Minggu, 15 Februari 2026
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI
No Result
View All Result
WartakitaID
No Result
View All Result
Home Berita Terkini Nasional

‘Kami kira akan mati di sini,’ Pengungsi Rohingya Trauma setelah diusir Mahasiswa

UNHCR Prihatin Mahasiswa Usir Paksa Pengungsi Rohingya di Aceh

by Pewarta Warga
31/12/2023
in Nasional
Reading Time: 7 mins read
A A
‘Kami kira akan mati di sini,’ Pengungsi Rohingya Trauma setelah diusir Mahasiswa - Featured

Insiden pemindahan paksa oleh ratusan mahasiswa terhadap pengungsi Rohingya di Banda Aceh Rabu (27/12) 2023 menyisakan trauma dan ketakutan bagi korban.

“Karena bersaudara seiman, saya tidak menyangka mereka memperlakukan kami dengan tidak manusiawi seperti itu,” kata seorang pengungsi Rohingya.

Sementara, kelompok masyarakat sipil menyesalkan aksi pengusiran yang disertai kekerasan dan intimidasi. Badan PBB yang menangani pengungsi, UNHCR, menyerukan agar pihak berwenang menjamin keselamatan para pengungsi yang kini totalnya berjumlah 1.608 orang di Aceh.

Secara terpisah, Menkopolhukam Mahfud MD mengatakan, pemerintah pusat akan mengambil langkah pemindahan sementara para pengungsi Rohingya di Aceh. Mahfud juga mengingatkan kepolisian agar menjaga keselamatan mereka.

Sehari setelah pengepungan dan pemindahan paksa yang dilakukan gerombolan mahasiswa, sekitar 137 pengungsi Rohingya akhirnya kembali lagi ke penampungan di rubanah Gedung Balee Meuseraya Aceh (BMA), Kota Banda Aceh.

Mereka sebelumnya dipaksa dan digiring agar pindah dengan dua truk ke kantor Kementerian Hukum dan HAM Aceh dari Gedung BMA.Pengungsi sebagian besar perempuan dan anak-anak, pipinya masih terlihat basah karena air mata.

“Mereka masih merasa ketakutan dan menghindar,” kata wartawan di Aceh, Hidayatullah yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Kamis (28/12).

Di antara mereka terdapat Rohimatun sedang mengelus badan anaknya yang diselimuti kain sarung. Bocah itu terlihat pulas. Perempuan 27 tahun ini bersedia bercerita dan mengutarakan isi hatinya.

Ia mengatakan, anaknya sedang demam. Kemungkinan sakitnya itu dipicu peristiwa kemarin, saat dipindahkan paksa ke halaman Kantor Wilayah Kemenkumham Aceh.”Saat mahasiswa datang beramai-ramai menyerbu kami, melempar semua pakaian, tas, dan segala macam ke atas kami, padahal di dalam tas itu ada Al.-Qur’an, ada Iqra, tapi itu dicampakkan ke atas kami… “Kami sangat ketakutan dan kesakitan, sehingga menangis. Karena bersaudara seiman, saya tidak menyangka mereka memperlakukan kami dengan tidak manusiawi seperti itu,“ kata orang tua tunggal yang membawa serta tiga anaknya ke Aceh.

Rohimatun menjelaskan alasannya berada di Aceh karena adanya “ancaman yang bertubi-tubi“ di Kamp Cox Bazar, Bangladesh. Di Aceh, ia punya harapan untuk masa depan anak-anaknya yang lebih baik “sebagaimana orang lain pada umumnya.“

Sebelumnya, ia mengungsi ke Bangladesh karena terjadi pembantaian besar-besaran yang terjadi di kampung halaman, di Myanmar pada 2017.

“Saat pergi itu saya membawa tiga orang anak dan terpisah dengan suami. Belakangan ketika sudah berada di Bangladesh, baru saya tahu kalau suami saya ditembak mati saat menyelamatkan diri, tapi saya tidak pernah melihat mayatnya,” kata Rohimatun.

Pengungsi Rohingya lainnya, yang bersedia bercerita adalah Muhammad Syakhi – di pengungsian, ia bersama dengan istri dan dua anak.

Syakhi, pengungsi Rohingya, mengatakan “Kami kira akan mati di sini”, saat penyerbuan mahasiswa. Syakhi mengatakan terpaksa mengungsi ke Aceh karena tidak ada jaminan keamanan di lokasi pengungsian di Bangladesh.

