Wartakita.id, MAKASSAR — Rabu, 7 Januari 2026, menjadi hari yang sibuk di depan kantor Komdigi. Bukan karena ada skandal korupsi triliunan rupiah yang baru terungkap, melainkan karena sekelompok aktivis muda dari dua ormas Islam terbesar di negeri ini menuntut “evaluasi” atas sebuah tayangan komedi.
Objek kemarahannya? Mens Rea, pertunjukan spesial Pandji Pragiwaksono di Netflix yang dirilis akhir tahun lalu. Alasannya klasik: dianggap memicu polarisasi, merendahkan kelompok tertentu, dan tidak sesuai dengan “adat ketimuran”.
Fenomena ini menarik, bukan karena materi Pandji yang memang dikenal brutal dalam menyerang kemapanan (termasuk dinasti politik dan ormas), tapi karena respons kita terhadapnya.
Protes ini mengonfirmasi tesis menyedihkan tentang wajah bangsa kita hari ini:
- Kita adalah bangsa yang lebih menghargai kemasan daripada isi.
- Kita lebih memuja sopan santun ketimbang kebenaran.
Etika vs Etiket: Salah Kaprah Nasional
Ada kerancuan fatal dalam logika publik kita mengenai “etika”. Kita sering mencampuradukkan Etika (filsafat moral tentang baik/buruk dan kebenaran) dengan Etiket (tata krama, sopan santun, dan kepantasan sosial).
Dalam filsafat, etika itu tegak lurus pada kebenaran (truth). Kebenaran itu seringkali “telanjang”, mentah, kasar, dan tidak enak dilihat. Sementara etiket adalah soal kemasan; soal bagaimana agar orang lain tidak tersinggung, soal menjaga harmoni semu.
Masalahnya, di Indonesia, etiket seringkali membunuh etika.
-
Seorang pejabat yang korupsi bansos tapi bicaranya santun, murah senyum, dan agamis, seringkali lebih dimaafkan daripada seorang komika yang bicara kasar, menyumpah-serapah, tapi menelanjangi fakta ketidakadilan.
-
Kita marah pada Pandji yang menyindir “balas budi tambang”, tapi kita diam (atau memaklumi) pada act bagi-bagi tambang itu sendiri asalkan dilakukan dengan prosedur birokrasi yang “sopan”.
Alergi Fakta Telanjang
Demonstrasi menuntut Mens Rea dievaluasi adalah gejala bahwa mayoritas kita memang belum siap dengan fakta telanjang. Kita butuh filter. Kita butuh “kemasan blink-blink”.
Ketika Pandji, dalam Mens Rea (yang secara harfiah berarti “niat jahat” atau guilty mind dalam hukum), menunjuk hidung kekuasaan dan kemunafikan sosial tanpa tedeng aling-aling, imunitas mental kita shock.
“Wah, ini kasar!”
“Wah, ini memecah belah!”
Padahal, fungsi satire politik dalam demokrasi—seperti kata filsuf Voltaire atau komika George Carlin—memang untuk mengganggu kenyamanan. Jika sebuah lelucon politik terasa “sopan” dan “nyaman”, kemungkinan besar itu bukan satire, itu humas pemerintah.
Netizen yang kontra dengan aksi demo kemarin menyuarakan ironi yang tepat: Mengapa energi yang sama tidak dikerahkan untuk mendemo korupsi dana haji? Jawabannya kembali ke poin awal: Korupsi itu seringkali dilakukan dengan “sopan” dan tertutup rapi, sementara joke Pandji dilakukan dengan “kasar” dan terbuka.
Filosofi Biji Kedondong: Sebuah Refleksi
Namun, saya harus adil. Jangan kira menelan kebenaran itu mudah. Jika secara psikologis atau batin Anda belum homogen dengan hidangan kebenaran yang tersaji, rasanya seperti menelan biji kedondong. Tersangkut di tenggorokan, tajam, dan menyakitkan.
