Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terus memuncak, menimbulkan kekhawatiran serius akan potensi pecahnya perang terbuka di kawasan Timur Tengah. Para pakar menilai situasi ini semakin sulit dihindari.
Eskalasi Ketegangan AS-Iran dan Potensi Perang Terbuka
Amerika Serikat telah mengambil langkah tegas dengan mengirimkan dua kapal induknya ke Timur Tengah, mengindikasikan keseriusan dalam konfrontasi dengan Iran. Menurut pakar hubungan internasional Teuku Rezasyah, perang terbuka dapat terjadi sewaktu-waktu. Ia memprediksi, dalam skenario AS, Iran dianggap sebagai entitas yang mudah ditaklukkan. Namun, Iran diperkirakan tidak akan menyerah dan akan terus mempertahankan haknya untuk memperkaya uranium, yang diklaim untuk tujuan damai meskipun diproses secara rahasia.
Tensi memuncak: AS mengirim dua kapal induk ke Timur Tengah.
Prediksi perang: Dapat terjadi setiap saat.
Sikap Iran: Mempertahankan hak pengayaan uranium.
Dampak Geopolitik dan Posisi Iran dalam Konflik
Gesekan antara Iran dan Amerika Serikat diprediksi akan memberikan dampak yang signifikan terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah. Iran diproyeksikan akan mengadopsi posisi bertahan dalam menghadapi kekuatan AS, namun di sisi lain, mereka juga telah mempersiapkan rudal balistik yang siap diarahkan ke pangkalan-pangkalan militer AS. Bagi Iran, konflik ini dipandang sebagai sebuah perjuangan suci untuk mempertahankan martabat Islam dan kredibilitas Republik Islam Iran dari apa yang mereka sebut sebagai “setan besar” yang mengancam perdamaian dunia.
Sikap Ideal Indonesia dalam Menghadapi Konflik AS-Iran
Menghadapi situasi yang genting ini, Indonesia diharapkan untuk mengadopsi sikap yang tepat, berlandaskan pada prinsip politik luar negeri bebas aktif. Pemerintah Indonesia memiliki kewajiban untuk bersikap netral dan tidak memihak apabila perang antara Iran dan AS benar-benar meletus. Selain itu, fokus utama Indonesia perlu diarahkan pada pengamanan wilayah udara, darat, dan laut di seluruh nusantara. Langkah ini bertujuan untuk mencegah potensi spionase dan penyelundupan senjata yang dapat mengancam kedaulatan negara.
“RI dengan sumber dayanya yang terbatas segera mengendalikan ruang-ruang udara, darat, dan laut di seluruh wilayah nasional RI. Sehingga terbebaskan dari penyusupan sipil bersenjata, penyelundupan senjata, spionase di perbatasan, dan perang elektronik,” tegas Teuku Rezasyah.
Peran Diplomasi dan Penguatan Keamanan Nasional Indonesia
Di tengah potensi berkecamuknya perang, Indonesia juga didorong untuk berani mengambil inisiatif dalam jalur diplomasi. Salah satu langkah krusial yang dapat ditempuh adalah mendorong digelarnya sidang istimewa Dewan Keamanan PBB. Lebih lanjut, Pemerintah Indonesia perlu memperkuat sistem keamanan nasionalnya. Hal ini penting untuk memastikan wilayah Indonesia tidak menjadi sasaran ekspansi perang dari pihak-pihak yang berkepentingan. Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata) perlu diimplementasikan secara optimal, melibatkan TNI, Polri, Komcad, rakyat terlatih, dan pertahanan sipil untuk mencegah Indonesia dijadikan target baru dalam perluasan medan perang oleh pihak manapun.























