Tindakan militer Amerika Serikat yang menghancurkan sebuah kapal perang Iran di lepas pantai Sri Lanka telah memicu keprihatinan internasional dan upaya penyelamatan intensif oleh otoritas Sri Lanka. Kapal perang Iran, yang membawa lebih dari 100 awak, menjadi sasaran serangan torpedo yang dilaporkan berasal dari kapal selam AS, beberapa jam setelah berpartisipasi dalam latihan gabungan dengan Angkatan Laut India. Insiden ini terjadi di perairan internasional, menambah kompleksitas situasi geopolitik yang sudah memanas akibat konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Wartakita.id – Sri Lanka tengah mengerahkan seluruh upayanya untuk “melindungi nyawa” awak kapal perang Iran yang terdampak insiden penyerangan di lepas pantai negara tersebut. Menteri Kesehatan Sri Lanka, Nalinda Jayatissa, mengonfirmasi pada Kamis, 5 Maret 2026, bahwa kapal tersebut berada di zona ekonomi eksklusif negara itu, namun di luar perairan teritorialnya. “Kami melakukan yang terbaik untuk melindungi nyawa,” ujar Jayatissa di hadapan parlemen, menyoroti keseriusan situasi kemanusiaan yang terjadi.
- Kapal perang Iran yang diserang AS membawa lebih dari 100 awak.
- Serangan terjadi di perairan internasional Samudera Hindia setelah kapal berpartisipasi dalam latihan gabungan dengan India.
- Sri Lanka mengerahkan upaya penyelamatan dan medis bagi korban selamat.
- Iran mengecam keras tindakan AS, menyebutnya sebagai “kekejaman di laut” dan mengancam akan ada penyesalan.
- Terdapat dugaan bahwa serangan ini direncanakan oleh AS, yang menarik diri dari latihan militer di kawasan tersebut pada menit terakhir.
Kronologi Penyerangan dan Dampak Kemanusiaan
Peristiwa dramatis ini terungkap sehari setelah kapal selam Amerika Serikat dilaporkan menghancurkan fregat Iran, IRIS Dena, yang baru saja kembali dari latihan gabungan di India. Serangan di perairan internasional Samudera Hindia terhadap fregat yang dilaporkan tidak bersenjata itu dilaporkan menewaskan sedikitnya 87 pelaut. Sri Lanka, yang mengetahui bahwa kapal tersebut membawa lebih dari 100 awak, menyatakan keprihatinan mendalam dan khawatir kapal tersebut juga bisa menjadi sasaran serupa.
Dampak Langsung: 130 Awak dalam Bahaya
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Kamis menginformasikan bahwa 130 pelaut berada di atas kapal perang Iran yang menjadi korban serangan AS. Melalui platform media sosial X, Araghchi mengecam keras tindakan tersebut. “AS telah melakukan kekejaman di laut, 2.000 mil jauhnya dari pantai Iran. Kapal fregat Dena, tamu Angkatan Laut India yang membawa hampir 130 pelaut, dihantam di perairan internasional tanpa peringatan,” tulis Araghchi. Ia menambahkan peringatan keras, “Ingat kata-kata saya: AS akan sangat menyesali preseden yang telah mereka tetapkan.”
Upaya Pemulangan Jasad dan Perawatan Korban Selamat
Sementara itu, di kota pelabuhan Galle, Sri Lanka selatan, otoritas setempat pada Kamis telah bersiap untuk menyerahkan jenazah 87 pelaut Iran yang tewas dalam serangan torpedo yang diklaim oleh militer AS. Para pejabat di rumah sakit utama Galle melaporkan bahwa 32 warga Iran yang berhasil diselamatkan masih menjalani perawatan intensif di bawah pengamanan ketat dari pihak kepolisian dan unit komando elit. Unit Perawatan Darurat rumah sakit tersebut ditutup untuk pengunjung demi memastikan kenyamanan dan privasi pasien Iran. Seorang perawat yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kepada France24 bahwa sebagian besar korban selamat mengalami luka ringan, namun ada beberapa yang menderita patah tulang dan luka bakar.
