Wartakita.id, Makassar — Kualitas udara di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan, termasuk Makassar dan Maros, dilaporkan memburuk dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini dipicu oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi sejak awal Oktober 2026, serta kiriman asap dari wilayah lain.
Peningkatan kadar partikel halus di udara ini telah membawa dampak signifikan terhadap kesehatan masyarakat. Data menunjukkan bahwa konsentrasi PM2.5 di beberapa daerah telah melampaui ambang batas aman, mengindikasikan adanya ancaman serius bagi kualitas hidup warga.
Udara Maros Kian Mengkhawatirkan
Secara spesifik, Kabupaten Maros menjadi salah satu wilayah yang terdampak paling parah. Kualitas udaranya kini berada pada level “Tidak Sehat”, dengan konsentrasi PM2.5 yang terukur melebihi 55,5 mikrogram per meter kubik. Angka ini mengindikasikan bahwa paparan asap dalam jangka waktu tertentu dapat menimbulkan efek negatif pada pernapasan.
Pemerintah daerah setempat terus memantau perkembangan situasi. Upaya mitigasi dan penanggulangan karhutla terus digalakkan, namun dampak asap yang terbawa angin dari luar wilayah juga menjadi tantangan tersendiri.
Makassar Ikut Rasakan Dampaknya
Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan, Makassar, juga tidak luput dari imbas memburuknya kualitas udara. Dalam beberapa hari terakhir, indeks kualitas udara di Makassar sempat tercatat masuk dalam kategori tidak sehat. Hal ini dirasakan langsung oleh warga melalui kabut asap tipis yang menyelimuti sebagian kota.
Meskipun sempat membaik, kewaspadaan tetap perlu dijaga. Perubahan arah angin dan intensitas karhutla di daerah lain dapat kembali memengaruhi kondisi udara di Makassar. Warga diimbau untuk membatasi aktivitas luar ruangan jika kualitas udara memburuk.
Asap Lintas Batas Jadi Biang Keladi
Analisis menunjukkan bahwa penurunan kualitas udara di Sulawesi Selatan tidak semata-mata disebabkan oleh karhutla lokal. Kiriman asap dari wilayah lain, yang dibawa oleh pola angin, turut berkontribusi signifikan terhadap tingginya kadar polutan di udara.
Fenomena ini menyoroti pentingnya kerja sama antar daerah dalam penanganan karhutla. Upaya pengendalian kebakaran di satu wilayah dapat menjadi sia-sia jika asapnya terus terbawa ke daerah lain, menciptakan masalah kualitas udara yang lebih luas.
Intinya
- Kualitas udara di Sulawesi Selatan, khususnya Makassar dan Maros, memburuk sejak 3 Oktober 2026 akibat karhutla dan kiriman asap.
- Maros kini berstatus “Tidak Sehat” dengan PM2.5 melebihi 55,5 mikrogram per meter kubik.
- Makassar juga sempat mengalami penurunan kualitas udara hingga masuk kategori tidak sehat.
- Asap dari wilayah lain menjadi faktor penting penyebab memburuknya kualitas udara di Sulsel.
Kerap Ditanyakan
T: Apa penyebab utama memburuknya kualitas udara di Sulsel?
J: Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi sejak awal Oktober 2026, serta kiriman asap dari wilayah lain.
T: Wilayah mana saja di Sulsel yang paling terdampak?
J: Kabupaten Maros dan Kota Makassar dilaporkan mengalami penurunan kualitas udara yang signifikan.
Kontributor: Budi S.
Editor: Tim Editor Wartakita dibantu AI.























