Kegagalan Brasil lolos dari Piala Dunia 2026 telah memicu guncangan nasional, bukan sekadar kekalahan olahraga. Gelombang kritik menghantam pelatih Carlo Ancelotti dan bintang tim, terutama Neymar, menyusul tersingkirnya Seleção oleh Norwegia yang dipimpin Erling Haaland.
- Kegagalan Brasil lolos ke Piala Dunia 2026 menjadi pukulan telak bagi sepak bola negara tersebut, mengakhiri impian juara dan memperpanjang periode tanpa gelar.
- Erling Haaland menjadi sorotan utama atas keberhasilan Norwegia menyingkirkan salah satu kandidat terkuat, menciptakan kejutan besar di turnamen.
- Media Brasil memberikan kritik tajam kepada pelatih Carlo Ancelotti dan pemain seperti Neymar, menyoroti kecerobohan dan ketidakakuratan tim.
- Peran Ancelotti dan keputusan taktisnya, termasuk memasukkan Neymar, menuai kontroversi besar dan dianggap sebagai faktor kunci kegagalan.
- Generasi pemain saat ini dikritik karena dianggap kehilangan identitas dan semangat juang khas sepak bola Brasil.
Brasil Tumbang, Era Baru yang Kelam Dimulai
Tragedi di Piala Dunia 2026 bukan sekadar terhentinya langkah Brasil dalam perebutan gelar juara dunia. Lebih dari itu, ini adalah momen yang mengguncang fondasi sepak bola nasional, memicu respons keras dari publik dan media. Perjalanan Seleção harus terhenti di tangan Norwegia, tim yang dipimpin oleh bintang muda sensasional, Erling Haaland. Momen ini menggarisbawahi periode terpanjang tanpa gelar Piala Dunia dalam sejarah Brasil sejak kemenangan pertama mereka.
Di tengah riuhnya lapangan hijau, figur Neymar menjadi pusat perhatian. Sang kapten tampak hancur, air mata membasahi pipinya saat peluit panjang dibunyikan. Adegan ini bukan hanya melambangkan kekecewaannya pribadi, tetapi juga menjadi simbol kesedihan mendalam bagi jutaan pendukung Brasil yang telah lama merindukan kejayaan.
Haaland: Sang ‘Syborg’ yang Menghancurkan Mimpi Brasil
Sementara Brasil meratapi nasibnya, Norwegia justru merayakan sejarah baru. Erling Haaland, dengan performanya yang impresif, berhasil mengantarkan timnya menyingkirkan salah satu favorit juara. Keberhasilan ini diakui luas oleh media global, termasuk Brasil.
Jaringan Globo Esporte dalam laporannya menyoroti peran krusial Haaland. Judul utama seperti “Haaland Mendominasi… Brasil Tumbang di Tangan Norwegia dan Mengalami Masa Terlama Tanpa Gelar Piala Dunia” serta “Haaland Menguasai Brasil” menggambarkan betapa besarnya pengaruh sang striker.
Namun, pujian untuk Haaland tidak serta merta mengabaikan evaluasi terhadap tim Samba. Analis Rodrigo Coutinho dari Globo Esporte dengan tegas menyatakan, “Kecerobohan dan ketidakakuratan menjadi faktor utama tersingkirnya Brasil dari turnamen ini.”
ESPN Brasil bahkan melabeli Haaland sebagai “Syborg”, menyiratkan kekuatan dan ketidakterhentiannya. Laporan mereka, “Brasil Dihancurkan oleh Haaland yang Tak Terelakkan dan Tersingkir dari Piala Dunia Setelah Kekalahan Keenam Berturut-turut Melawan Tim Eropa,” semakin mempertegas dominasi Norwegia.
Akhir Tragis bagi Neymar dan Generasi Saat Ini
Di sisi lain lapangan, ESPN Brasil menyoroti akhir yang menyakitkan bagi karier Piala Dunia Neymar. Sang kapten hanya bermain selama 55 menit, dan gol di menit akhir tidak cukup untuk mengubah jalannya pertandingan. Keluar dari lapangan dengan berlinang air mata, Neymar memikul beban kekecewaan yang begitu besar.
Kritik tajam datang dari berbagai penjuru. Penulis Paulo Kobus dari ESPN Brasil menggambarkan momen ini sebagai “babak baru yang menyedihkan dalam sejarah sepak bola Brasil yang perlahan memudar.” Ia bahkan berani menyatakan bahwa kegagalan Brasil di Piala Dunia 2026 “sama sekali tidak mengejutkan.”
Lebih lanjut, Kobus mengkritik keras keputusan pemanggilan Neymar, menyebutnya sebagai “keputusan yang aneh.” Ia juga melabeli performa Carlo Ancelotti selama turnamen sebagai “bencana.”
Ancelotti di Bawah Tembakan Kritik
Situs UOL tidak kalah garangnya dalam menyerang pelatih asal Italia tersebut. Jurnalis Arnaldo Ribeiro menilai Ancelotti menampilkan “penampilan yang bencana dalam pertandingan penentu.”
Ribeiro secara spesifik mengkritik pergantian pemain yang dilakukan Ancelotti. Ia berpendapat bahwa keputusan memasukkan Endrick dan Neymar menggantikan kedua sayap, sebagai respons terhadap desakan penonton, justru “menghancurkan tim.” Ungkapan paling kontroversial yang dilontarkan Ribeiro adalah, “Bukan Neymar yang ‘mati’ saat memeluk Ancelotti, melainkan Ancelotti yang ‘mati’ saat memeluk Neymar.” Pernyataan ini secara gamblang menunjukkan betapa Ancelotti dianggap lebih menjadi korban dari situasi tersebut.
Dalam laporan lain, jurnalis Pedro López dan Thiago Arantes menyatakan bahwa Brasil edisi ini menampilkan “penampilan terburuk di Piala Dunia sejak 1990, yang juga merupakan yang terburuk dalam karier Carlo Ancelotti bersama tim papan atas.” Jurnalis Mauro César Pereira turut menyalahkan Ancelotti, menegaskan bahwa perubahan taktik, terutama memasukkan Neymar, adalah penyebab hilangnya keseimbangan tim di menit-menit akhir.
“Skandal” Pemanggilan Neymar dan Hilangnya Identitas
Serangan tidak hanya tertuju pada staf pelatih. Jurnalis Mili Lacombe menerbitkan artikel dengan judul yang provokatif: “Brasil: Kecil, Pengecut, Tunduk, Konyol, dan Memalukan.” Ia mengkritik keras keputusan memanggil kembali Neymar, menyebutnya sebagai “skandal” yang tidak dapat dibenarkan.
Lacombe juga melontarkan kritik tajam terhadap generasi pemain saat ini. Ia berujar, “Ini bukanlah Brasil rakyat, melainkan Brasil penguasa, Brasil yang sangat individualis, yang telah kehilangan identitasnya yang selama ini menjadi ciri khas sepak bola Brasil.”
Dengan tersingkirnya yang menyakitkan ini, Brasil tidak hanya menghadapi akhir sebuah turnamen, tetapi juga memasuki fase baru yang penuh ketidakpastian. Masa depan tim nasional, nasib Carlo Ancelotti, dan apakah era Neymar telah benar-benar berakhir, menjadi pertanyaan besar yang menggantung di udara.
Add wartakita.id as a preferred source on Google























