Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali memanas. Serangan udara berskala besar Israel di Lebanon dilaporkan menewaskan ratusan orang, memicu ancaman respons keras dari Iran dan menimbulkan kekhawatiran mendalam di kancah internasional.
Gelombang Serangan Udara Terbesar Israel di Lebanon
Pada Rabu, 8 Mei 2024, militer Israel (IDF) melancarkan apa yang diklaim sebagai gelombang serangan udara terbesar ke Lebanon. Dalam waktu singkat, IDF menyatakan telah menghantam lebih dari 100 pusat komando dan lokasi militer Hizbullah. Serangan ini menyasar berbagai wilayah strategis, termasuk pinggiran selatan Beirut, Lebanon selatan, dan Lembah Bekaa di bagian timur.
Dampak Kemanusiaan yang Mengerikan
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan angka korban yang tragis. Setidaknya 182 orang dilaporkan meninggal dunia dan 890 orang lainnya mengalami luka-luka akibat serangan terbaru ini. Angka ini menambah daftar panjang korban tewas sejak konflik enam pekan lalu, yang sebelumnya telah menelan korban 1.700 jiwa, termasuk 130 anak-anak.
Lebih dari 1,2 juta orang terpaksa mengungsi, mayoritas berasal dari komunitas Syiah. Desa-desa di dekat perbatasan Israel mengalami kehancuran parah. Pasukan Israel dikabarkan berupaya menciptakan zona penyangga keamanan, menimbulkan kekhawatiran adanya pendudukan Israel di sebagian wilayah Lebanon pasca-konflik, yang dapat menghalangi kepulangan warga.
Kondisi Pengungsian yang Memprihatinkan
Krisis pengungsian ini menambah beban di Lebanon yang telah dilanda krisis ekonomi. Sekolah-sekolah yang dijadikan tempat penampungan penuh sesak, memaksa banyak warga tidur di tenda darurat, ruang publik, atau bahkan di dalam kendaraan.
Reaksi Internasional dan Ancaman Balasan
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa gencatan senjata yang disepakati tidak berlaku untuk kelompok Hizbullah. Pernyataan ini dibantah oleh Pakistan, yang memediasi kesepakatan antara AS dan Iran, serta oleh pihak Gedung Putih.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan peringatan keras. Melalui lembaga penyiaran negara Iran, IRIB, IRGC mengancam akan memberikan “respons yang menimbulkan penyesalan” jika agresi terhadap Lebanon tidak segera dihentikan. Seorang pejabat IRGC yang dikutip oleh kantor berita IRNA menyatakan, “Setiap serangan terhadap Hizbullah yang bermartabat adalah serangan terhadap Iran. Medan [militer] tengah bersiap untuk memberikan respons keras atas kejahatan brutal rezim [Israel].”
Hizbullah sendiri, yang belum mengklaim melakukan serangan pasca-pengumuman gencatan senjata, menyatakan berhak merespons dan mengimbau keluarga yang mengungsi untuk menunda kepulangan hingga ada pengumuman resmi.
Konteks Konflik yang Berlarut
Serangan Israel ke Lebanon semakin intensif setelah Hizbullah menembakkan roket ke Israel sebagai balasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada 28 Februari 2024. Sebelumnya, Israel telah melakukan serangan berkala meskipun ada gencatan senjata yang disepakati pada November 2024. Israel mengklaim telah menewaskan sekitar 1.100 anggota Hizbullah.
Upaya Diplomasi yang Terhambat
Pemerintah Lebanon berencana melucuti Hizbullah, namun kelompok tersebut menolak membahas masa depan senjatanya. Presiden Lebanon, Joseph Aoun, telah mengesampingkan penggunaan kekuatan militer untuk mengatasi situasi ini. Menanggapi eskalasi terbaru, pemerintah Lebanon membuat tawaran bersejarah untuk bernegosiasi langsung dengan Israel, meskipun kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik. Namun, tawaran tersebut sejauh ini diabaikan oleh Israel.
Kesaksian warga di Beirut menggambarkan keputusasaan mendalam: “Ada banyak bagian tubuh di sini. Hanya orang-orang yang dirugikan. Apa yang harus dilakukan orang-orang. Kami tidak bisa berbuat apa-apa.”























