Hai, Beauty Besties! Pernah merasa terjebak dalam pusaran standar kecantikan yang kayaknya nggak ada habisnya? Nah, dua karya seni ini lagi bikin heboh karena ngupas tuntas sisi gelap obsesi kita terhadap penampilan. Siap-siap ngobrolin ini santai ala cafe ya!
Poin Penting:
- Film ‘The Substance’ dan serial ‘The Beauty’ sama-sama menyoroti obsesi pada penampilan di era modern.
- Kedua karya ini menunjukkan bagaimana teknologi dan tekanan sosial bisa mengarah pada konsekuensi kelam terkait modifikasi tubuh.
- Ashton Kutcher, pemeran serial ‘The Beauty’, mengakui kesamaan tema dengan ‘The Substance’.
- ‘The Beauty’ menampilkan perawatan yang menjanjikan daya tarik fisik namun berujung kehancuran.
- ‘The Substance’ menggambarkan kecantikan sebagai komoditas ekstrem yang mengubah tubuh manusia.
- Realitas sosial kini semakin menerima prosedur peningkatan kosmetik dan modifikasi tubuh.
- Pengalaman pribadi Ashton Kutcher dari dunia modeling menyoroti rasa tidak aman yang umum pada manusia terkait penampilan.
Dua Karya, Satu Pesan: Obsesi Terhadap Penampilan Kian Nyata
Pernah denger tentang ‘The Substance’ atau serial ‘The Beauty’? Kalau belum, yuk kenalan! Dua karya ini lagi jadi perbincangan hangat karena berani banget nunjukkin sisi lain dari obsesi kita terhadap penampilan. Nggak cuma sekadar suka tampil cakep, tapi sampai ke titik di mana teknologi canggih dan tekanan sosial bikin kita melakukan hal-hal yang mungkin nggak kita duga sebelumnya. Keduanya, walau beda medium, punya satu benang merah yang kuat: bagaimana obsesi terhadap kecantikan bisa berujung pada konsekuensi yang jauh lebih kelam.
Pengakuan Langsung dari Sang Bintang
Yang bikin makin menarik, kesamaan tema ini diakui langsung lho sama Ashton Kutcher, aktor yang main di serial ‘The Beauty’. Doi bilang, serialnya itu ngangkat isu yang sama persis kayak di film ‘The Substance’. Bahkan, film ‘The Substance’ itu dibintangi sama mantan istrinya, Demi Moore, dan disutradarai sama Coralie Fargeat. Jadi, bayangin aja, dua karya yang punya koneksi personal juga ini punya pesan yang sama kuatnya.
Premis ‘The Beauty’: Janji Manis Perawatan yang Berujung Pahit
Di serial ‘The Beauty’, Ashton Kutcher itu jadi karakter yang keren banget, namanya ‘Corporation’. Dia seorang miliarder teknologi yang punya akses ke sebuah perawatan canggih bernama ‘The Beauty’. Nah, sesuai namanya, perawatan ini janjiin buat bikin penggunanya makin menarik secara fisik. Tapi, siap-siap kaget, Beauty Besties, karena dibalik janji manis itu, ‘The Beauty’ justru perlahan-lahan membawa kehancuran bagi siapa pun yang memakainya. Mirip kayak kita yang suka banget sama tren kecantikan baru, tapi kadang lupa ngulik efek jangka panjangnya, kan?
‘The Substance’: Kecantikan Dijadikan Komoditas Ekstrem
Premis serial ‘The Beauty’ ini ternyata nyambung banget sama film ‘The Substance’. Di film ini, kecantikan itu digambarkan benar-benar jadi semacam komoditas ekstrem. Tubuh manusia jadi kayak arena percobaan demi memenuhi standar ideal kecantikan yang seringkali nggak realistis dan bikin nggak nyaman. Kita jadi mikir, seberapa jauh sih kita mau pergi demi terlihat ‘sempurna’ di mata orang lain?
Realitas Sosial dan Dorongan Modifikasi Tubuh Kita
Menurut Ashton Kutcher, akar permasalahan yang dibahas di kedua karya ini adalah realitas sosial kita sekarang. Coba deh perhatiin, modifikasi tubuh dan prosedur peningkatan kosmetik kayak suntik botox, filler, sampai operasi plastik itu udah makin diterima dan jadi hal biasa di masyarakat. Kalau dulu mungkin dianggap tabu, sekarang malah jadi pilihan banyak orang untuk ‘memperbaiki’ diri.
Pengalaman Pribadi Ashton Kutcher: ‘Everyone Has an Insecurity’
Nah, ini nih yang bikin kita makin relate. Ashton Kutcher sendiri udah nyadar soal ini sejak lama, bahkan dari awal kariernya jadi model. Doi bilang, ia cepat banget sadar kalau setiap orang itu punya rasa nggak aman. ‘Kalau kamu menatap cermin cukup lama, kamu akan selalu menemukan sesuatu yang tidak kamu sukai, atau yang menurutmu bisa diperbaiki, atau seharusnya berbeda,’ katanya. Pengalaman ini bener-bener nunjukkin gimana tekanan untuk tampil sempurna, ditambah lagi sama kemajuan teknologi dan norma sosial yang terus berubah, bisa menciptakan lingkaran obsesi yang berbahaya buat diri kita sendiri. Jadi, penting banget nih buat kita tetap smart dan nggak gampang terpengaruh sama semua tuntutan penampilan yang ada.























