Eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menghadirkan tantangan signifikan bagi Indonesia, khususnya dalam menjaga pasokan energi nasional. Dua kapal tanker milik PT Pertamina dilaporkan tersendat di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi pintu masuk utama bagi sebagian besar pasokan minyak mentah dan produk energi lainnya ke Indonesia.
Wartakita.id – Kedua kapal tersebut saat ini tengah bersandar sementara di lokasi yang lebih aman sambil menunggu negosiasi dan komunikasi lebih lanjut untuk menemukan solusi. “Ada dua kargo yang terjebak di Selat Hormuz punya Pertamina. Sekarang kapal itu lagi sandar untuk cari tempat yang lebih aman. Sambil kita melakukan negosiasi, komunikasi yang lebih baik agar kita cari solusinya,” ujar sumber tersebut mengutip statemen kementerian.
Ancaman Langsung pada Logistik Energi Nasional
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia, dilalui oleh sekitar 30% minyak mentah global yang diangkut melalui laut. Bagi Indonesia, peranannya semakin krusial mengingat besarnya porsi impor minyak mentah dan produk energi lainnya yang berasal dari Timur Tengah. Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, sebelumnya telah menyampaikan bahwa sekitar 19 persen dari total impor minyak mentah Pertamina berasal dari kawasan Timur Tengah dan melewati Selat Hormuz. Keterlambatan pengiriman akibat penutupan atau pembatasan akses di selat ini dapat langsung mengancam ketersediaan pasokan bahan bakar minyak (BBM) dan gas cair (LPG) di dalam negeri.
Upaya Mitigasi dan Diversifikasi Sumber Pasokan
Menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian ini, pemerintah tidak tinggal diam. Selain berupaya keras untuk menyelesaikan hambatan logistik melalui jalur diplomasi, Kementerian ESDM dan Pertamina juga proaktif mencari alternatif sumber pasokan energi. Menteri ESDM mengungkapkan adanya penjajakan sumber pasokan alternatif, termasuk dari Amerika Serikat, untuk menutupi kekurangan yang mungkin timbul akibat terhambatnya kargo dari Timur Tengah. “Sambil kita memikirkan itu maka kita mencari alternatifnya di Amerika. Untuk bisa melakukan, menutupi apa yang ada pada dua kargo itu,” jelasnya.
Langkah diversifikasi ini sangat penting untuk mengurangi ketergantungan pada satu rute atau satu sumber pasokan. Dengan memiliki opsi cadangan, Indonesia dapat meminimalisir risiko kelangkaan pasokan dan menjaga stabilitas harga energi, meskipun kebijakan ini tentu memerlukan perhitungan matang terkait biaya dan logistik.
Ketahanan Energi Nasional dan Antisipasi Beban Subsidi
Meskipun mengakui adanya tantangan geopolitik yang kompleks, Menteri ESDM menegaskan bahwa untuk saat ini pasokan energi nasional masih dalam kondisi aman. Namun, ia juga mengakui bahwa pemerintah perlu terus melakukan perhitungan cermat terkait potensi lonjakan beban subsidi energi. Kenaikan harga minyak mentah dunia yang saat ini sudah melampaui asumsi Harga Minyak Mentah Indonesia (ICP) dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 dapat memberatkan anggaran negara jika tidak dikelola dengan baik.
“Saya meyakinkan kepada seluruh masyarakat Indonesia bahwa kita tahu geopolitik tidak dalam kondisi yang baik-baik saja. Tapi untuk kesiapan pemerintah dalam mendesain, mempersiapkan semua alternatif untuk ketersediaan BBM dan LPG. Insyaallah aman. Yang enggak bisa itu adalah memang ada terjadi kenaikan dan itu berdampak pada subsidi. Jadi sekarang kita lagi menghitung secara baik dengan hati-hati,”
tegasnya. Perhitungan yang hati-hati ini krusial untuk memastikan bahwa kebijakan subsidi energi tetap berpihak pada masyarakat tanpa mengorbankan stabilitas fiskal negara.
Pemantauan Intensif Terhadap Aset dan Awak Kapal
Selain mengamankan pasokan, Pertamina juga memberikan perhatian penuh terhadap keselamatan aset dan seluruh awak kapal yang terlibat. Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyampaikan bahwa selain dua kapal yang terdampar, terdapat dua kapal lainnya yang masih berada di kawasan Timur Tengah. Pertamina International Shipping (PIS) melalui kantor cabangnya di Dubai, PIS Middle East (PIS ME), yang memiliki 30 pekerja beserta keluarganya, terus melakukan pemantauan intensif terhadap empat kapal yang saat ini beroperasi di area Timur Tengah.
Posisi Kapal-Kapal Pertamina di Timur Tengah:
- Kapal Gamsunoro: Sedang dalam proses loading di Khor al Zubair, Irak.
- Kapal Pertamina Pride: Telah selesai melakukan proses loading dan sedang berlabuh di Ras Tanura, Arab Saudi. Kapal ini dikelola oleh NYK.
- Kapal PIS Rinjani: Saat ini sedang berlabuh di Khor Fakkan, Uni Emirat Arab (UAE).
- Kapal PIS Paragon: Sedang dalam proses discharge di Oman.
Kapal Gamsunoro dikelola oleh Synergy Ship Management. Koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan terus dilakukan untuk memastikan keselamatan seluruh kru dan kelancaran operasional, meskipun dalam kondisi yang penuh tantangan.
Dampak Geopolitik dan Strategi Jangka Panjang
Insiden di Selat Hormuz ini sekali lagi menegaskan kerentanan rantai pasok energi global terhadap gejolak politik. Indonesia, sebagai negara dengan kebutuhan energi yang terus meningkat, harus mampu beradaptasi dan membangun resiliensi yang lebih kuat. Diversifikasi sumber energi, pengembangan energi terbarukan, serta optimalisasi infrastruktur distribusi dalam negeri menjadi strategi jangka panjang yang mutlak perlu digalakkan. Selain itu, peran diplomasi energi yang aktif di kancah internasional juga dapat membantu Indonesia dalam mengamankan akses pasokan di tengah ketidakpastian global.






















