Wartakita.id, JAKARTA — Besok, Senin pagi. Notifikasi WhatsApp dari atasan sudah menumpuk, jalanan macet total karena ada perbaikan jalan, dan di rumah, keran air tiba-tiba bocor. Rasanya dada sesak, kepala panas, dan ingin sekali berteriak atau membanting sesuatu.
Apakah skenario ini terdengar familiar?
Di era yang serba cepat ini, kita sering merasa seolah-olah dunia sedang mengeroyok kita. Kita marah pada kemacetan, frustrasi pada rekan kerja yang lamban, atau cemas pada berita ekonomi global yang suram. Kita merasa lelah—bukan hanya lelah fisik, tapi lelah batin. Ini yang sering kita sebut sebagai burnout.
Namun, tahukah Anda bahwa penderitaan itu seringkali bukan disebabkan oleh peristiwa buruk tersebut, melainkan oleh respons kita terhadapnya? Inilah premis utama yang ditawarkan oleh filosofi Stoikisme, sebuah ajaran kuno yang kembali relevan sebagai obat penawar racun kehidupan modern.
Diagnosa Masalah: Jebakan “Kendali Semu”
Masalah utama yang membuat kita stres adalah delusi bahwa kita bisa mengendalikan segalanya. Kita ingin jalanan lancar (padahal itu di luar kendali kita). Kita ingin orang lain bersikap baik (itu di luar kendali kita). Ketika realitas tidak sesuai keinginan, kita menderita.
Dalam buku The Art of Stoicism: Kita Punya Kuasa Atas Hidup Kita karya Adora Kinara, dijelaskan bahwa akar dari kecemasan adalah ketidakmampuan kita membedakan antara apa yang bisa kita ubah dan apa yang harus kita terima. Kita menghabiskan energi emosional untuk memikirkan hal-hal yang—secara harfiah—tidak akan berubah meski kita menangis darah sekalipun.
Solusi Konkrit: Dikotomi Kendali
Lalu, apa solusi praktisnya? Kita tidak perlu menjadi biksu yang bertapa di gunung untuk mendapatkan ketenangan. Kita bisa menerapkan teknik “Dikotomi Kendali” sekarang juga:
- Lakukan Audit Masalah Saat Anda merasa panik atau marah, berhenti sejenak (jeda). Ambil kertas, buat dua kolom. Kolom kiri: “Dalam Kendaliku”. Kolom kanan: “Di Luar Kendaliku”.
- Macet: Di luar kendali.
- Respons saya terhadap macet: Dalam kendali (bisa dengar podcast, latihan napas).
- Omongan orang lain: Di luar kendali.
- Cara saya menjawab: Dalam kendali.
- Geser Fokus Energi Seperti yang diulas dalam buku Adora Kinara, seorang Stoik sejati tidak membuang energi untuk mengutuk hujan. Ia menggunakan energinya untuk mengambil payung. Mulailah melatih otak Anda untuk berkata: “Oke, ini terjadi. Sekarang, apa tindakan terbaik yang bisa SAYA lakukan?”
- Latihan “Premeditatio Malorum” (Visualisasi Negatif) Ini terdengar kontraintuitif, tapi cobalah bayangkan skenario terburuk di pagi hari. “Hari ini mungkin saya akan terjebak macet atau dimarahi bos.” Ketika hal itu benar terjadi, batin Anda sudah memiliki tameng. Anda tidak kaget. Anda tetap tenang dan elegan.
Menjadi Benteng yang Kokoh
Menjadi tenang bukan berarti tidak peduli. Justru, dengan memilah kendali, Anda menjadi lebih efektif. Anda tidak lagi lelah karena marah-marah pada hal yang sia-sia. Energi Anda utuh untuk menyelesaikan masalah yang nyata.
Seperti yang dalam The Art of Stoicism, kebebasan sejati bukanlah saat kita bisa mengatur dunia agar sesuai mau kita, tapi saat kita bisa mengatur batin kita agar tetap damai apapun yang dunia lemparkan kepada kita. Cobalah teknik ini selama seminggu, dan rasakan beban di pundak Anda perlahan meringan.























