Perdana Menteri Inggris Keir Starmer melakukan kunjungan diplomatik krusial ke China, menandai pertemuan penting dengan Presiden Xi Jinping di Beijing. Agenda utama meliputi penguatan hubungan, penjajakan peluang perdagangan, dan diskusi isu global strategis.
Mempererat Hubungan dan Peluang Perdagangan
Kunjungan ini menjadi momentum penting bagi Inggris untuk kembali membangun ikatan diplomatik yang sempat merenggang dengan China. Salah satu fokus utama adalah mempromosikan bisnis Inggris melalui forum UK-China CEO Council, yang mempertemukan para eksekutif industri dari kedua negara. Tujuannya jelas: membuka dan memperluas peluang perdagangan yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi domestik Inggris.
Agenda Diplomatik Strategis
Lebih dari sekadar hubungan ekonomi, Kunjungan Starmer juga mencakup pembahasan isu-isu global yang kompleks. Situasi di Ukraina menjadi salah satu topik krusial, mengingat hubungan ekonomi China yang erat dengan Rusia. Selain itu, Starmer juga berupaya menyelesaikan perselisihan terkait kasus Jimmy Lai, seorang pengusaha media Hong Kong yang memiliki kewarganegaraan Inggris, menunjukkan komitmen Inggris terhadap hak warganya.
Sejarah Hubungan: Dari “Era Emas” Menuju Kompleksitas
Hubungan Inggris-China pernah berada pada puncaknya yang disebut “Era Emas” sekitar satu dekade lalu, ditandai dengan kedekatan pribadi antara mantan Perdana Menteri David Cameron dan Presiden Xi Jinping. Namun, lanskap hubungan ini mengalami perubahan signifikan sejak tahun 2020.
Faktor-faktor yang Merenggangkan Hubungan:
- Pemberlakuan undang-undang keamanan nasional oleh Beijing di Hong Kong.
- Penindakan terhadap aktivis pro-demokrasi di wilayah tersebut.
- Dugaan aktivitas spionase dan serangan siber yang berasal dari China.
- Dukungan China terhadap invasi Rusia di Ukraina.
Meskipun demikian, China tetap menjadi mitra dagang terbesar ketiga bagi Inggris. Namun, data menunjukkan penurunan signifikan dalam ekspor Inggris ke China, mencapai 52,6 persen pada tahun 2025, mencerminkan tantangan dalam menyeimbangkan hubungan.
Tantangan, Perspektif, dan Pengelolaan Hubungan
Para analis menilai kunjungan Keir Starmer ini lebih berorientasi pada pengelolaan hubungan yang ada daripada membangun kepercayaan strategis yang mendalam, sehingga ekspektasi hasil yang monumental mungkin perlu dibatasi. Kunjungan ini juga berlangsung di tengah dinamika geopolitik yang kompleks, termasuk ketegangan antara Inggris dan Amerika Serikat terkait berbagai isu.
Perselisihan terkait pembangunan “mega-kedutaan” China di London juga sempat menjadi batu sandungan. Gedung yang dibeli Beijing pada tahun 2018 sempat ditentang keras oleh Inggris karena kekhawatiran akan potensi aktivitas spionase dan penekanan terhadap aktivis hak asasi manusia di Inggris. Persetujuan akhirnya diberikan setelah pemerintah Inggris mendapatkan jaminan bahwa agen intelijen memiliki mekanisme untuk mengelola semua risiko yang ada.
Kerry Brown, direktur Lau China Institute di King’s College London, memberikan pandangan yang menarik: “China mungkin bukan sekutu, tapi juga bukan musuh.” Pernyataan ini secara tepat menggambarkan upaya Inggris untuk menavigasi hubungan bilateral yang kompleks di tengah kepentingan yang beragam dan lanskap global yang penuh ketidakpastian.























