Filipina mengumumkan status darurat energi nasional pada Selasa, 24 Maret 2026, sebagai respons langsung terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengancam stabilitas pasokan bahan bakar domestik.
Deklarasi Darurat Energi Nasional Filipina
Keputusan ini diambil oleh Presiden Ferdinand Marcos setelah Kementerian Energi Filipina mengusulkan peningkatan produksi pembangkit listrik tenaga batu bara untuk meredam lonjakan tarif listrik. Pernyataan resmi menegaskan bahwa darurat ini dinyatakan mengingat bahaya konflik Timur Tengah terhadap ketersediaan dan stabilitas energi negara.
Tindakan Darurat dan Kewenangan yang Diberikan
Perintah eksekutif memberikan wewenang kepada Departemen Energi untuk melakukan pembayaran di muka sebesar 15 persen guna mengamankan kontrak bahan bakar serta menindak praktik penimbunan. Sementara itu, Departemen Transportasi diberi kewenangan untuk mengarahkan subsidi bahan bakar bagi transportasi umum, menangguhkan biaya tol dan penerbangan, serta mempercepat bantuan bagi individu yang terdampak krisis.
Ketergantungan Tinggi pada Energi Impor
Filipina, negara kepulauan dengan 116 juta penduduk, memiliki salah satu biaya energi tertinggi di Asia dan sangat bergantung pada impor bahan bakar, terutama batu bara yang menyumbang sekitar 60 persen kebutuhan listriknya. Menteri Energi, Sharon Garin, menjelaskan bahwa kenaikan harga gas alam cair (LNG) memaksa Filipina untuk sementara waktu kembali mengandalkan bahan bakar fosil.
Strategi Jangka Pendek: Peningkatan Produksi Batu Bara
Langkah sementara ini mencakup optimalisasi penggunaan batu bara lokal dan potensi peningkatan pembelian dari pemasok utama seperti Indonesia. “Kami berbicara dengan perusahaan pembangkit listrik, pembangkit listrik tenaga batu bara, untuk memeriksa seberapa banyak mereka dapat meningkatkan produksi listrik mereka,” ujar Garin. Kebijakan ini diharapkan dapat dimulai secepatnya pada 1 April untuk meredam kenaikan tarif listrik.
Dukungan dari Indonesia
Dalam menghadapi situasi ini, Indonesia telah memberikan jaminan bahwa tidak akan ada pembatasan impor batu bara ke Filipina, memberikan kepastian pasokan bagi negara tetangga tersebut.
Harapan dari Penemuan Gas Alam Malampaya
Di tengah tantangan energi, Presiden Marcos juga mengumumkan penemuan cadangan gas alam yang signifikan di dekat ladang gas Malampaya pada Januari lalu. Penemuan ini diharapkan dapat memperpanjang umur ladang gas tersebut, yang kini memasok sekitar 40 persen listrik di pulau utama Luzon dan diperkirakan akan habis dalam beberapa tahun mendatang, menawarkan secercah harapan untuk diversifikasi dan kemandirian energi di masa depan.























