Wartakita.id, MAKASSAR – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi tiga bibit siklon tropis sekaligus di sekitar perairan Indonesia. Ketiganya adalah Bibit Siklon Tropis 91S, 92S, dan 93S. Kehadiran mereka memicu kekhawatiran akan potensi badai.
Bibit Siklon Tropis 91S terdeteksi di sekitar 4,9 derajat Lintang Selatan dan 96,1 derajat Bujur Timur. Lokasinya masih dalam area pemantauan Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta. Sementara itu, Bibit Siklon Tropis 92S terbentuk di Samudra Hindia bagian tengah. Wilayah ini merupakan area tanggung jawab TCWC La Reunion.
Bibit Siklon Tropis 93S terdeteksi di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Barat. Bibit siklon tropis adalah tahap awal pembentukan siklon tropis. Siklon tropis merupakan badai kuat dengan radius rata-rata 150 hingga 200 kilometer. Meskipun Indonesia berada dekat khatulistiwa dengan gaya Coriolis kecil, bibit siklon tetap bisa muncul.
Musim Siklon yang Tumpang Tindih
Prakirawan TCWC Jakarta BMKG, Azhari Putri Cempaka, menjelaskan kemunculan beberapa bibit siklon dalam waktu berdekatan masih sesuai pola iklim tahunan. Wilayah utara Indonesia, seperti Laut Cina Selatan, aktif pada November. Selama 44 tahun (1980-2024), tercatat 134 kejadian siklon tropis di bulan November di area tersebut.
Aktivitas maksimum siklon biasanya terjadi pada Juli hingga Oktober. Kemudian menurun pada November dan Desember. Namun, intensitasnya masih cukup tinggi untuk memunculkan beberapa bibit siklon sekaligus. Ini merupakan fenomena yang lazim terjadi dalam periode transisi.
Faktor Pendukung Pembentukan Bibit Siklon
Selain faktor musiman, kondisi laut yang hangat dan lembap sangat mendukung. Kondisi ini menyediakan energi besar bagi pembentukan awan konvektif. Ini merupakan fondasi awal terbentuknya bibit siklon dan sistem tekanan rendah.
Fenomena iklim global turut memperkuat situasi ini. Kehadiran La Nina lemah di Samudra Pasifik dan Indian Ocean Dipole (IOD) negatif di Samudra Hindia meningkatkan aktivitas konveksi. Hal ini juga meningkatkan curah hujan di wilayah maritim Indonesia.
Gelombang atmosfer ekuator seperti Madden–Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan Rossby juga berperan. Fenomena ini dapat memperluas dan memperintensif area pertumbuhan awan. “Ketika gelombang atmosfer ini aktif, daerah pembentukan awan bisa menjadi lebih intens dan luas,” ujar Azhari.
Kondisi tersebut mempermudah terbentuknya lebih banyak bibit siklon dalam satu periode. Azhari menegaskan bahwa maraknya bibit siklon tropis belakangan ini bukanlah fenomena janggal. Ini sejalan dengan pola musim siklon di utara dan selatan Indonesia yang saat ini beririsan.
Dampak dan Pemantauan
BMKG terus memantau perkembangan bibit-bibit siklon ini. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem. Informasi terkini selalu diperbarui melalui kanal resmi BMKG.
Kehadiran bibit siklon ini dapat memengaruhi pola angin dan curah hujan di wilayah sekitarnya. Potensi dampak meliputi peningkatan intensitas hujan, angin kencang, dan gelombang laut tinggi. Penting bagi nelayan dan pelaut untuk memperhatikan peringatan cuaca.
Setiap bibit siklon memiliki potensi untuk berkembang menjadi siklon tropis. Namun, tidak semua bibit siklon akan mencapai tahap tersebut. Perkembangan bergantung pada berbagai faktor atmosfer dan laut yang terus berubah.
BMKG menggunakan data satelit, radar, dan stasiun pengamatan darat untuk memantau pergerakan bibit siklon. Analisis terus dilakukan untuk memprediksi lintasan dan intensitasnya. Tujuannya adalah memberikan informasi yang akurat dan tepat waktu kepada publik.