“Setiap hari ada penculikan, tembak menembak, tidak ada kehidupan yang luas,” katanya. Awalnya ia pergi ke Aceh karena mendengar “masyarakatnya baik-baik”. “Rupanya berbeda. Kami sangat ketakutan, apa yang kami bayangkan di sini rupanya berbeda, karena itulah kami menangis,” tambah Syakhi.

Ia menambahkan, saat gerombolan mahasiswa datang untuk mengusir, “Kami kira akan mati di sini. Jika ada kehidupan yang lebih baik di sana [Bangladesh], untuk apa kami pergi. Kalau dikembalikan ke sana [Bangladesh], bunuh saja kami di sini”.

“Kami [laki-laki] tidak apa-apa diperlakukan seperti itu, tapi kami sedih ketika perempuan-perempuan kami diperlakukan dengan kejam. Tas dilempar-lempar begitu saja, tapi kami tidak bisa melakukan apapun, makanya kami menangis,” kata Syakhi.

Mahasiswa bersama polisi menaikkan sejumlah imigran etnis Rohingya ke truk saat berlangsung pemindahan paksa di penampungan sementara gedung Balai Meuseuraya Aceh (BMA), Banda Aceh, Aceh, Rabu (27/12/2023).

Kelompok masyarakat sipil mengecam aksi pemindahan paksa pengungsi Rohingya di Aceh yang dilakukan gerombolan mahasiswa, di Gedung Balee Meuseuraya Aceh (MBA), Banda Aceh, Rabu (27/12).

BACA JUGA:

Semangat Pantang Menyerah Warga Gayo Lues: Bangkit dari Pusaran Banjir dan Longsor

Manifesto Reformasi Parpol: Membubarkan ‘PO Bus’ dan Mengembalikan Daulat Rakyat

Banjir Subang: Ribuan Rumah Terendam, Pemkab Dirikan Dapur Umum dan Pantau Tanggul

Aceh Pascabencana: 19,9% Huntara Selesai, Dana Tunggu Hunian Dikebut

Tim Reaksi Cepat BPBD Makassar Kembali Diterjunkan dalam Operasi SAR Pesawat ATR di Pangkep

“Kita menyesalkan ketika teman-teman yang mengaku dirinya sebagai mahasiswa, melakukan intimidasi, kekerasan yang menimbulkan trauma kepada pengungsi, terutama kelompok rentan, anak dan perempuan,” kata Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Sasmito dalam keterangan kepada pers, Kamis (28/12).

Sasmito menghargai aspirasi yang disampaikan mahasiswa, akan tetapi semestinya dilakukan tanpa kekerasan, dan “harus didukung dengan fakta dan data di lapangan,” katanya.

Tanpa argumen yang jelas

Koordinator KontraS Aceh, Azharul Husna mengkelaim pihaknya memantau jalannya aksi demonstrasi ratusan mahasiswa dari gabungan beberapa kampus, Rabu kemarin.

Dari temuannya, KontraS Aceh melaporkan sejumlah mahasiswa yang terlibat aksi tersebut tidak memiliki argumentasi yang memadai untuk menolak keberadaan pengungsi Rohingya.

Alasan-alasan yang diutarakan mahasiswa umumnya merujuk dari media sosial yang memuat “ujaran kebencian dan berita bohong” terhadap Rohingya, kata Husna.

“Itu [mereka] tidak dapat menjawab dengan pasti. Dan yang disampaikan itu seperti informasi-informasi di media sosial,” kata Husna yang menaruh kekhawatiran insiden ini akan berulang dan meluas jika tidak memperoleh mitigasi dari pihak berwenang.

“Termasuk juga memperhatikan, apa dampak bagi Indonesia di mata internasional, kalau terjadi serangan fisik yang menyasar pengungsi,” tambahnya.

Temuan KontraS Aceh ini menguatkan dugaan dari Badan Pengungsi PBB, UNHCR. Dalam keterangan resminya UNHCR mengatakan bahwa serangan terhadap pengungsi bukanlah tindakan yang berdiri sendiri, melainkan hasil dari kampanye online yang terkoordinasi.

