MAKASSAR, WARTAKITA.ID – Tahun 2025 menjadi penanda ironi tajam dalam lanskap kesehatan Sulawesi Selatan. Di satu sisi, provinsi ini dengan bangga meresmikan Makassar International Health Hub, sebuah rumah sakit wisata medis berteknologi canggih senilai triliunan rupiah di kawasan Centre Point of Indonesia (CPI), Makassar.
Namun, hanya beberapa kilometer jauhnya, di kabupaten-kabupaten pelosok seperti Jeneponto dan Enrekang, krisis stunting dan gizi buruk masih menjadi momok yang tak terpecahkan, menyoroti kesenjangan akses kesehatan yang kian menganga.
Peresmian Makassar International Health Hub pada pertengahan tahun ini menandai ambisi Sulawesi Selatan untuk memproklamirkan diri sebagai “Hub Wisata Medis Indonesia Timur”.
Fasilitas kesehatan megah ini dirancang untuk menyaingi layanan medis kelas dunia di Penang atau Singapura, menawarkan teknologi mutakhir seperti terapi sel punca dan bedah robotik. Investasi kolosal yang ditanamkan diharapkan mampu menarik kembali devisa yang sebelumnya mengalir ke luar negeri untuk layanan kesehatan premium.
“Uang triliunan yang dulu lari ke luar negeri, kini berputar di Makassar,” demikian klaim Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan dalam rilis resminya, menggarisbawahi optimisme pemerintah terhadap dampak ekonomi dan citra regional dari proyek prestisius ini.
Kehadiran rumah sakit ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan medis elit dan menengah ke atas di Indonesia bagian timur, sekaligus mengangkat reputasi Makassar sebagai kota modern dengan fasilitas kelas dunia.
Namun, di balik gemerlap ambisi tersebut, realitas kesehatan masyarakat di daerah pedalaman Sulawesi Selatan jauh dari kata ideal. Hanya berjarak sekitar 90 kilometer ke arah selatan dari kemegahan CPI, Kabupaten Jeneponto masih berjuang melawan masalah stunting yang serius.
Data terbaru, meskipun menunjukkan penurunan dibandingkan tahun 2024, angka stunting di wilayah ini tetap berada di atas ambang batas yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Investigasi mendalam yang dilakukan oleh WartaKita.id menemukan bahwa akar masalah di Jeneponto tidak hanya terbatas pada asupan gizi. Kemarau panjang yang melanda wilayah ini sepanjang tahun 2025 telah memperparah kondisi, menyebabkan kesulitan akses air bersih yang fundamental bagi kesehatan dan sanitasi.
Keterbatasan air bersih secara langsung berdampak pada kebersihan personal, persiapan makanan yang higienis, dan pada akhirnya, memperburuk risiko stunting dan penyakit infeksi pada anak-anak.
Situasi serupa juga terjadi di Kabupaten Enrekang, sebuah wilayah yang ironisnya dikenal sebagai lumbung sayur-mayur Sulawesi Selatan. Meskipun memiliki potensi sumber pangan yang melimpah, kasus gizi buruk masih menghantui balita di beberapa wilayahnya. Hal ini mengindikasikan bahwa ketersediaan pangan secara regional tidak serta-merta menjamin akses dan distribusi gizi yang merata hingga ke tingkat individu, terutama bagi kelompok rentan.
Kesenjangan yang mencolok ini menimbulkan pertanyaan fundamental mengenai prioritas pembangunan kesehatan di Sulawesi Selatan. Di satu sisi, para elit dan mereka yang mampu membayar premi asuransi platinum dapat menikmati layanan kesehatan tercanggih tanpa perlu bepergian jauh. Di sisi lain, balita di pelosok-pelosok desa masih kesulitan mendapatkan akses terhadap kebutuhan dasar seperti vaksinasi rutin, air bersih, dan asupan gizi yang memadai.
Tahun 2025, dengan segala kemajuan dan kontrasnya, menyajikan sebuah pelajaran penting: membangun infrastruktur fisik berupa gedung rumah sakit megah mungkin relatif lebih mudah dicapai dengan investasi besar.
Namun, tantangan sesungguhnya terletak pada pembangunan sistem kesehatan yang adil dan merata, yang mampu menjangkau setiap lapisan masyarakat, dari pusat kota hingga ke pelosok pedesaan terjauh.
Ambisi untuk menjadi “Kota Dunia” dan “Hub Wisata Medis” akan terasa hampa jika fondasi kesehatan dasar masyarakatnya masih rapuh dan penuh ketimpangan. Realitas ini menuntut evaluasi ulang komprehensif terhadap strategi kesehatan publik dan alokasi sumber daya di Sulawesi Selatan.























