Pertandingan Piala Dunia 2026 antara Prancis dan Paraguay memecah keheningan dengan perdebatan sengit, menyoroti praktik permainan kasar Paraguay dan inkonsistensi keputusan wasit Ilgiz Tantashev.
- Paraguay melakukan 29 tekel dan 13 pelanggaran tanpa menerima kartu.
- Prancis menerima tiga kartu kuning meskipun melakukan lebih sedikit pelanggaran.
- Kylian Mbappe menjadi target utama permainan agresif Paraguay.
- Insiden sabotase tendangan penalti dan tekel brutal menambah daftar kontroversi.
- Keputusan wasit dan VAR menuai kritik tajam dari pengamat sepak bola.
Prancis vs. Paraguay: Sebuah Laga yang Dibayangi Kontroversi dan Permainan Kasar
Panggung Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi ajang pembuktian skill dan sportivitas tertinggi. Namun, duel antara Prancis dan Paraguay justru menyuguhkan narasi yang berbeda, diwarnai dengan permainan keras yang mengkhawatirkan dan keputusan wasit yang menimbulkan tanda tanya besar. Sejak awal laga, intensitas permainan Paraguay terasa berbeda, dengan fokus yang jelas pada penargetan pemain bintang Prancis, Kylian Mbappe.
Anomali Statistik: Kebal Kartu Bagi Paraguay, Kena Kartu Bagi Prancis
Data statistik pasca pertandingan mengungkapkan sebuah fenomena yang sulit dicerna dalam dunia sepak bola. Paraguay, yang tercatat melakukan 29 tekel dan 13 pelanggaran yang jelas, secara mengejutkan tidak diganjar satupun kartu kuning maupun merah sepanjang 90 menit. Kontrasnya, tim Prancis, yang notabene lebih sedikit melakukan pelanggaran, harus menerima tiga kartu kuning. Anomali ini memicu pertanyaan mendasar mengenai penegakan aturan dan konsistensi penilaian wasit, Ilgiz Tantashev.
Kylian Mbappe: Target Utama Permainan Brutal Paraguay
Bukan rahasia lagi bahwa Kylian Mbappe adalah salah satu pemain paling mematikan di dunia. Namun, dalam pertandingan ini, ia lebih sering menjadi sasaran permainan keras yang berujung pada pelanggaran. Banyak tekel yang dilancarkan pemain Paraguay terhadap Mbappe dinilai tidak sportif oleh para pengamat sepak bola. Dampaknya, selain berisiko terhadap cedera, juga mengganggu ritme permainan sang bintang Real Madrid.
Perlakuan kasar tidak hanya dialami oleh Mbappe. Pemain kunci Prancis lainnya, seperti Dayot Upamecano dan Jules Kounde, juga tidak luput dari permainan fisik yang berlebihan. Rekaman televisi menunjukkan momen-momen di mana siku pemain Paraguay mengenai Upamecano dan dorongan di wajah Kounde, menambah daftar kekecewaan terhadap standar sportivitas yang ditampilkan oleh tim Amerika Selatan tersebut.
Taktik Sabotase dan Momen ‘Ala Beckham’ yang Diabaikan VAR
Kontroversi mencapai puncaknya pada menit ke-68. Setelah Prancis mendapatkan hadiah penalti melalui intervensi Video Assistant Referee (VAR), pemain Paraguay, Gustavo Velazquez, melakukan tindakan yang sangat tidak terpuji. Ia menggunakan sepatu botnya untuk merusak titik penalti, menciptakan penyok di lapangan, sebuah upaya jelas untuk mengganggu eksekusi penalti. Mantan kiper tim nasional Inggris, Joe Hart, yang menjadi komentator BBC, menyuarakan kekecewaannya, menyebut tindakan tersebut memalukan dan sama sekali tidak mencerminkan semangat sepak bola.
Ini memalukan. Jika saya adalah rekan setimnya, saya akan langsung menariknya menjauh. Bukan seperti itu seharusnya sepak bola dimainkan.
Meskipun demikian, Kylian Mbappe menunjukkan ketenangan luar biasa dan berhasil mengeksekusi penalti dengan sempurna, mengunci kemenangan tipis 1-0 untuk Prancis. Kemenangan ini membawa Les Bleus melangkah ke perempat final, namun meninggalkan catatan kelam terkait insiden tersebut.
Kekecewaan kembali membayangi pada menit ke-78. Juan Jose Caceres, setelah berbenturan dengan Mbappe, dengan sengaja menendang tulang kering striker Prancis tersebut menggunakan pul sepatunya saat Mbappe tergeletak di tanah. Insiden ini mengingatkan publik pada tendangan ikonik David Beckham kepada Diego Simeone di Piala Dunia 1998 yang berujung kartu merah. Namun, dalam situasi yang sama, baik wasit maupun tim VAR memilih untuk tidak memberikan hukuman kepada Caceres. Komentator Stephen Warnock secara keras mengkritik keputusan ini, menyatakan bahwa Paraguay jelas berupaya mencederai lawan alih-alih bermain sportif, dan menyebut situasi ini tidak dapat diterima dalam sepak bola modern.
Pertandingan ini berakhir dengan catatan kelam terkait permainan kekerasan yang berlebihan dan celah yang signifikan dalam penegakan aturan di lapangan, menimbulkan pertanyaan serius tentang integritas olahraga di ajang sebesar Piala Dunia 2026.
Add wartakita.id as a preferred source on Google























