Pemerintah Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, telah mengambil langkah strategis dengan menjadikan Festival Pinisi sebagai agenda tahunan. Keputusan ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah komitmen serius untuk menggenjot sektor pariwisata sekaligus menjaga kelestarian warisan budaya bahari yang mendunia.
Festival Pinisi: Tanggung Jawab Bersama Demi Kemajuan Bulukumba
Bupati Bulukumba, Andi Muchtar Ali Yusuf, menekankan bahwa keberhasilan Festival Pinisi adalah misi kolektif. “Festival Pinisi ini adalah agendanya Bulukumba, agenda kita semua, bukan hanya agendanya Dinas Pariwisata. Saya minta semuanya berpartisipasi menyukseskan Festival Pinisi,” tegasnya. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya sinergi antar Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan seluruh elemen masyarakat. Keberhasilan festival ini diharapkan menjadi kebanggaan daerah dan momentum untuk mempromosikan identitas Bulukumba, khususnya ikon kapal pinisi dan budaya adat Ammatoa Kajang yang telah diakui dunia.
Kebersihan Destinasi: Fondasi Utama Pariwisata Berkelanjutan
Dalam upaya membangun citra Bulukumba yang positif di mata wisatawan, Bupati Andi Utta secara khusus menyoroti isu kebersihan di kawasan wisata. Beliau mengingatkan, “Saya ingatkan, tolong jangan buang sampah di jalan poros Bira-Bonto Bahari, termasuk di sekitar jalan Bijawang yang sering ada sampah plastik. Tolong jangan jorok. Bulukumba ini milik kita bersama.” Lebih lanjut, Bupati menekankan bahwa menjaga kebersihan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah, tetapi seluruh masyarakat. Lingkungan yang bersih, rapi, dan nyaman menjadi kunci utama untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dan memutar roda perekonomian lokal, terutama di destinasi unggulan seperti Tanjung Bira.
Menyambut Festival Pinisi 2026: Rangkaian Kemeriahan Budaya dan Ekonomi
Festival Pinisi 2026 dijadwalkan akan berlangsung pada tanggal 15 hingga 17 Oktober 2026. Acara ini didedikasikan untuk menghidupkan kembali tradisi pembuatan dan peluncuran kapal pinisi, sebuah warisan budaya takbenda yang diakui oleh UNESCO. Rangkaian kegiatan yang telah disusun meliputi:
- Annyorong Lopi: Prosesi sakral peluncuran kapal pinisi ke laut.
- Andingingi: Ritual budaya khas yang sarat makna.
- Karnaval Budaya: Peragaan kekayaan seni dan tradisi Bulukumba.
- Tari Tradisi: Pertunjukan tari-tarian daerah yang memukau.
- Pertunjukan Seni: Berbagai bentuk ekspresi seni lokal dan kontemporer.
- Mukbang Ikan: Kegiatan kuliner yang menampilkan hasil laut segar.
- Pameran Sailing Pinisi: Presentasi keindahan dan fungsionalitas kapal pinisi.
- Expo Ekonomi Kreatif (Ekraf) dan UMKM Lokal: Wadah pemberdayaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Melalui Festival Pinisi, Bulukumba tidak hanya berupaya menarik perhatian wisatawan nasional maupun internasional, tetapi juga memperkuat identitas budaya dan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian masyarakat setempat.
Kontributor: H. Gunadi
Penyunting: RR. Nur























