Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, Presiden Prabowo Subianto telah menegaskan komitmen kuat untuk menjaga kesehatan fiskal negara dengan tidak memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Langkah ini menggarisbawahi prioritas pada efisiensi operasional dan inovasi teknologi.
Efisiensi Ekstrem sebagai Pilar Utama
Presiden Prabowo secara tegas menginstruksikan jajarannya untuk menerapkan prinsip efisiensi ekstrem dalam berbagai pos belanja negara. Fokus utama diarahkan pada penghematan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM), mengingat perannya yang vital dalam mobilitas dan kegiatan ekonomi.
“Kita tidak bisa menganggap bahwa apapun terjadi kita aman. Ya, kita bersyukur kita aman, tapi kita tidak ada upaya untuk mengurangi konsumsi BBM kita,” ujar Presiden dalam Sidang Kabinet, menekankan urgensi gerakan penghematan ini. Beliau mencontohkan berbagai kebijakan pro-efisiensi yang telah diterapkan negara lain, seperti penerapan kebijakan bekerja dari rumah (WFH), skema empat hari kerja, hingga pemotongan gaji legislator untuk membantu kelompok rentan. Selain itu, ada pula opsi pemotongan ketersediaan BBM untuk kementerian dan kebijakan pembatasan penggunaan kendaraan dinas.
Optimalisasi GovTech untuk Penutupan Kebocoran
Selain efisiensi dari sisi pengeluaran, Presiden Prabowo juga menyoroti pentingnya optimalisasi penerimaan negara melalui penutupan kebocoran. Dalam hal ini, implementasi Government Technology (GovTech) menjadi salah satu strategi kunci. GovTech, yang memfasilitasi sinkronisasi antar Kementerian/Lembaga (K/L) dalam satu jaringan terintegrasi, dinilai memiliki potensi signifikan untuk menekan kebocoran anggaran hingga 40 persen.
“Saya percaya dua tiga tahun kita akan sangat kuat, tapi tetap kita harus hemat konsumsi. Dengan demikian kita berharap kita akan selalu menjaga bahwa kita defisit kita tidak tambah. Bahkan cita-cita kita adalah kalau bisa kita tidak punya defisit. Sasaran kita adalah APBN kita harus balanced budget, itu paling ideal,” tegas Presiden Prabowo, mengutarakan harapan besar untuk mencapai keseimbangan anggaran yang ideal.
Antisipasi Skenario Terburuk di Tengah Ketidakpastian Global
Presiden Prabowo juga mengingatkan agar tidak larut dalam rasa aman meskipun situasi saat ini terasa stabil. Beliau menekankan pentingnya kesiapan dalam menghadapi kemungkinan terburuk, terutama yang berkaitan dengan potensi perang berkepanjangan di Timur Tengah. Ketidakpastian ini menjadi latar belakang utama mengapa efisiensi dan optimalisasi menjadi kunci dalam pengelolaan APBN 2026.
“Kita berharap skenario yang terburuk tidak terjadi di Timur Tengah, tapi ramalan-ramalan juga banyak mengatakan ini bisa jadi perang yang sangat panjang, perang yang sangat panjang,” tutup Presiden, menggarisbawahi perlunya kewaspadaan dan ketangguhan ekonomi nasional.























