Wartakita.id, SUMATERA – November 2025 akan dikenang sebagai momen ketika peta risiko bencana Indonesia berubah selamanya. Munculnya Siklon Tropis “Senyar” di Selat Malaka—kawasan yang hanya berjarak beberapa derajat dari garis lintang nol—mengejutkan banyak pihak.
Selama ini, masyarakat dan bahkan sebagian ahli meyakini bahwa Indonesia, yang dilalui garis khatulistiwa, adalah wilayah yang “kebal” terhadap amukan siklon tropis karena ketiadaan gaya Coriolis.
Namun, alam membuktikan sebaliknya. Artikel ini akan membedah mekanisme ilmiah di balik anomali ini dan apa artinya bagi masa depan kita.
1. Runtuhnya Mitos Coriolis
Secara teori, siklon tropis membutuhkan gaya Coriolis (gaya akibat rotasi bumi) untuk memutar angin menjadi badai. Di ekuator, gaya ini sangat lemah. Inilah sebabnya mengapa badai jarang terbentuk di sini. Namun, “jarang” bukan berarti “tidak mungkin”.

Kasus Siklon Senyar menunjukkan bahwa ketika lautan menjadi terlalu panas, aturan main berubah. Suhu Permukaan Laut (SPL) di perairan Aceh dan Sumatera Utara pada November 2025 tercatat melampaui 30°C, jauh di atas ambang batas kritis 26.5°C. Panas berlebih ini menyediakan energi raksasa yang mampu “memaksa” terbentuknya pusaran badai, mengompensasi lemahnya gaya Coriolis.
2. Peran Gelombang Atmosfer
Selain suhu laut, faktor lain yang memicu Senyar adalah interaksi gelombang atmosfer. Fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) yang membawa massa udara basah dari Samudra Hindia bertemu dengan gelombang Rossby ekuatorial.
Tabrakan ini menciptakan “kick-starter” berupa putaran angin awal. Ibarat menyalakan mesin mobil dengan cara didorong, gelombang-gelombang ini membantu bibit siklon 95B berputar hingga tumbuh menjadi Siklon Senyar yang mematikan.
3. Apakah Ini Normal Baru?
Para ilmuwan iklim memperingatkan bahwa ini bisa menjadi awal dari siklus baru. Model iklim global memprediksi bahwa pemanasan global akan memperluas wilayah jangkauan siklon tropis. Ekuator tidak lagi menjadi tembok api yang aman. Dengan semakin panasnya lautan, kita mungkin akan melihat “Senyar-Senyar” lain di masa depan.
Implikasinya sangat serius: standar bangunan, tata kota, dan drainase di Sumatera dan Kalimantan harus direvisi untuk tahan terhadap angin kencang badai, bukan hanya sekadar hujan biasa.
Alarm dari Alam
Siklon Senyar adalah alarm tanda bahaya. Kita tidak bisa lagi berlindung di balik asumsi geografis masa lalu. Adaptasi dan mitigasi adalah kunci untuk bertahan hidup di era iklim yang baru ini.
Baca lengkap laporan penelitian literatur online dibantu AI yang menyimpulkan bahwa Siklon Senyar bukanlah anomali tunggal, melainkan peringatan dini dari perubahan rezim iklim tropis. Di sisi lain, banjir kayu gelondongan adalah bukti forensik dari salah urus bentang alam Sumatera.
Tanpa intervensi segera—melalui moratorium konversi hutan, penegakan hukum lingkungan yang keras, dan revitalisasi kearifan lokal—Sumatera menghadapi risiko menjadi wilayah yang semakin tidak layak huni akibat bencana hidrometeorologi yang berulang dan semakin intens.
Rekomendasi dalam laporan ini diharapkan menjadi peta jalan bagi pemulihan keseimbangan ekologis dan keselamatan masyarakat di masa depan.























