Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) baru-baru ini mengungkap temuan mengejutkan: peredaran dana bernilai ratusan triliun rupiah yang diduga berasal dari aktivitas tambang emas ilegal. Data ini telah diserahkan kepada aparat penegak hukum, mengindikasikan pergerakan finansial besar yang memerlukan perhatian serius.
- PPATK melaporkan dugaan transaksi tambang emas ilegal senilai Rp 992 triliun.
- Sebagian aliran dana tersebut diduga mengalir ke luar negeri.
- Temuan spesifik menunjukkan transaksi Rp 185,03 triliun pada periode 2023-2025 dari tambang emas ilegal.
- Ini merupakan bagian dari analisis kejahatan finansial hijau di sektor pertambangan senilai Rp 514,47 triliun.
- Dugaan aktivitas tambang emas ilegal terdeteksi di Papua, Kalimantan Barat, Sulawesi, Sumatra Utara, dan Pulau Jawa.
- Potensi penerimaan denda administrasi dari penertiban tambang ilegal di kawasan hutan mencapai Rp 32,63 triliun.
Skala Fenomena Tambang Emas Ilegal yang Mengkhawatirkan
Temuan PPATK ini bukan sekadar angka, melainkan indikasi kuat adanya jaringan operasional tambang emas ilegal yang masif dan terorganisir. Kepala PPATK, Ivan Yustiavandana, membenarkan penyerahan data tersebut ke penegak hukum. “Data ini sudah ditangani penyidik. Kami mendukung penyidik untuk sampai ke tahap penindakan,” ujar Ivan, menegaskan komitmen lembaganya dalam memberantas kejahatan finansial di sektor sumber daya alam.
Secara rinci, PPATK menemukan transaksi yang diduga berasal dari kegiatan tambang emas ilegal senilai Rp 185,03 triliun dalam kurun waktu 2023 hingga 2025. Angka ini merupakan bagian dari analisis yang lebih luas terhadap kejahatan finansial hijau di sektor pertambangan, yang secara total mencakup nilai Rp 514,47 triliun. Temuan ini memberikan gambaran mengenai besarnya kerugian ekonomi dan potensi dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh aktivitas ilegal tersebut.
Wilayah Terdampak dan Potensi Aliran Dana ke Luar Negeri
Menurut Ivan Yustiavandana, hasil analisis transaksi mencurigakan ini mengindikasikan adanya pertambangan emas ilegal di berbagai wilayah strategis di Indonesia. Lokasi yang disebutkan meliputi Papua, Kalimantan Barat, Sulawesi, Sumatra Utara, dan Pulau Jawa. Meskipun demikian, Ivan belum merinci lebih lanjut mengenai jumlah titik tambang ilegal yang diduga beroperasi dalam jaringan ini.
Lebih lanjut, Ivan mengungkapkan bahwa beberapa aliran dana dari aktivitas tambang emas ilegal ini diduga telah mengalir ke luar negeri. Hal ini menambah dimensi kerumitan dalam investigasi dan penindakan, mengingat perlunya koordinasi lintas negara dalam melacak dan memulihkan aset yang terindikasi hasil kejahatan.
Upaya Penertiban dan Potensi Kerugian Negara
Temuan PPATK ini sejalan dengan upaya penertiban yang telah dilakukan oleh Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH). Satgas PKH telah menjatuhkan sanksi denda kepada ratusan perusahaan sawit dan tambang yang terbukti melakukan aktivitas ilegal di kawasan hutan. Langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menindak pelanggaran hukum terkait pemanfaatan sumber daya alam.
Data Kementerian Kehutanan mengindikasikan adanya bukaan tambang ilegal di kawasan hutan seluas 191.790 hektare, yang pengelolaannya tidak dilengkapi izin resmi. Jaksa Agung ST Burhanuddin memperkirakan potensi penerimaan denda administrasi dari hasil penertiban ini dapat mencapai Rp 142,2 triliun pada tahun 2026, dengan rincian Rp 109,6 triliun dari sektor sawit dan sekitar Rp 32,63 triliun dari sektor tambang. Angka ini belum termasuk potensi kerugian negara akibat perputaran dana ilegal yang diungkap PPATK.
Meskipun belum ada konfirmasi resmi mengenai keterlibatan PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) dalam aliran dana pertambangan emas ilegal, investigasi yang dilakukan PPATK dan penegak hukum diharapkan dapat mengungkap seluruh pihak yang terlibat dan memulihkan potensi kerugian negara secara maksimal.























