Sabtu pagi, 22 November 2025, langit Makassar mendadak tegang. Dua jet tempur Sukhoi Su-27 TNI AU dari Lanud Hasanuddin mencegat sebuah pesawat asing tak dikenal. Pesawat itu dipaksa mendarat darurat di Bandara Sultan Hasanuddin. Insiden ini sontak menjadi perbincangan hangat di media sosial, diperkuat dengan beredarnya video amatir.
Peristiwa menegangkan ini melibatkan pilot Sukhoi, Mayor Budi Santoso, dan rekannya. Mereka berhadapan dengan sebuah pesawat Boeing 737 milik perusahaan asal China yang identitasnya misterius. Otoritas Bandara Sultan Hasanuddin, dipimpin Dirut APT, segera mengambil alih situasi di darat.
Pesawat asing tersebut diduga melanggar wilayah udara Indonesia tanpa izin. Upaya komunikasi radio dari TNI AU tidak mendapat respons. Hal ini memicu reaksi cepat dari pihak militer. Sukhoi pun dikerahkan untuk melakukan intersepsi dan mengawal pesawat tersebut.
Pesawat asing itu akhirnya mendarat dengan selamat pada pukul 08:30 WITA. Lokasi intersepsi terjadi di ruang udara sekitar 50 mil utara Makassar, Sulawesi Selatan. Insiden ini terjadi bertepatan dengan akhir pekan yang biasanya ramai lalu lintas udara, menjelang libur Natal.
Mengapa Pesawat Asing Melanggar Wilayah Udara?
Motif di balik pelanggaran wilayah udara ini masih diselidiki. Ada dugaan kuat terkait misi spionase atau penyelundupan. Namun, pilot pesawat asing tersebut mengklaim insiden ini disebabkan oleh kesalahan navigasi semata.
Ketegangan di Laut China Selatan saat ini turut memicu kecurigaan. Wilayah tersebut sering menjadi titik panas geopolitik. Keberadaan pesawat asing tak dikenal di dekat perbatasan Indonesia tentu meningkatkan kewaspadaan militer.
Proses Intersepsi dan Penyelidikan
Sistem radar militer mendeteksi adanya pesawat asing yang masuk tanpa izin. Dalam waktu singkat, hanya lima menit, dua jet Sukhoi TNI AU berhasil diluncurkan (scramble). Mereka segera bergerak menuju lokasi pesawat asing tersebut.
Sukhoi memberikan peringatan dan instruksi kepada pesawat asing untuk mengikuti arahan. Setelah upaya komunikasi radio gagal, pesawat asing itu dikawal secara paksa menuju Bandara Sultan Hasanuddin. Pendaratan darurat dilakukan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Saat pemeriksaan dilakukan, ditemukan sekitar 2 ton barang yang diduga mencurigakan di dalam pesawat asing tersebut. Rincian jenis barang tersebut belum dirilis secara resmi oleh pihak berwenang.
Dampak dan Reaksi Publik
Insiden ini dengan cepat menyebar di media sosial. Tagar #SukhoiMakassar menjadi trending di platform X (sebelumnya Twitter) dengan lebih dari 100.000 unggahan. Video amatir yang merekam detik-detik intersepsi pesawat asing ini bahkan mencapai 5 juta penayangan.
Media nasional menyoroti kejadian ini sebagai pengingat pentingnya kedaulatan udara. Kompas, misalnya, menyebutnya sebagai “pelajaran kedaulatan udara”. Publik di Makassar menunjukkan kebanggaan terhadap kesigapan TNI AU.
Namun, di balik kebanggaan itu, muncul pula kekhawatiran akan potensi eskalasi geopolitik. Insiden ini mengingatkan peran strategis Makassar sebagai gerbang timur Indonesia. Wilayah ini kerap menjadi titik ujian keamanan negara.
Pesawat asing tersebut ditahan selama 48 jam untuk proses investigasi. Kru pesawat juga menjalani interogasi oleh pihak Imigrasi. TNI AU sendiri menyatakan akan memperkuat patroli di wilayah udara perbatasan.
Pihak China telah mengajukan permintaan klarifikasi diplomatik terkait insiden ini. Sementara itu, pilot Sukhoi mendapat pujian atas profesionalisme mereka. Kisah ini menjadi topik hangat, menggambarkan bagaimana langit cerah Makassar bisa berubah menjadi drama internasional, namun kota ini tetap waspada menjaga kedaulatannya.























