Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas seiring tudingan Iran bahwa Amerika Serikat dan Israel tengah merencanakan operasi militer darat di balik layar, kendati di saat yang sama mereka membuka jalur diplomasi. Pernyataan ini menambah kompleksitas dalam lanskap politik regional yang sudah rapuh.
- Iran menuduh AS dan Israel berencana melancarkan serangan darat sambil terlibat dalam negosiasi.
- Ketua parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf, menyatakan pasukan Iran siap menghadapi kemungkinan serangan tersebut.
- Laporan The Washington Post mengindikasikan Pentagon telah menyusun rencana operasi darat non-invasi skala penuh di Iran.
- AS dilaporkan memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah, termasuk kedatangan kapal USS Tripoli dan 3.500 pasukan tambahan.
- Iran mengkritik proposal perdamaian 15 poin AS sebagai upaya untuk memaksa penyerahan diri.
Iran Ajukan Tudingan Keras Terhadap AS dan Israel
Ketua parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf, secara tegas menyatakan bahwa musuh sedang mengirimkan pesan diplomasi dan dialog, namun secara diam-diam merencanakan serangan darat. Menurutnya, pasukan Iran telah bersiap untuk menghadapi kemungkinan pasukan Amerika Serikat memasuki wilayah mereka.
“Musuh, secara terbuka, mengirim pesan negosiasi dan dialog, tetapi secara diam-diam merencanakan serangan darat,” ujar Ghalibaf, seperti dilaporkan oleh kantor berita IRNA dan Tasnim. Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat tidak menyadari kesiapan Iran dalam menghadapi potensi pengerahan pasukan darat AS.
Konfirmasi Laporan Pentagon dan Penguatan Militer AS
Pernyataan Ghalibaf muncul hanya beberapa jam setelah laporan dari The Washington Post yang menyebutkan bahwa Pentagon telah menyusun rencana operasi darat di Iran selama berminggu-minggu. Rencana ini, menurut laporan tersebut, tidak sampai pada skala invasi penuh, namun tetap mengindikasikan adanya persiapan militer yang lebih dari sekadar retorika.
Di sisi lain, Komando Sentral AS (CENTCOM) mengonfirmasi melalui unggahan di platform X bahwa mereka telah memperkuat kekuatan militer di wilayah Timur Tengah. Kedatangan kapal USS Tripoli di Timur Tengah pada Sabtu (28/3), bersama dengan tambahan 3.500 pasukan, menjadi bagian dari upaya penguatan tersebut. CENTCOM juga menyatakan pengerahan aset militer termasuk pesawat angkut, pesawat tempur serbu, serta aset amfibi dan taktis.
Klaim Proposal Perdamaian dan Respons Iran
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, sebelumnya menyatakan bahwa Iran belum memberikan tanggapan resmi terhadap 15 poin proposal perdamaian yang diajukan oleh Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik. Meskipun demikian, ia mencatat adanya “kemauan untuk membicarakan hal-hal tertentu” dari pihak Iran.
Namun, Ghalibaf melihat proposal tersebut sebagai taktik diplomatik yang gagal. Ia menuding Amerika Serikat berusaha “mengejar melalui diplomasi apa yang gagal dicapai dalam perang” melalui 15 poin yang mereka ajukan. Pernyataan ini menegaskan sikap keras Iran yang menolak setiap bentuk tekanan atau tuntutan penyerahan diri.
“Selama Amerika mencari penyerahan Iran, tanggapan rakyat Iran terhadap keinginan ini jelas. Kami tidak akan pernah menerima penghinaan,” tegas Ghalibaf.
Kontradiksi Pernyataan Trump dan Realitas Lapangan
Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump sempat menyatakan optimismenya terhadap perkembangan negosiasi, bahkan menyebut pembicaraan untuk mengakhiri perang berjalan “sangat baik” dan ia akan memperpanjang tenggat waktu serangan terhadap pembangkit listrik Iran. Pernyataan ini, bagaimanapun, berbenturan dengan klaim Teheran yang bersikeras bahwa mereka tidak sedang bernegosiasi.
Menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan pengerahan pasukan ke Iran, sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menjelaskan bahwa tugas Pentagon adalah melakukan persiapan demi memberikan fleksibilitas maksimal kepada Panglima Tertinggi, yang tidak berarti Presiden telah membuat keputusan final. Pernyataan Trump sendiri kepada wartawan pada 20 Maret juga mengindikasikan penolakannya terhadap gagasan penempatan pasukan.
“Jika saya melakukannya, saya pasti tidak akan memberi tahu Anda, tetapi saya tidak menempatkan pasukan,” ujar Trump.
Perkembangan ini terjadi di tengah situasi yang menelan korban dari pihak AS, dengan 13 anggota dinas tewas selama perang dengan Iran dan dua lainnya meninggal karena sebab non-pertempuran. Ketegangan diplomatik dan militer ini memerlukan analisis mendalam mengenai niat sebenarnya dari setiap pihak yang terlibat.






