“Kami melakukan yang terbaik untuk melindungi nyawa.” – Nalinda Jayatissa, Menteri Kesehatan Sri Lanka
Juru bicara Angkatan Laut Sri Lanka, Buddhika Sampath, mengonfirmasi bahwa kapal-kapal Angkatan Laut Sri Lanka terus melakukan operasi pencarian terhadap para pelaut Iran yang masih hilang. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, telah mengonfirmasi keterlibatan pasukan Amerika dalam serangan terhadap kapal perang Iran tersebut, yang sebelumnya berpartisipasi dalam latihan angkatan laut bersama di lepas pantai India bulan lalu. IRIS Dena adalah fregat kelas Moudge yang merupakan bagian dari Armada Selatan Angkatan Laut Iran. Sebelum insiden tragis ini, kapal tersebut aktif dalam latihan angkatan laut multinasional Milan 2026 dan tinjauan armada yang diselenggarakan di Teluk Bengal, sebelum memulai perjalanan pulangnya.
Respon dan Analisis Internasional
Insiden ini menuai kritik tajam dari berbagai pihak, termasuk mantan menteri luar negeri India, Kanwal Sibal. Ia mengutuk serangan tersebut dengan menyatakan, “Kapal Iran tidak akan berada di tempatnya jika kita tidak mengundangnya untuk berpartisipasi dalam latihan Milan kita. Kita adalah tuan rumahnya.” Sibal juga menekankan bahwa sesuai protokol latihan, kapal Iran seharusnya tidak membawa amunisi dan dalam kondisi tidak berdaya. Ia menduga serangan kapal selam AS terhadap fregat Iran telah direncanakan, mengingat AS mengetahui kehadiran kapal Iran di kawasan tersebut karena undangan India, namun menarik diri dari partisipasi pada menit terakhir.
India Angkat Bicara: Menegaskan Ketidaklibatan dan Tanggung Jawab Moral
Sibal lebih lanjut menuding bahwa AS telah mengabaikan sensitivitas India, mengingat kapal Iran berada di perairan tersebut atas undangan India. “Kita jauh dari bertanggung jawab secara politik atau militer atas serangan AS,” tegasnya, seraya menambahkan bahwa tanggung jawab India hanya berada pada “tingkat moral dan kemanusiaan.” Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Perdana Menteri Narendra Modi mengenai insiden tersebut. Namun, pemerintah India telah mengklaim bahwa serangan terhadap kapal Iran itu tidak berasal dari wilayah negara mereka.
Serangan terhadap kapal perang Iran ini terjadi di tengah eskalasi ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Sejak Sabtu, Israel dan AS dilaporkan telah melancarkan serangan skala besar terhadap Iran, yang menewaskan lebih dari 1.100 orang, termasuk tokoh penting seperti Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan beberapa pejabat militer senior. Iran sendiri telah membalas serangan tersebut dengan melancarkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS.
Implikasi Geopolitik dan Peran Sri Lanka
Keberadaan kapal perang Iran di lepas pantai Sri Lanka, meskipun dalam perjalanan pulang dari latihan militer, menempatkan negara kepulauan itu dalam posisi yang sulit. Upaya Sri Lanka untuk memastikan keselamatan awak kapal Iran menunjukkan komitmennya terhadap prinsip kemanusiaan dan stabilitas maritim di kawasan. Namun, insiden ini juga mengangkat pertanyaan tentang dinamika keamanan di Samudera Hindia dan potensi Sri Lanka terseret dalam konflik yang lebih besar.
Peran Sri Lanka sebagai tuan rumah bagi upaya penyelamatan dan penyerahan jenazah menunjukkan posisinya sebagai negara yang mencoba menavigasi lanskap geopolitik yang kompleks. Dalam konteks ini, kepatuhan terhadap hukum internasional dan prinsip-prinsip kemanusiaan menjadi krusial, sekaligus menjaga kepentingan nasionalnya di tengah ketegangan regional dan global yang semakin meningkat.























