Sabtu, 21 Maret 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Opini

Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran

by A. Burhany
08/01/2026
in Opini
Reading Time: 6 mins read
A A
Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran - Featured

Wartakita.id, MAKASSAR — Rabu, 7 Januari 2026, menjadi hari yang sibuk di depan kantor Komdigi. Bukan karena ada skandal korupsi triliunan rupiah yang baru terungkap, melainkan karena sekelompok aktivis muda dari dua ormas Islam terbesar di negeri ini menuntut “evaluasi” atas sebuah tayangan komedi.

Objek kemarahannya? Mens Rea, pertunjukan spesial Pandji Pragiwaksono di Netflix yang dirilis akhir tahun lalu. Alasannya klasik: dianggap memicu polarisasi, merendahkan kelompok tertentu, dan tidak sesuai dengan “adat ketimuran”.

Fenomena ini menarik, bukan karena materi Pandji yang memang dikenal brutal dalam menyerang kemapanan (termasuk dinasti politik dan ormas), tapi karena respons kita terhadapnya.

Protes ini mengonfirmasi tesis menyedihkan tentang wajah bangsa kita hari ini:

  1. Kita adalah bangsa yang lebih menghargai kemasan daripada isi.
  2. Kita lebih memuja sopan santun ketimbang kebenaran.

Etika vs Etiket: Salah Kaprah Nasional

Ada kerancuan fatal dalam logika publik kita mengenai “etika”. Kita sering mencampuradukkan Etika (filsafat moral tentang baik/buruk dan kebenaran) dengan Etiket (tata krama, sopan santun, dan kepantasan sosial).

Dalam filsafat, etika itu tegak lurus pada kebenaran (truth). Kebenaran itu seringkali “telanjang”, mentah, kasar, dan tidak enak dilihat. Sementara etiket adalah soal kemasan; soal bagaimana agar orang lain tidak tersinggung, soal menjaga harmoni semu.

Masalahnya, di Indonesia, etiket seringkali membunuh etika.

  • Seorang pejabat yang korupsi bansos tapi bicaranya santun, murah senyum, dan agamis, seringkali lebih dimaafkan daripada seorang komika yang bicara kasar, menyumpah-serapah, tapi menelanjangi fakta ketidakadilan.

  • Kita marah pada Pandji yang menyindir “balas budi tambang”, tapi kita diam (atau memaklumi) pada act bagi-bagi tambang itu sendiri asalkan dilakukan dengan prosedur birokrasi yang “sopan”.

Alergi Fakta Telanjang

Demonstrasi menuntut Mens Rea dievaluasi adalah gejala bahwa mayoritas kita memang belum siap dengan fakta telanjang. Kita butuh filter. Kita butuh “kemasan blink-blink”.

Ketika Pandji, dalam Mens Rea (yang secara harfiah berarti “niat jahat” atau guilty mind dalam hukum), menunjuk hidung kekuasaan dan kemunafikan sosial tanpa tedeng aling-aling, imunitas mental kita shock.

“Wah, ini kasar!”

“Wah, ini memecah belah!”

Padahal, fungsi satire politik dalam demokrasi—seperti kata filsuf Voltaire atau komika George Carlin—memang untuk mengganggu kenyamanan. Jika sebuah lelucon politik terasa “sopan” dan “nyaman”, kemungkinan besar itu bukan satire, itu humas pemerintah.

Netizen yang kontra dengan aksi demo kemarin menyuarakan ironi yang tepat: Mengapa energi yang sama tidak dikerahkan untuk mendemo korupsi dana haji? Jawabannya kembali ke poin awal: Korupsi itu seringkali dilakukan dengan “sopan” dan tertutup rapi, sementara joke Pandji dilakukan dengan “kasar” dan terbuka.

Filosofi Biji Kedondong: Sebuah Refleksi

Namun, saya harus adil. Jangan kira menelan kebenaran itu mudah. Jika secara psikologis atau batin Anda belum homogen dengan hidangan kebenaran yang tersaji, rasanya seperti menelan biji kedondong. Tersangkut di tenggorokan, tajam, dan menyakitkan.

Kami pun pernah mengalaminya secara personal. Bukan di panggung politik, tapi di sebuah warung kopi kecil di Jalan Percetakan Negara, Jakarta, beberapa tahun silam.

Saat itu, istri seorang sahabat bertanya dengan nada yang menohok kepada saya. “Atas dasar apa Anda merasa mampu menyatukan kembali kami yang sudah sepakat bercerai? Anda sama sekali tidak memiliki kompetensi tersebut. Anda belum pernah berumah tangga.”

