Banjir bandang melanda Aceh akhir November 2025. Ribuan warga masih bergantung pada bantuan kemanusiaan. Namun, distribusi logistik menjadi sorotan tajam. Dua video viral di Instagram memicu tuduhan pejabat ‘menjarah’ bantuan.
Video-video ini menampilkan tumpukan sembako yang tak kunjung dibagikan. Isu ini seolah terkait dengan kabar sebelumnya. Wartakita.id memberitakan donatur batal mengirim bantuan. Penyebabnya, adanya intervensi Pemerintah Daerah (Pemda) Aceh.
Sebagai tim verifikasi Wartakita.id, kami menyelidiki kebenarannya. Apakah postingan tersebut hoax? Apa hubungan sebenarnya dengan pembatalan donasi? Kami sajikan fakta terkini per 10 Desember 2025.
Video Instagram Ungkap Tumpukan Bantuan, Warga Kelaparan
Postingan pertama datang dari akun @bigerutv pada 1 Desember 2025. Judulnya provokatif: “Bantuan Banjir di Aceh Utara Dijarah Pejabatnya Sendiri!”. Captionnya menyindir, “loh, kalian masih dijajah?”. Video memperlihatkan tumpukan bantuan di posko.
Lihat postingan ini di Instagram
Komentar netizen justru mengungkap cerita lain. Seorang pengguna menulis, “Saya turun ke desa 3-4 Des, warga masih kelaparan, bantuan menumpuk tak dibagikan.” Ratusan komentar marah muncul. Sayangnya, tidak ada bukti spesifik mengenai “pembajahan” oleh pejabat bernama.
Postingan kedua dari @pembasmi.kehaluan.reall muncul pada 6 Desember 2025. Akun ini lebih eksplisit: “Viral! Video Bantuan Sembako Menumpuk di Gedung Sosial Paya Bedi Aceh Tamiang.” Video berdurasi 30 detik ini merekam gudang penuh beras, mie instan, dan obat-obatan.
Lihat postingan ini di Instagram
Narasi dalam video tersebut menyebutkan, “masyarakat sudah kelaparan.” Komentar pedas pun bermunculan. Ada yang menulis, “Pemda lambat distribusi, mending ambil sendiri!” Pengguna lain menimpali, “Jangan salahkan Jakarta, Pemkot yang hoarding.” Kedua akun ini memiliki ribuan pengikut, namun riwayat postingannya beragam, seringkali menampilkan konten sensasional tanpa sumber primer.
Isu Donatur Batal: Intervensi Pemda Jadi Pemicu Utama
Artikel Wartakita.id tertanggal 6 Desember 2025 mengungkap fakta mengejutkan. Sejumlah donatur membatalkan penyewaan pesawat Susi Air untuk mengirim bantuan logistik. Alasannya, ada aturan baru mengenai distribusi.
Salah seorang pekerja Susi Air mengonfirmasi, “Semua bantuan harus diserahkan ke Pemda, hanya mereka yang distribusi.” Pernyataan ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan donatur. Mereka ragu bantuan akan sampai ke tangan yang membutuhkan tepat waktu.
Pemerintah Daerah Aceh membantah tudingan tersebut. Juru bicara Pemda, Muhammad MTA, mengklaim prosedur ini demi “akurasi data pengungsi” melalui posko. Ia menambahkan, siapa pun boleh mengirim bantuan langsung asalkan berkoordinasi. “Kami fasilitasi transportasi darat, laut, udara,” ujarnya.
Hingga 10 Desember 2025, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat donasi terkumpul senilai Rp8 miliar. Namun, keluhan mengenai lambatnya distribusi bantuan tetap ramai dibicarakan di media sosial. Update terbaru dari Tempo.co pada 7 Desember 2025 menyebutkan, beberapa donatur mundur karena “prosedur rumit.”
Meskipun demikian, beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) seperti Ecosystem Impact Foundation tetap menyalurkan bantuan melalui jalur darat. Hingga kini, belum ada tuduhan korupsi resmi yang dilayangkan. Badan Penanggulangan Bencana dan Pengendalian Kerusakan (BP2JK) Aceh sedang melakukan audit terhadap proses distribusi bantuan.
Verifikasi Fakta: Ada Hubungan, Tapi Bukan Hoax Langsung
Apakah video viral di Instagram terkait dengan pembatalan donasi? Jawabannya, ya, namun tidak secara langsung. Kedua postingan tersebut menyoroti kegagalan distribusi yang dilakukan Pemda.
Penumpukan bantuan di gudang atau gedung sosial menjadi alasan utama para donatur merasa ragu. Hal ini senada dengan keluhan yang muncul di kolom komentar Instagram: “Posko penuh, desa kosong.” Seperti yang diungkapkan Wartakita.id, prosedur penyerahan bantuan ke Pemda memicu kekhawatiran bantuan tidak sampai.
Verifikasi kami melalui BNPB dan wawancara dengan relawan lapangan pada 9 Desember 2025 membuahkan hasil. Benar, terjadi keterlambatan distribusi di Aceh Tamiang. Penyebabnya adalah koordinasi posko yang kewalahan atau overload.
Namun, ini bukanlah kasus “pembajahan” massal seperti yang dituduhkan. Situasi ini lebih mengarah pada masalah birokrasi yang rumit. Video dari akun @bigerutv terkesan melakukan overclaim dengan menyebut “dijarah pejabat.” Sementara itu, akun @pembasmi.kehaluan.reall menyajikan fakta yang lebih akurat, meski dengan narasi yang cenderung hiperbolis.
Hubungan antara video viral dan pembatalan donasi sangat kuat. Postingan di Instagram memperkuat narasi mengenai intervensi Pemda. Hal ini membuat para donatur semakin skeptis. Jadi, ini bukan hoax total, namun mengandung elemen sensasional demi meraih viralitas.
Dampak dan Solusi: Jangan Biarkan Birokrasi Lumpuhkan Solidaritas
Kasus ini menjadi pengingat penting. Banjir di Aceh berdampak pada lebih dari 50 ribu jiwa. Keterlambatan distribusi bantuan dapat berakibat fatal bagi mereka yang membutuhkan.
Update per 10 Desember 2025 menunjukkan tren positif. Jumlah donasi dilaporkan naik 20% setelah adanya klarifikasi dari Pemda. Jalur distribusi alternatif melalui ACT dan Muhammadiyah juga mulai dibuka.
Bagi para donatur, ada beberapa tips penting. Sebaiknya, pilih LSM yang sudah terverifikasi kredibilitasnya. Anda juga bisa berkoordinasi melalui hotline BNPB di nomor 021-344-1234. Pilihan lain adalah mengirimkan bantuan langsung ke desa-desa melalui relawan lokal yang terpercaya.
Kesimpulannya, video viral di Instagram berhasil mengungkap fakta nyata mengenai keterlambatan bantuan banjir di Aceh. Situasi ini terkait erat dengan pembatalan donasi akibat prosedur birokrasi Pemda. Ini bukanlah sebuah konspirasi, melainkan sebuah panggilan untuk reformasi sistem distribusi bantuan.
Wartakita.id akan terus melakukan verifikasi fakta. Bagikan pengalaman Anda di kolom komentar. Mari dukung para korban banjir. Donasi dapat disalurkan melalui rekening BNPB. Aceh harus bangkit, dan solidaritas kita tidak boleh tergoyahkan.























