MAKASSAR – Di tengah lanskap pemberitaan yang kerap menyoroti dinamika internal dan kompleksitas sosialnya, Kota Makassar sekali lagi menunjukkan kapasitasnya yang multi-dimensi. Pada bulan September 2025, sebuah inisiatif kemanusiaan yang berakar kuat dari masyarakat setempat, “Makassar for Gaza”, berhasil menuntaskan misi penyaluran bantuan esensial kepada para pengungsi Palestina yang terpaksa bermukim di kamp-kamp pengungsian di Yordania. Aksi lintas benua ini, yang merupakan kolaborasi strategis dengan Yayasan Gema 9 dan MT Alhijrah, bukan sekadar respons terhadap krisis kemanusiaan global, melainkan sebuah manifestasi konkret dari modal sosial dan kapasitas sipil Makassar yang seringkali luput dari narasi utama.
Gerakan ini berhasil mengumpulkan dan mendistribusikan 200 paket sembako, yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi yang hidup dalam kondisi serba terbatas. Lebih dari sekadar angka, inisiatif ini mengundang kita untuk menelisik lebih dalam: mengapa sebuah kota di ujung timur Indonesia merasa terpanggil untuk sebuah isu global yang begitu jauh secara geografis, dan apa implikasi dari aksi solidaritas semacam ini terhadap identitas dan pembangunan Makassar itu sendiri?
Menelusuri Jejak Perjalanan Bantuan: Dari Lorong Makassar ke Kamp Pengungsian Yordania
Proses di balik penyaluran bantuan “Makassar for Gaza” adalah bukti nyata dari koordinasi yang cermat dan dedikasi kolektif. Kampanye penggalangan dana, yang digulirkan melalui berbagai platform digital dan aksi langsung di sejumlah titik strategis di Makassar, berhasil menarik perhatian dan donasi dari ribuan warga. Menurut catatan internal penyelenggara, total donasi yang terkumpul mencapai estimasi ratusan juta rupiah, yang kemudian dialokasikan secara transparan untuk pengadaan barang-barang kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, gula, makanan kaleng, serta kebutuhan sanitasi dasar yang krusial bagi para pengungsi.
Fase logistik merupakan tantangan tersendiri. Bantuan yang telah dikemas dengan standar internasional ini harus menempuh perjalanan panjang dan kompleks, melibatkan koordinasi ketat dengan mitra lokal di Yordania serta pemahaman mendalam tentang regulasi kepabeanan dan prosedur pengiriman lintas negara. Tim relawan di Makassar memastikan setiap paket diperiksa dan diverifikasi, sebelum kemudian diangkut melalui jalur laut dan darat, menembus berbagai hambatan birokrasi dan geografis. Distribusi akhir di Yordania dilakukan langsung ke kamp-kamp pengungsian yang padat, seperti Camp Baqa’a atau Zaatari, tempat ribuan keluarga Palestina bertahan hidup di tengah fasilitas minim dan ketidakpastian masa depan. Kisah-kisah yang dibawa kembali oleh tim menggambarkan kondisi sanitasi yang memprihatinkan, kebutuhan medis yang mendesak, dan ketahanan spiritual para pengungsi yang luar biasa.
Mengapa Makassar? Membongkar Motivasi Solidaritas Lintas Batas
Fenomena “Makassar for Gaza” jauh melampaui sekadar gestur simpatik. Ini adalah cerminan kompleksitas identitas Makassar sebagai kota maritim dan metropolis. Secara historis, Makassar adalah simpul perdagangan dan interaksi budaya yang telah lama terbuka terhadap dunia luar. Karakteristik ini mungkin membentuk masyarakatnya yang memiliki kepekaan terhadap isu-isu global, khususnya yang menyentuh dimensi kemanusiaan dan keagamaan.
Dampak Lokal: Membangun Citra Positif dan Memperkuat Modal Sosial Kota
Inisiatif seperti “Makassar for Gaza” menawarkan narasi tandingan yang signifikan terhadap citra Makassar yang kadang-kadang terlanjur diasosiasikan dengan konflik antar kelompok atau permasalahan sosial urban. Sebuah riset yang dilakukan oleh Pusat Studi Sosiologi Urban Universitas Hasanuddin pada tahun 2023 menunjukkan bahwa lebih dari 65% responden di Makassar memiliki keinginan kuat untuk berkontribusi pada isu-isu sosial, baik lokal maupun global, namun seringkali terkendala oleh platform yang terorganisir dan terpercaya. Gerakan ini membuktikan bahwa Makassar memiliki modal sosial yang kuat: kemampuan mengorganisir yang efektif, jejaring relawan yang solid, dan tingkat kepercayaan publik yang tinggi terhadap lembaga-lembaga yang bergerak di bidang amal.
Bagi sektor ekonomi kreatif dan kaum muda di Makassar, gerakan ini menjadi inspirasi. Ia menunjukkan bagaimana energi positif dan idealisme dapat disalurkan ke arah yang konstruktif, menepis stigma bahwa kaum muda hanya terlibat dalam aktivitas yang destruktif. Selain itu, kegiatan penggalangan dana dan logistik, meskipun fokusnya kemanusiaan, secara tidak langsung juga menggerakkan roda ekonomi lokal dalam skala kecil, dari pengadaan bahan baku hingga jasa transportasi dan komunikasi. Potensi ini, jika didukung dan direplikasi, dapat menjadi model bagi penyaluran energi positif kaum muda di Makassar, mengarahkan mereka dari potensi aktivitas destruktif menjadi konstruktif. Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana pemerintah kota dan pemangku kepentingan lainnya dapat mendukung serta mereplikasi model partisipasi sipil semacam ini untuk isu-isu lokal yang mendesak, seperti penanganan kemiskinan ekstrem, peningkatan kualitas pendidikan, atau konservasi lingkungan pesisir di Makassar?
Tantangan dan Potensi Keberlanjutan
Meskipun sukses dalam misi penyaluran bantuan, keberlanjutan gerakan seperti “Makassar for Gaza” tidak lepas dari tantangan. Akuntabilitas dan transparansi keuangan yang ketat, kemampuan untuk beradaptasi dengan dinamika geopolitik yang terus berubah, serta upaya menjaga kepercayaan publik secara berkelanjutan, adalah kunci. Diperlukan upaya konsisten untuk memperkuat struktur organisasi, memperluas jaringan kemitraan, dan terus mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya solidaritas global.
Kesimpulan
Gerakan “Makassar for Gaza” bukan sekadar cerita tentang bantuan kemanusiaan yang berhasil disalurkan. Ini adalah narasi yang lebih besar tentang Kota Makassar itu sendiri: sebuah kota yang kompleks, namun penuh dengan potensi solidaritas dan kekuatan sipil yang luar biasa. Aksi ini menyoroti bahwa di balik berbagai tantangan internal yang kerap menjadi sorotan, Makassar memiliki wajah kemanusiaan global yang kuat, mampu mengorganisir misi kompleks lintas benua, dan memproyeksikan identitasnya sebagai simpul kepedulian di peta dunia. Ini adalah panggilan bagi para pemimpin kota, masyarakat, dan seluruh elemen sipil untuk lebih jauh mengenali, memupuk, dan memberdayakan kekuatan konstruktif ini, mengubah potensi solidaritas menjadi fondasi bagi pembangunan identitas kota yang lebih resilient dan bermartabat di mata dunia.























