah strategis untuk memperkuat hubungan antar bangsa melalui seni, bahasa, pendidikan, dan pertukaran nilai-nilai kemanusiaan.
Pusat budaya ini tidak hanya berfungsi untuk menjaga dan melestarikan warisan Syekh Yusuf, tetapi juga untuk mempresentasikan kontribusi Indonesia dalam sejarah Afrika Selatan. Lebih dari itu, ini adalah upaya untuk meningkatkan citra Indonesia di kancah internasional sebagai bangsa yang menjunjung perdamaian, toleransi, dan solidaritas global, serta membangun ruang interaksi lintas budaya yang berharga. Pembangunan ini merupakan investasi dalam diplomasi budaya yang kuat untuk masa depan, sebuah jembatan persaudaraan abadi antara Indonesia dan Afrika Selatan.