BACA JUGA:

Presiden Prabowo Dinilai Antikritik: Ancaman terhadap Demokrasi Pasca-Serangan Air Keras ke Aktivis KontraS

Di Balik Kematian Alex Pretti: Telepon Genggam, Senjata Terkuat Melawan Narasi Pemerintah Trump

Patologi Birokrasi: Mengapa Pena di Ngada Lebih Sulit Didapat Daripada KIP-K di Jakarta?

Harga Sebuah Pena yang Lebih Mahal dari Nyawa: Surat Cinta Terakhir dari Ngada

Epstein Files: Runtuhnya Tembok Kebal Hukum dan Ilusi Keilahian di Atas ‘Bedeng’ Peradaban

Pertanyaan itu dilontarkan oleh seorang wanita berpendidikan tinggi yang sedang menuntaskan S2 di Washington DC. Bagi ego saya yang sedikit terluka, pertanyaan itu terasa tidak sopan. Dianggap tidak kompeten oleh sosok yang 20 tahun lebih lambat hadir ke dunia, rasanya meremehkan.

Itulah “biji kedondong” saya malam itu. Kebenaran (bahwa saya belum menikah) disampaikan dengan etiket yang “buruk” (menyinggung ego).

Saya punya dua pilihan saat itu:

  1. Marah (Mendewakan Etiket): Mengusir mereka karena merasa tidak dihargai, membela diri, dan membiarkan mereka bercerai.

  2. Menelan Ego (Mendewakan Etika): Menerima rasa sakit itu, dan fokus pada substansi masalah.

Saya memilih yang kedua. Sambil menarik napas dengan pola 7-8-9 untuk meredam gemuruh di dada, saya menjawab tenang: “Benar. Saya juga heran mengapa harus duduk diapit sepasang suami-isteri yang sudah sepakat bercerai. Sungguh, saya tidak berniat menyatukan kalian kembali… Saya hanya ingin mendengarkan tanpa mengomentari.”

Malam itu, ego saya mati, tapi empati lahir.

Silih berganti sepasang suami-istri itu menumpahkan isi hati dan kepalanya. Dari pukul 10 malam hingga pukul 3 pagi. Warung kopi kami tutup setelah azan subuh berkumandang, dan tahukah Anda akhirnya? Mereka sepakat rujuk, memulai kembali dari nol.

Penutup: Belajar Menelan Rasa Sakit

Kisah di Percetakan Negara itu adalah mikrokosmos dari apa yang sedang dihadapi bangsa ini lewat kasus Mens Rea.

Kritik Pandji Pragiwaksono mungkin terasa seperti pertanyaan istri sahabat saya tadi: Tidak sopan, menyakitkan ego, dan meremehkan “otoritas”.

Tapi, jika pemerintah, ormas, dan kita semua memilih untuk bereaksi seperti saya yang tersinggung—sibuk membela diri dan menuntut permintaan maaf—maka kita akan kehilangan kesempatan untuk “rujuk” dengan akal sehat. Kita akan bercerai dengan kemajuan.

Sebaliknya, jika kita mampu menelan “biji kedondong” itu—mengabaikan rasa sakit akibat gaya bahasa Pandji yang kasar dan fokus pada substansi kritik yang ia sampaikan—mungkin, hanya mungkin, kita bisa memperbaiki apa yang rusak di negeri ini.

Sudah saatnya kita berhenti menjadi bangsa yang manja, yang hanya mau menelan obat jika rasanya manis.

Jika yang dia katakan adalah kebenaran—betapapun kasarnya—maka secara etika filsafat, nilainya jauh lebih tinggi daripada kebohongan yang dibungkus dengan senyum manis dan tutur kata halus di podium kekuasaan.

Sudah saatnya kita belajar menelan “fakta telanjang” tanpa tersedak. Karena jika kita terus-menerus minta disuapi kebenaran dengan kemasan manis, jangan heran jika yang kita telan nantinya bukan obat, tapi racun yang dilapisi gula.

Kolom ini adalah rubrik Nalar Warga yang memuat opini dan analisis mendalam dari perspektif pembaca.