“Untuk menyebarkan informasi yang salah, disinformasi, dan ujaran kebencian terhadap para pengungsi, serta usaha untuk menjelek-jelekkan upaya Indonesia dalam menyelamatkan nyawa yang terancam di laut,” kata UNHCR dalam keterangannya.

UNHCR juga mengatakan kondisi ini sebagai “Sangat mengkhawatirkan keselamatan para pengungsi dan menyerukan kepada pihak penegak hukum setempat untuk segera mengambil tindakan guna memastikan perlindungan bagi semua orang yang putus asa, dan pekerja kemanusiaan.”

Tanpa kesadaran historis

Dalam kesempatan lainnya, Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia, Usman Hamid mengatakan “sangat menyesalkan dan mengecam tindakan tidak manusiawi” mahasiswa di Aceh terhadap pengungsi Rohingya.

Aktivis 98 ini menilai tindakan gerombolan mahasiswa di Aceh terhadap pengungsi Rohingnya seolah “tidak lagi memiliki kesadaran historis”.

Padahal, sejumlah aksi mahasiswa berdasarkan sejarah lebih menitikberatkan pada “visi perdamaian, kemanusiaan, dan persaudaraan.” Hal ini termasuk dalam gerakan mahasiswa pada reformasi 1998.

“Mereka gagal paham soal sebab musabab orang Rohingya terdampar ke Aceh, lalu bertindak bagaikan robot-robot kosong etika,” kata Usman dalam akun Instagramnya.

Apa langkah yang diambil pemerintah?

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD mengatakan, pemerintah akan memindahkan sekitar 137 pengungsi Rohingya yang ditampung di Balai Meuseraya Aceh (BMA), Kota Banda Aceh.

”Hari ini saya sudah mengambil keputusan dan tindakan agar pengungsi Rohingya itu ditempatkan di satu tempat yang aman,” kata Mahfud MD kepada wartawan, Kamis (28/12). Ia menambahkan para pengungsi ini akan akan dipindahkan ke dua lokasi berbeda, yaitu Gedung Yayasan Aceh dan Gedung Palang Merah Indonesia (PMI).

Mahfud juga mengingatkan personel kepolisian agar menjaga keamanan para pengungsi, agar peristiwa pengempungan Rabu kemarin, tidak terulang lagi. ”Karena ini soal kemanusiaan,” katanya.

Selain itu, Mahfud memastikan, pemerintah Indonesia akan menampung sementara para pengungsi. Nantinya, pengurusannya tetap dikembalikan ke PBB.

‘Kami kira akan mati di sini,’ Pengungsi Rohingya Trauma setelah diusir Mahasiswa - image 1

Video-video pengepungan dan pemindahan paksa yang dilakukan gerombolan mahasiswa di Aceh terhadap pengungsi Rohingya beredar di media sosial pada Rabu (27/12), dan menyita perhatian publik.

Sejumlah video menggambarkan ratusan mahasiswa lengkap dengan almamaternya menggeruduk pengungsi Rohingya di rubanah Gedung MBA.

Mereka berteriak-teriak mengusir. Beberapa dari mereka juga menendang dan melempar barang-barang milik pengungsi sampai beterbangan, sementara para pengungsi yang kebanyakan perempuan dan anak-anak mengangkat tangan sambil terus menangis histeris.

Petugas keamanan yang berjaga kalah jumlah dengan mahasiswa, tapi mereka berusaha menenangkan massa yang datang, agar tidak terlalu mendekat dengan pengungsi.

Dalam potongan video lainnya, para pengungsi digiring ke arah truk untuk dipindahkan ke lokasi lain, yaitu kantor Kemenkumham Aceh. Perempuan dan anak kecil terus menangis tak berhenti.

Menurut salah satu mahasiswa yang ikut berdemonstrasi, Della Masrida, dirinya menolak keberadaan pengungsi Rohingya karena, “Banyak mereka melakukan hal-hal yang tak masuk akal, kayak sering mogok makan, minta tempat yang layak. Seharusnya mereka… datang saja ke sini tidak diundang, tapi kayak merasa ini tuh negara mereka. Merasa seperti nggak patut.“

Mahasiswa lainnya yang ikut berdemo mengancam akan melakukan aksi yang lebih besar lagi, jika tuntutan mereka: pengungsi dideportasi dari Aceh tidak digubris pihak berwenang.

