Periode kemarau 2026 menandai masa sulit bagi Sulawesi Selatan, dengan 112 kasus kebakaran lahan dan hutan (karhutla) melanda 15 kabupaten/kota. Bencana ini meninggalkan jejak kerusakan luas, menghanguskan ratusan hektare lahan dan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.
Rincian Kejadian dan Dampak Luas Karhutla di Sulsel 2026
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Selatan melaporkan catatan yang mengkhawatirkan: sebanyak 112 kasus kebakaran lahan dan hutan (karhutla) terjadi di 15 kabupaten/kota di wilayahnya selama masa kemarau tahun 2026. Laporan ini mencakup periode dari Januari hingga Agustus 2026, di mana total luas area yang hangus mencapai angka signifikan.
- Total luas area yang hangus: 1.613,67 hektare.
- Rincian kerusakan: 1.607,92 hektare hutan dan lahan, serta 5,75 hektare area perkebunan masyarakat.
Daerah dengan Kerusakan Terparah
Analisis data menunjukkan beberapa wilayah mengalami dampak yang jauh lebih berat dibandingkan yang lain:
- Kabupaten Enrekang: Menjadi lokasi dengan kerusakan terparah, mencatat 1.044,55 hektare lahan yang terbakar dari 10 kejadian.
- Kabupaten Barru: Melaporkan 315 hektare lahan yang hangus akibat 5 kejadian kebakaran.
- Kabupaten Tana Toraja: Mengalami 11 kejadian karhutla dengan luas area terbakar mencapai 126 hektare.
Dampak pada Pemukiman Warga dan Korban Jiwa
Selain kerusakan lingkungan yang masif, karhutla tahun ini juga menyentuh langsung pemukiman warga, menimbulkan kerugian material dan bahkan korban jiwa. Setidaknya ada 12 keluarga terdampak dan empat orang menjadi korban sepanjang periode tersebut.
- Kota Palopo: Melaporkan 10 kejadian, menghanguskan 1,25 hektare kebun dan 3,5 hektare hutan lahan. Akibatnya, tujuh keluarga terdampak dan empat orang menjadi korban.
- Kabupaten Bantaeng: Dua kejadian karhutla berdampak pada empat keluarga.
- Kabupaten Bone: Satu kejadian kebakaran lahan menyebabkan satu keluarga terdampak.
Kerusakan Fasilitas Fisik Akibat Kebakaran
Bencana kebakaran ini tidak hanya menghancurkan lahan dan perkebunan, tetapi juga menyebabkan kerusakan pada fasilitas dan sarana fisik milik warga. Total 39 unit fasilitas rusak dilaporkan di beberapa daerah:
- Kabupaten Barru: Paling terdampak dengan 37 unit fasilitas yang rusak.
- Kabupaten Luwu Utara: Melaporkan 2 unit fasilitas yang mengalami kerusakan.
Puncak Intensitas dan Wilayah Terdampak Lainnya
Intensitas kejadian karhutla di Sulawesi Selatan dilaporkan mencapai puncaknya pada periode Juli-Agustus 2026, bertepatan dengan puncak musim kemarau. Selain daerah-daerah yang telah disebutkan, beberapa wilayah lain juga terdampak signifikan:
- Kota Parepare: Mencatat 25 kejadian dengan luas area terbakar mencapai 20,06 hektare.
- Kabupaten Pinrang: Mengalami 18 kejadian, menghanguskan 54,4 hektare hutan dan lahan, serta tambahan 3 hektare kebun.
Tindakan Hukum dan Imbauan untuk Pencegahan
Menyikapi situasi yang mengkhawatirkan ini, Kepala Pelaksana BPBD Sulsel, Amson Padolo, menegaskan bahwa tindakan hukum telah diambil terhadap para pelaku yang terbukti bersalah dalam kejadian-kejadian karhutla tersebut. Penegakan hukum ini diharapkan dapat memberikan efek jera.
BPBD Sulsel secara konsisten terus mengimbau seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan berperan aktif dalam mencegah potensi timbulnya titik api baru. Imbauan ini mencakup larangan tegas membakar lahan, sampah, atau material lainnya yang dapat memicu kebakaran, terutama di tengah kondisi cuaca panas dan angin kencang yang kerap terjadi saat musim kemarau.
Kontributor: MA. Untung
Penyunting: Budi S.
Add wartakita.id as a preferred source on Google























