Dalam dunia infrastruktur IT, satu detik adalah keabadian. Kita bicara tentang latency, tentang kecepatan transfer data yang harus secepat kedipan mata pada tiap simpul dan cluster wired-wireless, dari backbone hingga distribusi hotspot di kantor kelurahan.
Di kota besar, kita dididik untuk membenci penundaan. Dikejar tenggat, terjebak dalam kalender digital yang penuh sesak, merasa bersalah jika ada satu jam yang terbuang tanpa “menghasilkan” sesuatu. Kita memperlakukan waktu seperti uang yang harus terus dibelanjakan—dan panik jika ada kembalian yang tersisa.
Lalu Ramadan datang dan mengubah hukum fisika yang kita yakini.
Di hari kelima ini, saat tubuh mulai beradaptasi namun rasa haus tetap memberi sinyal yang jujur, kita mulai menyadari satu hal: waktu memiliki berat.
Pernahkah Anda memperhatikan betapa berbedanya bobot lima menit di jam sepuluh pagi dengan lima menit sebelum azan Magrib? Di jam sepuluh, lima menit berlalu tanpa jejak di balik tumpukan surel. Tapi di pukul 17.55, lima menit terasa seperti pendakian yang curam. Setiap detik berdenyut di urat nadi.
Kita tidak lagi menghabiskan waktu. Kita merasakan waktu.
Para petani di pedesaan tidak terlalu sering melirik jam tangan. Waktu mereka melingkar dan organik—mereka membacanya lewat pergeseran bayangan pohon, perubahan warna langit menjelang sore. Bagi mereka, menunggu bukan pemborosan. Menunggu adalah bagian dari ibadah menanam.
Mereka tahu bahwa mempercepat waktu adalah kemustahilan. Maka yang mereka lakukan adalah menghuni setiap detiknya dengan sabar.
Puasa memaksa kita—manusia urban yang gila kecepatan—untuk kembali ke ritme itu. Berhenti membunuh waktu, dan mulai menghargai detik.
Dalam hari-hari biasa, kita jarang benar-benar ada. Kita makan siang sambil memikirkan rapat jam tiga. Kita tidur sambil memikirkan cicilan bulan depan. Kita hidup di masa depan atau masa lalu, dan membiarkan saat ini berlalu begitu saja tanpa sempat disentuh.
Tapi di detik-detik menjelang berbuka, konsentrasi kita mencapai puncaknya. Mata menatap gelas air. Telinga menajam menunggu suara azan. Batin bergetar dalam doa atau sekadar harap. Inilah yang disebut para filsuf sebagai kairos—momen di mana waktu tidak lagi sekadar angka, melainkan kualitas kehadiran.
Kita hadir sepenuhnya. Utuh.
Bagi kawan-kawan yang tidak berpuasa, latihan ini tetap relevan. Berapa kali dalam sehari kita benar-benar sadar bahwa kita sedang bernapas? Berapa kali kita menyesap teh hangat tanpa satu mata melirik gawai?
Menghargai detik berarti menyadari bahwa hidup adalah rangkaian sekarang yang tak pernah berulang.
Jika detik-detik berbuka adalah cicipan dari kebahagiaan bertemu Tuhan, maka momen-momen terakhir sebelum azan adalah saat jarak antara kita dan Sang Pencipta terasa paling tipis. Kita bukan sekadar menghitung waktu karena lapar. Kita sedang menikmati puncak dari sebuah penantian—dan penantian itu sendiri adalah bagian dari keindahannya.
Hari ini, mari berhenti sejenak dari obsesi menjadi produktif. Mari belajar untuk sekadar ada.
Rasakan beratnya detik. Dengarkan langkah waktu yang lambat. Sadari bahwa setiap saat yang kita lalui dengan kesadaran adalah perjumpaan kecil dengan kebenaran.
Sebab bukan jumlah tahun yang menentukan kualitas hidup—melainkan berapa banyak detik yang berhasil kita huni dengan penuh cinta dan kesadaran.
Selamat menghuni waktu.