Kami pun pernah mengalaminya secara personal. Bukan di panggung politik, tapi di sebuah warung kopi kecil di Jalan Percetakan Negara, Jakarta, beberapa tahun silam.
Saat itu, istri seorang sahabat bertanya dengan nada yang menohok kepada saya. “Atas dasar apa Anda merasa mampu menyatukan kembali kami yang sudah sepakat bercerai? Anda sama sekali tidak memiliki kompetensi tersebut. Anda belum pernah berumah tangga.”
Pertanyaan itu dilontarkan oleh seorang wanita berpendidikan tinggi yang sedang menuntaskan S2 di Washington DC. Bagi ego saya yang sedikit terluka, pertanyaan itu terasa tidak sopan. Dianggap tidak kompeten oleh sosok yang 20 tahun lebih lambat hadir ke dunia, rasanya meremehkan.
Itulah “biji kedondong” saya malam itu. Kebenaran (bahwa saya belum menikah) disampaikan dengan etiket yang “buruk” (menyinggung ego).
Saya punya dua pilihan saat itu:
-
Marah (Mendewakan Etiket): Mengusir mereka karena merasa tidak dihargai, membela diri, dan membiarkan mereka bercerai.
-
Menelan Ego (Mendewakan Etika): Menerima rasa sakit itu, dan fokus pada substansi masalah.
Saya memilih yang kedua. Sambil menarik napas dengan pola 7-8-9 untuk meredam gemuruh di dada, saya menjawab tenang: “Benar. Saya juga heran mengapa harus duduk diapit sepasang suami-isteri yang sudah sepakat bercerai. Sungguh, saya tidak berniat menyatukan kalian kembali… Saya hanya ingin mendengarkan tanpa mengomentari.”
Malam itu, ego saya mati, tapi empati lahir.
Silih berganti sepasang suami-istri itu menumpahkan isi hati dan kepalanya. Dari pukul 10 malam hingga pukul 3 pagi. Warung kopi kami tutup setelah azan subuh berkumandang, dan tahukah Anda akhirnya? Mereka sepakat rujuk, memulai kembali dari nol.
Penutup: Belajar Menelan Rasa Sakit
Kisah di Percetakan Negara itu adalah mikrokosmos dari apa yang sedang dihadapi bangsa ini lewat kasus Mens Rea.
Kritik Pandji Pragiwaksono mungkin terasa seperti pertanyaan istri sahabat saya tadi: Tidak sopan, menyakitkan ego, dan meremehkan “otoritas”.
Tapi, jika pemerintah, ormas, dan kita semua memilih untuk bereaksi seperti saya yang tersinggung—sibuk membela diri dan menuntut permintaan maaf—maka kita akan kehilangan kesempatan untuk “rujuk” dengan akal sehat. Kita akan bercerai dengan kemajuan.
Sebaliknya, jika kita mampu menelan “biji kedondong” itu—mengabaikan rasa sakit akibat gaya bahasa Pandji yang kasar dan fokus pada substansi kritik yang ia sampaikan—mungkin, hanya mungkin, kita bisa memperbaiki apa yang rusak di negeri ini.
Sudah saatnya kita berhenti menjadi bangsa yang manja, yang hanya mau menelan obat jika rasanya manis.
Jika yang dia katakan adalah kebenaran—betapapun kasarnya—maka secara etika filsafat, nilainya jauh lebih tinggi daripada kebohongan yang dibungkus dengan senyum manis dan tutur kata halus di podium kekuasaan.
Sudah saatnya kita belajar menelan “fakta telanjang” tanpa tersedak. Karena jika kita terus-menerus minta disuapi kebenaran dengan kemasan manis, jangan heran jika yang kita telan nantinya bukan obat, tapi racun yang dilapisi gula.
Kolom ini adalah rubrik Nalar Warga yang memuat opini dan analisis mendalam dari perspektif pembaca.























