Perjanjian nuklir krusial antara Amerika Serikat dan Rusia, New START, telah resmi berakhir. Momen ini menandai berakhirnya pembatasan strategis terakhir antara dua kekuatan nuklir terbesar dunia, membangkitkan kekhawatiran akan dimulainya kembali perlombaan senjata global.
- Perjanjian New START, pembatasan terakhir senjata nuklir AS-Rusia, telah berakhir.
- Donald Trump menyerukan perjanjian nuklir baru yang lebih baik dan modern.
- Ada kekhawatiran meningkat tentang potensi perlombaan senjata global baru.
- Beijing menolak keras desakan AS untuk dimasukkan dalam perjanjian nuklir baru.
- AS tidak memiliki kesepakatan yang diketahui dengan Rusia mengenai kepatuhan terhadap ketentuan yang berakhir.
- AS melanjutkan dialog militer dengan Rusia meskipun ada ketegangan.
Era Baru Tanpa Pembatasan: Mengapa New START Penting?
Berakhirnya Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis Baru (New START) memicu gelombang kekhawatiran di kalangan komunitas internasional. Perjanjian ini, yang merupakan benteng terakhir dari upaya puluhan tahun negosiasi pengendalian senjata sejak era Perang Dingin, membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis dan rudal yang dimiliki oleh Amerika Serikat dan Rusia.
Keberadaan New START telah memberikan tingkat prediktabilitas dan transparansi yang vital, mengurangi risiko salah perhitungan dan eskalasi yang tidak disengaja. Dengan berakhirnya perjanjian ini, fondasi yang telah lama menopang stabilitas strategis global kini bergetar.
Seruan Trump: Perjanjian Baru yang ‘Lebih Baik’
Menanggapi berakhirnya perjanjian tersebut, mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, segera menyerukan pembentukan sebuah perjanjian nuklir baru. Trump, yang sebelumnya sering mengkritik kesepakatan internasional, menyebut New START sebagai perjanjian yang ‘dinegosiasikan dengan buruk’ dan ‘dilanggar secara terang-terangan’ oleh Rusia. Ia menekankan perlunya para ahli nuklir untuk merancang kesepakatan baru yang lebih modern, berkelanjutan, dan menguntungkan Amerika Serikat.
Pernyataan Trump ini memberikan dimensi politik baru pada perdebatan mengenai pengendalian senjata nuklir. Fokusnya pada negosiasi kesepakatan baru, alih-alih perpanjangan, menunjukkan pendekatan yang berbeda dari pendahulunya, Barack Obama, yang menandatangani perjanjian tersebut, dan Joe Biden, yang memperpanjangnya.
Potensi Perlombaan Senjata dan Posisi China
Kekhawatiran terbesar yang muncul pasca-berakhirnya New START adalah kemungkinan dimulainya kembali perlombaan senjata global. Dalam pemerintahan sebelumnya, AS, di bawah kepemimpinan Trump, telah berulang kali mendesak agar China dilibatkan dalam setiap perjanjian nuklir baru, mengingat pesatnya peningkatan kekuatan militer dan kemampuan nuklir Beijing.
Namun, China secara konsisten menolak tekanan tersebut, menyatakan bahwa mereka memiliki jumlah senjata nuklir yang jauh lebih sedikit dibandingkan AS dan Rusia, dan tidak melihat kebutuhan untuk bergabung dalam perjanjian pembatasan seperti itu. Penolakan Beijing ini menambah kompleksitas upaya pengendalian senjata di tingkat global.
Tanggapan dan Langkah Selanjutnya AS-Rusia
Mengenai apakah AS dan Rusia akan tetap berpegang pada ketentuan perjanjian yang telah berakhir selama negosiasi kesepakatan baru, juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa tidak ada kesepakatan yang diketahui. Hal ini menimbulkan ketidakpastian lebih lanjut mengenai stabilitas strategis jangka pendek.
Rusia sendiri sebelumnya telah menangguhkan inspeksi berdasarkan New START karena memburuknya hubungan dengan pemerintahan Biden. Moskow juga menyatakan bahwa mereka tidak lagi menganggap diri terikat pada batasan jumlah hulu ledak nuklir setelah berakhirnya perjanjian. Terlepas dari ketegangan yang mengemuka, Amerika Serikat mengumumkan bahwa mereka melanjutkan dialog militer dengan Rusia, sebuah langkah yang diambil setelah pembicaraan tiga pihak di Abu Dhabi mengenai perang Ukraina. Upaya ini menunjukkan adanya keinginan untuk menjaga saluran komunikasi tetap terbuka di tengah situasi geopolitik yang semakin rumit.























