MAKASSAR, Wartakita.id – Sulawesi Selatan menghadapi ancaman serius terhadap ekosistem laut dan daratan pesisirnya sepanjang tahun 2025. Data terbaru menunjukkan fenomena pemutihan karang (coral bleaching) massal di Kepulauan Spermonde dan abrasi pantai yang masif di Takalar, mengindikasikan krisis lingkungan yang telah mencapai titik kritis dan berdampak langsung pada ribuan jiwa penduduk lokal.
Pada tahun 2025, Selat Makassar mencatat rekor suhu permukaan laut tertinggi dalam sejarah pengamatan, memicu serangkaian peristiwa lingkungan yang devastatif. Kondisi ini secara langsung berkorelasi dengan pemutihan karang yang terburuk dalam dua dekade terakhir, sebagaimana dilaporkan oleh tim peneliti Coremap yang memantau Kepulauan Spermonde.
Spermonde: Surga yang Memutih di Bawah Permukaan
Kepulauan Spermonde, yang dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati laut terkaya di dunia, mengalami pemutihan karang massal yang berlangsung intensif dari Mei hingga Agustus 2025. Penyelam dan ilmuwan kelautan menyaksikan pemandangan yang memilukan: terumbu karang yang semula berwarna-warni dan menjadi rumah bagi berbagai spesies ikan ekonomis, kini berubah menjadi hamparan putih pucat, tanda kematian ekosistem.
“Ini adalah kejadian terburuk dalam 20 tahun terakhir,” ujar seorang peneliti Coremap dalam laporannya. “Skala dan intensitas pemutihan kali ini jauh melampaui kejadian sebelumnya, menunjukkan tekanan ekstrem yang dialami ekosistem laut kita.”
Pemutihan karang terjadi ketika suhu air laut yang ekstrem menyebabkan alga simbiotik (zooxanthellae) yang hidup di jaringan karang dikeluarkan. Alga ini tidak hanya memberi warna pada karang, tetapi juga menyediakan sebagian besar nutrisi yang dibutuhkan karang untuk bertahan hidup. Tanpa alga ini, karang akan kelaparan, memutih, dan akhirnya mati. Kematian terumbu karang memiliki implikasi jangka panjang yang serius, termasuk hilangnya habitat bagi ikan dan makhluk laut lainnya, serta melemahnya perlindungan alami pesisir dari gelombang.
Bagi wisatawan yang mungkin hanya melihat biru indahnya permukaan laut, kondisi di bawahnya adalah realitas yang jauh berbeda. Namun, bagi para nelayan di pulau-pulau kecil Spermonde, pemandangan karang yang memutih adalah pertanda bencana ekonomi yang nyata. Ikan-ikan yang bergantung pada terumbu karang sebagai tempat berlindung dan mencari makan, kini berimigrasi ke perairan yang lebih dalam dan jauh. Akibatnya, nelayan harus mengeluarkan biaya bahan bakar yang membengkak untuk mencapai area penangkapan yang semakin langka, mengurangi pendapatan mereka secara drastis.
Abrasi Ganas di Pesisir Takalar: Garis Pantai yang Mundur
Selain krisis di bawah laut, daratan pesisir Sulawesi Selatan juga menghadapi ancaman serius. Di Galesong, Kabupaten Takalar, abrasi pantai kian ganas sepanjang tahun 2025. Garis pantai di wilayah ini dilaporkan mundur sejauh lima meter dalam kurun waktu satu tahun saja.
Dampak abrasi ini sangat terasa oleh masyarakat pesisir. Pekuburan umum yang telah menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi generasi-generasi warga setempat kini terancam tergerus ombak. Lebih parah lagi, dapur dan bagian belakang rumah warga yang berada di garis pantai telah ditelan air laut, memaksa mereka untuk mengungsi atau merelakan sebagian propertinya hilang ditelan ombak.
Proyek pembangunan tanggul pemecah ombak yang diinisiasi pemerintah di Galesong, yang seharusnya menjadi benteng pelindung, terbukti tidak berdaya melawan kekuatan kenaikan muka air laut dan gelombang pasang. Struktur yang dibangun dengan harapan dapat menahan erosi, kini tampak kewalahan, bahkan sebagian telah rusak, menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas dan keberlanjutan solusi infrastruktur yang ada.
Ancaman Nyata: Bukan Sekadar Wacana Seminar
Krisis lingkungan yang melanda Sulawesi Selatan pada tahun 2025 ini menegaskan bahwa isu-isu seperti perubahan iklim dan kenaikan muka air laut bukan lagi sekadar topik diskusi di seminar-seminar ilmiah. Ini adalah realitas pahit yang telah mengetuk pintu rumah warga pesisir, memaksa mereka untuk menghadapi pilihan sulit antara bertahan atau mengungsi.
Para ahli lingkungan dan klimatologi telah berulang kali memperingatkan tentang dampak perubahan iklim global yang termanifestasi secara lokal. Kenaikan suhu laut global, yang menjadi pemicu utama pemutihan karang, juga berkontribusi pada ekspansi termal air laut dan pencairan gletser, yang pada gilirannya menyebabkan kenaikan muka air laut. Fenomena ini diperparah oleh praktik penambangan pasir laut dan pembangunan infrastruktur pesisir yang tidak berkelanjutan, yang dapat mengganggu keseimbangan alami ekosistem pantai.
Sulawesi Selatan, dengan garis pantai yang panjang dan ketergantungan ekonomi yang tinggi pada sektor kelautan dan perikanan, berada di garis depan ancaman ini. Kehilangan terumbu karang berarti hilangnya habitat ikan, yang akan berdampak langsung pada ketahanan pangan dan mata pencarian nelayan. Mundurnya garis pantai berarti hilangnya lahan, rumah, dan warisan budaya.
Pemerintah daerah dan pusat dihadapkan pada tantangan mendesak untuk merumuskan dan mengimplementasikan strategi mitigasi dan adaptasi yang komprehensif. Ini tidak hanya mencakup pembangunan infrastruktur yang lebih tangguh, tetapi juga program edukasi masyarakat, pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan, dan upaya nyata dalam mengurangi emisi gas rumah kaca. Tanpa intervensi yang serius dan terkoordinasi, Sulawesi Selatan berisiko kehilangan tanah pijakannya, perlahan namun pasti, menenggelamkan harapan dan masa depan generasi mendatang.























