Wartakita.id, Tianshui — Sebanyak enam orang divonis bersalah dan dijatuhi hukuman penjara, termasuk hukuman seumur hidup bagi pemilik Taman Kanak-Kanak (TK), terkait insiden keracunan timbal massal yang menimpa 247 anak prasekolah di Kota Tianshui, Provinsi Gansu, China. Kasus yang terungkap pada Juli 2025 ini merupakan salah satu skandal keselamatan pangan terburuk di negara tersebut.
Putusan pengadilan yang dijatuhkan oleh Pengadilan Rakyat Menengah Kota Lanzhou ini menjatuhkan hukuman berat bagi para pelaku yang bertanggung jawab atas pencampuran bahan berbahaya ke dalam makanan anak-anak. Insiden ini tidak hanya menyoroti pelanggaran serius terhadap standar keamanan pangan, tetapi juga mengungkap adanya upaya manipulasi data dan kelalaian pengawasan oleh pihak berwenang.
Intinya
- Enam orang divonis penjara, termasuk hukuman seumur hidup bagi pemilik TK, atas kasus keracunan timbal massal yang menimpa 247 anak prasekolah di Tianshui, Gansu.
- Penyebab keracunan adalah pencampuran bubuk pewarna industri yang tidak aman ke dalam makanan anak-anak atas perintah pemilik TK untuk tujuan pemasaran.
- Terjadi manipulasi hasil laboratorium oleh rumah sakit dan kelalaian pengawasan oleh lembaga pendidikan setempat.
- Hampir 30 pejabat publik diperiksa terkait dugaan kelalaian, penanganan lambat, dan indikasi suap.
Rincian hukuman yang dijatuhkan meliputi Li Huifang, pemilik TK, yang menerima hukuman penjara seumur hidup, pencabutan hak politik seumur hidup, dan penyitaan aset pribadi senilai 500.000 yuan (sekitar Rp1,3 miliar). Zhu, koki utama, dijatuhi hukuman 15 tahun penjara dan denda 300.000 yuan (sekitar Rp809 juta). Empat pekerja dapur lainnya menerima hukuman penjara antara 6 hingga 8 tahun beserta denda.
Investigasi mengungkap bahwa pemilik TK memerintahkan staf dapur untuk membuat makanan anak-anak lebih menarik secara visual dengan menggunakan pewarna industri yang dibeli secara online dan berlabel “tidak untuk dikonsumsi”. Pewarna ini dicampurkan ke dalam makanan ringan anak-anak sejak Mei 2024, menyebabkan kadar timbal dalam darah korban melonjak drastis, bahkan dilaporkan mencapai 400.000 kali lipat dari ambang batas aman. Gejala fisik yang dialami anak-anak meliputi sakit perut, mual, dan gigi menghitam.
Kasus ini semakin memicu kemarahan publik ketika terungkap adanya upaya manipulasi hasil tes darah anak-anak oleh manajemen senior Rumah Sakit Rakyat Kedua Tianshui untuk menutupi kondisi sebenarnya. Selain itu, TK tersebut diketahui beroperasi tanpa izin resmi selama dua tahun tanpa inspeksi keamanan pangan yang memadai, sementara lembaga pendidikan setempat dinilai lalai dalam pengawasan. Akibatnya, hampir 30 pejabat publik di sektor kesehatan dan pendidikan menjalani pemeriksaan disipliner terkait dugaan kelalaian, penanganan awal yang lambat, serta kemungkinan menerima suap dari investor sekolah. Seluruh anak yang terdampak telah menerima perawatan intensif dan intervensi nutrisi dari pemerintah Gansu hingga pulih.
Kerap Ditanyakan
T: Siapa saja yang dihukum dalam kasus keracunan massal di TK Tianshui?
J: Enam orang divonis penjara, termasuk pemilik TK (hukuman seumur hidup), koki utama (15 tahun), dan empat pekerja dapur (6-8 tahun).
T: Apa penyebab keracunan massal tersebut?
J: Pencampuran bubuk pewarna industri yang tidak aman ke dalam makanan anak-anak atas perintah pemilik TK untuk tujuan pemasaran, yang menyebabkan kadar timbal dalam darah anak-anak sangat tinggi.
Kontributor: Redaksi Wartakita
Editor: Tim Editor Wartakita dibantu AI.























