Wartakita.id, Makassar — Kabar baik datang dari langit Makassar. Setelah sempat diselimuti kabut asap yang membuat kualitas udara masuk kategori tidak sehat, kini kondisi udara di ibu kota Sulawesi Selatan itu berangsur membaik. Pantauan terkini menunjukkan indeks kualitas udara telah bergeser ke level sedang, memberikan sedikit kelegaan bagi warga kota.
Situasi ini menandai perubahan positif setelah beberapa hari terakhir, tepatnya sejak akhir September hingga awal Oktober, warga Makassar harus waspada terhadap paparan polusi udara. Kualitas udara yang memburuk ini sempat berlangsung selama beberapa hari, memaksa banyak orang untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Peningkatan konsentrasi partikel halus PM2.5 menjadi salah satu indikator utama memburuknya kualitas udara. Selain itu, dampak dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di wilayah Kalimantan turut diduga menjadi pemicu utama terganggunya kualitas udara di Makassar. Asap dari kebakaran tersebut terbawa angin hingga mencapai wilayah ini.
Udara Membaik, Warga Bisa Bernapas Lega
Memasuki awal Oktober, tepatnya pada tanggal 5 Oktober, tanda-tanda perbaikan mulai terlihat. Indeks kualitas udara yang sebelumnya berada di zona merah, kini bergeser ke zona hijau atau kuning, menandakan kondisi yang lebih sehat. Perubahan ini tentu disambut baik oleh masyarakat yang telah merasakan dampak negatif dari udara tidak sehat.
Meskipun sudah membaik, kewaspadaan tetap perlu dijaga. Peningkatan PM2.5 yang sempat terjadi dapat berdampak pada kesehatan pernapasan jika terpapar dalam jangka waktu lama. Oleh karena itu, memantau kualitas udara secara berkala tetap disarankan.
Pemerintah daerah dan instansi terkait diharapkan terus melakukan pemantauan intensif. Upaya pencegahan karhutla di daerah sumber asap menjadi krusial untuk menjaga kualitas udara di wilayah lain, termasuk Makassar, agar tetap dalam kondisi optimal.
Intinya
- Kualitas udara di Makassar sempat berada dalam kategori tidak sehat.
- Kondisi memburuknya kualitas udara diduga dipicu oleh peningkatan PM2.5 dan kebakaran hutan di Kalimantan.
- Kualitas udara di Kota Makassar pada 5 Oktober 2026 mulai membaik ke kategori sedang.
Dampak dan Antisipasi
Kualitas udara yang memburuk sebelumnya sempat menimbulkan kekhawatiran akan potensi peningkatan kasus penyakit pernapasan. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok yang paling rentan terhadap dampak polusi udara.
Peningkatan PM2.5, partikel berukuran sangat kecil, dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan bahkan masuk ke aliran darah. Hal ini dapat memicu berbagai masalah kesehatan, mulai dari iritasi tenggorokan, batuk, hingga penyakit yang lebih serius seperti asma dan penyakit jantung.
Meskipun kini kualitas udara telah membaik, penting bagi warga untuk tetap sadar akan pentingnya menjaga kesehatan pernapasan. Menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama saat kualitas udara kembali memburuk, serta menjaga kebersihan lingkungan rumah dapat menjadi langkah antisipasi yang efektif.
Kerap Ditanyakan
T: Kapan kualitas udara di Makassar sempat tidak sehat?
J: Kualitas udara di Makassar sempat tidak sehat sejak 30 September hingga 4 Oktober 2026.
T: Apa penyebab utama memburuknya kualitas udara di Makassar?
J: Peningkatan konsentrasi PM2.5 dan dampak dari kebakaran hutan di Kalimantan diduga menjadi pemicu utama memburuknya kualitas udara.
Kontributor: Budi S.
Editor: Tim Editor Wartakita dibantu AI.























