Citra satelit terbaru membongkar aktivitas reklamasi lahan baru yang dilakukan China di terumbu karang sengketa, Kepulauan Paracel, Laut China Selatan. Temuan ini mengindikasikan ambisi China untuk memperluas pos terdepannya secara diam-diam di wilayah strategis tersebut.
Poin Penting:
- Aktivitas pengerukan pasir baru terdeteksi di Antelope Reef, Kepulauan Paracel, sejak pertengahan Oktober.
- Lokasi reklamasi berada di sisi timur dan selatan laguna, menambah luas lahan pos terdepan dan fasilitas pelabuhan.
- Ini menyusul tren reklamasi sebelumnya yang dilakukan China sejak 2013 di Laut China Selatan.
- China mengklaim 80% wilayah Laut China Selatan, yang diperebutkan oleh Taiwan dan Vietnam.
- Vietnam belum merespons secara resmi, namun pengalaman sebelumnya menunjukkan protes keras disertai strategi diplomasi untuk menjaga hubungan baik.
China Terus Ekspansi di Laut China Selatan Melalui Reklamasi
Pengerukan pasir baru yang terdeteksi di Antelope Reef, sebuah formasi karang bawah laut di Paracel Barat, menandakan eskalasi aktivitas China di wilayah yang disengketakan. Lokasi ini, sekitar 250 mil timur Hue, Vietnam, dan 175 mil tenggara pangkalan angkatan laut Sanya di Hainan, China, menjadi fokus perluasan lahan yang signifikan.
Pengerukan terkonsentrasi di sisi timur dan selatan laguna Antelope, diduga bertujuan untuk memperluas kedua sisi pos terdepan yang sudah ada, termasuk fasilitas pelabuhan yang berdekatan. Aktivitas ini melanjutkan pola reklamasi skala besar yang telah dilakukan China sejak tahun 2013.
Sejarah dan Konteks Ekspansi China
Penambahan lahan baru ini merupakan lanjutan dari pulau-pulau buatan yang telah dibangun China sebelumnya, termasuk yang terjadi pada awal 2020. Laporan dari Asia Maritime Transparency Initiative (AMTI) mengaitkan peningkatan aktivitas ini dengan investasi strategis China yang berkelanjutan di kawasan tersebut. Penempatan unit yang menyerupai sistem peperangan elektronik di tiga pulau di Kepulauan Spratly semakin memperkuat indikasi ini.
China mengklaim kedaulatan atas sekitar 80 persen Laut China Selatan, jalur pelayaran vital yang dilewati sepertiga perdagangan maritim global. Klaim ini mencakup Kepulauan Paracel, yang juga diklaim oleh Taiwan dan Vietnam. Sejak 2013, upaya reklamasi China telah menghasilkan 20 pos terdepan di Kepulauan Paracel dan tujuh di Kepulauan Spratly, yang tidak hanya memicu ketegangan regional tetapi juga berkontribusi pada kerusakan ekosistem laut.
Reaksi Regional dan Dinamika Diplomasi
Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Vietnam terkait pekerjaan pengerukan terbaru ini. Namun, sejarah mencatat bahwa sengketa atas Kepulauan Paracel, serta pengumuman sepihak China mengenai garis dasar teritorial baru di Teluk Tonkin, telah memicu kecaman keras dari Hanoi di masa lalu.
Meskipun demikian, Vietnam cenderung menerapkan strategi protes yang hati-hati. Pendekatan ini bertujuan untuk menjaga hubungan diplomatik yang stabil dengan China, yang merupakan tetangga yang kuat secara geopolitik dan mitra dagang utamanya. Hal ini mencerminkan kompleksitas dan sensitivitas hubungan bilateral di tengah klaim wilayah yang tumpang tindih dan kepentingan ekonomi yang krusial.























