Industri semikonduktor Tiongkok mencatat sejarah baru dengan pendapatan tertinggi sepanjang tahun lalu. Lonjakan ini bukan hanya kebetulan, melainkan hasil dari konvergensi kekuatan antara permintaan AI yang eksplosif, kelangkaan chip memori global, dan respons strategis terhadap pembatasan ekspor Amerika Serikat.
Rekor Pendapatan, Ambisi Mandiri, dan Respons Strategis Tiongkok
Langkah pembatasan ekspor teknologi oleh Washington, alih-alih menahan, justru menjadi katalisator bagi Tiongkok untuk memperkuat kapabilitas industri teknologi domestiknya secara masif. Para analis dan pelaku industri sepakat bahwa tren lonjakan pendapatan ini diperkirakan akan terus berlanjut di tahun ini. Keberhasilan perusahaan chip Tiongkok memanfaatkan tingginya permintaan dari raksasa teknologi domestik yang gencar membangun infrastruktur kecerdasan buatan (AI) menjadi kunci utama.
Paul Triolo, mitra di Albright Stonebridge Group, memberikan pandangan tajam bahwa pembatasan ekspor AS secara ironis telah menjadi “bahan bakar roket” bagi permintaan chip di Tiongkok. Pertumbuhan ini juga memberikan dampak positif pada sektor-sektor krusial lainnya seperti kendaraan listrik dan pusat data AI.
“Pembatasan ekspor AS dalam beberapa tahun terakhir telah menambah ‘bahan bakar roket’ pada permintaan chip, memperkuat pertumbuhan dari bidang lain seperti kendaraan listrik dan pusat data AI.”
Analisis ini menggarisbawahi bagaimana tekanan eksternal dapat mendorong inovasi dan penguatan kapasitas domestik, sebuah fenomena yang patut dicermati oleh para pemain global, termasuk di Amerika Serikat, dan menjadi sorotan utama bagi pengamat industri di seluruh dunia.
Kinerja Unggulan Perusahaan Chip Tiongkok di Panggung Global
Beberapa perusahaan chip Tiongkok menunjukkan performa yang luar biasa, mengukuhkan posisi mereka di pasar:
- Semiconductor Manufacturing International Co. (SMIC): Raksasa chip terbesar di Tiongkok ini melaporkan lonjakan pendapatan sebesar 16% pada tahun lalu, mencapai rekor pendapatan senilai US$ 9,3 miliar (sekitar Rp 158,1 triliun). Proyeksi optimistis menunjukkan pendapatan SMIC berpotensi menembus US$ 11 miliar (sekitar Rp 187 triliun) pada tahun 2026.
- Hua Hong: Produsen chip Tiongkok lainnya ini mencatatkan rekor pendapatan kuartal keempat sebesar US$ 659,9 juta (sekitar Rp 11,21 miliar) dan memproyeksikan target penjualan yang stabil di kisaran US$ 650 juta hingga US$ 660 juta.
- Moore Threads: Perusahaan ambisius yang berambisi menyaingi dominasi Nvidia ini memperkirakan pendapatan tahun 2025 berkisar antara 1,45 miliar hingga 1,52 miliar yuan (sekitar Rp 3,5 triliun hingga Rp 3,6 triliun). Angka ini mencerminkan kenaikan fantastis sebesar 231% hingga 247% secara tahunan, sebuah lonjakan yang signifikan.
AI dan Kendaraan Listrik: Pendorong Utama Permintaan Chip
Pertumbuhan pesat di sektor kendaraan listrik dan infrastruktur pendukungnya telah memberikan sokongan kuat bagi permintaan chip “mature node” atau teknologi yang kurang canggih. Namun, di sisi lain, ledakan tren AI secara drastis mendorong lonjakan permintaan untuk chip yang lebih canggih.
Mengisi Kesenjangan dan Peluang Domestik Pasc-Sanksi
Pembatasan AS yang memutus akses Tiongkok terhadap teknologi kunci telah mempercepat dorongan mandiri Beijing. Langkah terbaru AS yang membatasi pengiriman chip Nvidia ke Tiongkok justru mendorong perusahaan-perusahaan lokal untuk beralih pada alternatif domestik. Huawei, sebagai contoh, mulai mengisi kekosongan tersebut meskipun performa produknya masih berada di bawah standar produk AS. Parv Sharma, analis senior di Counterpoint Research, menekankan bahwa meskipun Tiongkok belum memimpin dalam performa GPU puncak, solusi buatan dalam negeri ini berhasil menutup “celah komputasi” domestik dan berkontribusi pada rekor pendapatan perusahaan lokal.
Sektor Chip Memori: Berkah Kelangkaan Global
Sektor chip memori di Tiongkok turut merasakan dampak positif dengan lonjakan pendapatan yang signifikan. Kelangkaan global chip memori, komponen vital bagi pusat data AI dan elektronik konsumen, memicu lonjakan harga yang belum pernah terjadi sebelumnya. ChangXin Memory Technologies (CXMT), pemain memori terkemuka Tiongkok, mencatatkan lonjakan pendapatan 130% secara tahunan menjadi lebih dari 55 miliar yuan atau setara US$ 8 miliar (sekitar Rp 136 triliun). Pembatasan ekspor chip High-Bandwidth Memory (HBM) ke Tiongkok membuka peluang besar bagi CXMT. Phelix Lee, analis ekuitas senior di Morningstar, menyatakan bahwa pasca pembatasan HBM, CXMT menjadi satu-satunya alternatif domestik yang mampu memenuhi kebutuhan pasar Tiongkok.
Tantangan Mendalam dan Prospek Masa Depan
Meskipun berhasil mencetak rekor, Tiongkok masih menghadapi tantangan yang tidak ringan. SMIC dan Hua Hong belum mampu memproduksi chip paling canggih secara massal seperti TSMC di Taiwan, sebagian besar disebabkan oleh kendala akses terhadap alat produksi tercanggih dari ASML (Belanda) akibat pembatasan ekspor. Triolo menegaskan bahwa Tiongkok sedang berupaya keras untuk merekonstruksi sebagian besar rantai pasokan semikonduktornya, sebuah tugas monumental yang membutuhkan waktu dan sumber daya yang sangat besar.
“China unik karena pada dasarnya mencoba menciptakan kembali sebagian besar dari seluruh rantai pasokan semikonduktor, dan ini tentu saja cukup menantang serta akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengatasi kontrol AS di area-area utama.”
Sharma mengingatkan akan adanya risiko kelebihan kapasitas untuk chip yang kurang canggih. Keberlanjutan pertumbuhan industri semikonduktor Tiongkok akan sangat bergantung pada kemampuannya untuk naik ke rantai nilai yang lebih tinggi, termasuk dalam pengembangan HBM tingkat lanjut dan node logika generasi berikutnya. Bagi Amerika Serikat dan pasar global, perkembangan ini menandakan pergeseran lanskap teknologi yang dinamis, di mana persaingan dan kolaborasi akan terus mewarnai masa depan industri semikonduktor.























