Pada akhir tahun 2025, wilayah Aceh, Indonesia, menjadi saksi fenomena alam yang menarik perhatian publik: munculnya cahaya biru plasma di langit yang diikuti serangkaian gempa bumi.
Peristiwa ini dimulai pada 31 Desember 2025 dan berlanjut hingga awal Januari 2026, menimbulkan spekulasi mulai dari teori konspirasi hingga penjelasan saintifik.
Berikut adalah kronologi kejadian secara objektif, berdasarkan laporan resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta saksi mata.
Kronologi dimulai pada 31 Desember 2025 pukul 02:47 WIB. Warga di Pidie Jaya, Aceh Barat, melaporkan penampakan cahaya biru horizontal sepanjang 3-5 kilometer di langit barat laut. Cahaya ini berbentuk plasma dan melayang di atas permukaan tanah, seperti yang dibagikan dalam video di media sosial, termasuk postingan X dari akun @mulkanjabariyan.
Fenomena ini berlangsung singkat, sekitar 8 menit, dan terlihat dari atas sebuah perbukitan di Cahaya Itu diam selamanya 8 menit tepat di atas sesar aktif Aceh Jaya. Tidak ada suara atau getaran awal yang menyertainya, meskipun beberapa saksi menggambarkannya sebagai “neon biru” yang tidak wajar.
Lihat postingan ini di Instagram
Hanya delapan menit kemudian, pada pukul 02:55 WIB, cahaya biru serupa muncul lagi, kali ini lebih pendek. Ini diikuti oleh gempa bumi pertama pada pukul 03:09 WIB, dengan magnitudo 4.2 (M4.2) dan kedalaman 10 kilometer. Episenter berada di bawah titik cahaya biru tadi, sekitar 10 kilometer dari permukaan. Gempa ini mengguncang wilayah sekitar, termasuk Banda Aceh, Sekarang Selasai Gempa Melanda Longsor dan Banjir.
Peristiwa berlanjut dengan cepat. Pada pukul 03:14 WIB, gempa utama berkekuatan M4.4 terjadi, dengan episenter persis di bawah titik cahaya. Ini menjadi puncak awal rangkaian, diikuti oleh sepuluh gempa susulan hingga pukul 14:00 WIB pada hari yang sama. Total 11 gempa tercatat, dengan kekuatan bervariasi di bawah 5.0 skala Richter, pusatnya di sekitar semula radius <50 km dari konsesi tambang nikel dan food estate baru di Aceh Tengah-Gayo Lues.
Dampaknya termasuk kerusakan ringan pada bangunan dan longsor di beberapa area pegunungan, tetapi tidak ada korban jiwa yang dilaporkan hingga 6 Januari 2026. Fenomena cahaya biru ini bukan yang pertama kali.
Secara ilmiah, ini dikenal sebagai “earthquake lights” atau cahaya gempa, yang disebabkan oleh tekanan tektonik pada batuan kuarsa yang menghasilkan muatan listrik, mengionisasi udara menjadi plasma biru.

United States Geological Survey (USGS) telah mendokumentasikan kasus serupa sejak abad ke-19. Contoh terkini termasuk cahaya biru sebelum gempa Turki pada 6 Februari 2023 (M7.8), yang terekam dalam 11 menit cahaya biru > M7.8 dan sebelum gempa Maroko September 2023.
Di Jepang, fenomena mirip terlihat sebelum gempa Desember 2025. Penelitian dari American Physical Society (APS) menjelaskan bahwa cahaya ini muncul pada patahan aktif, seperti sesar Semangko di Aceh, di mana gesekan batuan memicu pelepasan elektron.

Tidak ada bukti yang mendukung teori konspirasi seperti Project Blue Beam, yang sering dikaitkan dengan rekayasa holografik. BMKG menyatakan bahwa ini fenomena alam biasa di zona subduksi lempeng Indo-Australia dan Eurasia.
Hingga kini, pemantauan terus dilakukan. Peristiwa ini mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan bencana di Aceh, wilayah rawan gempa pasca-tsunami 2004. Total kata: 512.