Tags: Budaya SungkanDemo NU MuhammadiyahesaiEtika vs EtiketKebebasan BerpendapatKritik SosialMens Reanalar wargaOpini RedaksiPandji PragiwaksonoRedaksianaSatire Politik
Share22Tweet14Send
Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger

ARTIKEL TERKAIT

Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran - Featured

Penutup Esai Ramadan #30: Satu Hal Saja

19/03/2026
Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran - Featured

Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

18/03/2026
Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran - Featured

Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

17/03/2026
Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran - Featured

Esai Ramadan #27: Jelang Perpisahan dengan Tamu yang Memuliakan

16/03/2026
Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran - Featured

Esai Ramadan #26: Zakat yang Melampaui Angka

14/03/2026
Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran - Featured

Esai Ramadan #25: Pulang ke Fitrah dan Laundry Pakaian Jiwa

14/03/2026
Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran - Featured

Esai Ramadan #24: Oase di Tengah Gurun dan Rahasia Rasa Cukup

13/03/2026
Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran - Featured

Esai Ramadan #23: Ganjil yang Genap dan Arsitektur Keseimbangan

12/03/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran - Featured

    Panduan Lengkap Lokasi Salat Idul Fitri di Makassar: Dari Karebosi hingga Titik Muhammadiyah

    230 shares
    Share 92 Tweet 58
  • Lokasi Shalat Idul Fitri 1 Syawal 1447 H / 20 Maret 2026 di Makassar: Lokasi dan Khatib

    37 shares
    Share 15 Tweet 9
  • Fenomena Blood Moon: Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026

    41 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Dari Garasi Militer ke Metaverse: Internet, Bukan Sekadar Jari Jempolmu

    28 shares
    Share 11 Tweet 7
  • Mudik Lebaran 2026 Lebih Lancar: 10 Ruas Tol Fungsional Dibuka Gratis Sepanjang 291 Km!

    26 shares
    Share 10 Tweet 7
  • Smoothing vs Rebonding vs Keratin: Mana yang Terbaik untuk Rambutmu?

    44 shares
    Share 18 Tweet 11
  • Esai Ramadan #28: Azan dan Kepulangan yang Sejati

    24 shares
    Share 10 Tweet 6
  • 1 Syawal 1447 H: Mampukah Lebaran 2026 Dirayakan Serentak?

    27 shares
    Share 11 Tweet 7
  • Esai Ramadan #29: Menuai Hujan dan Residu yang Tersisa

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Esai Ramadan #27: Jelang Perpisahan dengan Tamu yang Memuliakan

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran - Featured

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran - Featured
Fashion & Kecantikan

Tren Hijab 2025-2026: 25+ Gaya Fashion Muslim Kekinian

14/11/2025
Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran - Featured
Otomotif

Update Harga OTR & Simulasi Kredit Vespa Matic 2025: Dari LX 125 hingga GTS 300 Super Tech

29/11/2025
Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran - Featured
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kulit Glowing di Rumah: Spa Mandiri & Perawatan Diri untuk Beauty Besties

23/11/2025
Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran - Featured
Otomotif

Modifikasi Vespa Matic: 10 Aksesoris ‘Proper’ Budget Pelajar-Sultan

04/12/2025
Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran - Featured
Gaya Hidup

Jeda di Tengah Badai: Tiga Kompas Batin untuk Mengarungi Gelombang Hidup

20/11/2025
Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran - Featured
Otomotif

Seni Merawat Vespa Matic: Bebaskan Gredek, Nikmati Perjalanan Halus

06/12/2025
img 1764471350 26f1c112a772ad44.jpg
Fashion & Kecantikan

Azzaro The Most Wanted: Parfum Pria yang Memikat dengan Aroma Melenakan

14/12/2025
Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran - Featured
Fashion & Kecantikan

Kenapa Parfum Anda Tidak Meninggalkan Kesan? (Dan Cara Mengatasinya)

16/11/2025
Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran - Featured
Otomotif

Ancaman Mogok Akibat Aki Lemah di Musim Hujan: Kenapa Perawatan Mandiri Mobil LCGC Jadi Krusial?

16/11/2025
Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran - Featured
Gadget

7 Gadget Traveling Wajib Bawa Buat Liburan Nataru (Anti Lowbat)

25/12/2025
Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran - Featured
Fashion & Kecantikan

Ingin Dihormati di Kantor? Ini 4 “Power Scent” Pria & Wanita yang Bikin Aura Anda Seperti CEO

29/11/2025
skincare kulit kering 2 e1766181785188.jpg
Fashion & Kecantikan

7 Jurus Pilih Pelembap Bikin Glowing Sehat

20/12/2025
Mens Rea, Pandji, dan Kita yang Lebih Memuja Sopan Santun Ketimbang Kebenaran - Featured
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.