”Jika etnis ini tidak mampu dideportasi ke luar Aceh, maka saya pastikan mahasiswa akan hadir berlipat ganda dalam melawan kebijakan pemerintah,“ kata mahasiswa bernama Teuku Wariza Arismunandar.

Dalam laporan KontraS Aceh, saat ini para pengungsi Rohingya di Aceh tersebar di sejumlah kabupaten/kota seperti Sabang, Banda Aceh, Pidie, Bireun, dan Aceh Timur.

Di sejumlah titik pengungsian, disebutkan para pencari suaka itu mengalami kesulitan air bersih dan makanan. ”Sebaran pengungsi ini dalam kondisi tidak baik-baik saja,“ kata Koordinator KontraS Aceh, Azharul Husna.

Tags: AcehKemanusiaanpengungsiRohingyawartakita
Share11Tweet7Send
Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger Diskon Referral 20% Cloud Professional Hostinger

ARTIKEL TERKAIT

sd monginsidi makassar wartakita cr

Patologi Birokrasi: Mengapa Pena di Ngada Lebih Sulit Didapat Daripada KIP-K di Jakarta?

05/02/2026
‘Kami kira akan mati di sini,’ Pengungsi Rohingya Trauma setelah diusir Mahasiswa - Featured

Harga Sebuah Pena yang Lebih Mahal dari Nyawa: Surat Cinta Terakhir dari Ngada

05/02/2026
‘Kami kira akan mati di sini,’ Pengungsi Rohingya Trauma setelah diusir Mahasiswa - Featured

APBN 2026: Mengurai Mitos Ketergantungan Pajak, Menelisik Jalan Kemakmuran Berkelanjutan

27/01/2026
‘Kami kira akan mati di sini,’ Pengungsi Rohingya Trauma setelah diusir Mahasiswa - Featured

PPPK Vs SPPG: Ketidakadilan Gaji Guru Honorer R4 Mengemuka, Rencana Pengangkatan Massal Menuai Sorotan

22/01/2026
‘Kami kira akan mati di sini,’ Pengungsi Rohingya Trauma setelah diusir Mahasiswa - Featured

Bagian Pesawat ATR 42-500 Ditemukan di Pangkep, Tim SAR Hadapi Kendala Cuaca dan Medan Sulit

18/01/2026
‘Kami kira akan mati di sini,’ Pengungsi Rohingya Trauma setelah diusir Mahasiswa - Featured

Mengalir Sampai Kiamat: Jejak Wakaf Habib Bugak yang Memberi Jutaan Rupiah untuk Jemaah Aceh.

17/01/2026
‘Kami kira akan mati di sini,’ Pengungsi Rohingya Trauma setelah diusir Mahasiswa - Featured

Libur Nasional Isra Mi’raj 2026: Momentum Refleksi Spiritual dan Long Weekend Pertama Tahun Ini

16/01/2026
‘Kami kira akan mati di sini,’ Pengungsi Rohingya Trauma setelah diusir Mahasiswa - Featured

Malaysia & Indonesia Blokir Grok AI: Respons Cepat atas Ancaman Deepfake Seksual dan Langkah xAI Terkini

13/01/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

I agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.

TERPOPULER-SEPEKAN

  • ‘Kami kira akan mati di sini,’ Pengungsi Rohingya Trauma setelah diusir Mahasiswa - Featured

    Netflix, Mattel, dan Hasbro Bersinergi: Revolusi Mainan K-Pop “Demon Hunters”

    583 shares
    Share 233 Tweet 146
  • 10 Model Rambut Pria yang Cocok Untuk Menutupi Pipi Chubby 💈✂️

    3871 shares
    Share 1548 Tweet 968
  • Kode CMD Untuk Mempercepat Kinerja Laptop

    481 shares
    Share 192 Tweet 120
  • Emas dan Perak Berfluktuasi: Lonjakan Signifikan Meski Data Ekonomi AS Mengejutkan, Apa Kata Analis?

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • Tragedi Chinatown: Bocah 6 Tahun WNI Meninggal Akibat Kecelakaan Lalu Lintas di Singapura

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • 102 Pohon Tumbang di Makassar Akibat Cuaca Ekstrem Januari 2026: DLH Tingkatkan Mitigasi

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • IHSG Diperkirakan Lanjut Koreksi Awal Pekan, Simak Prediksi dan Saham Pilihan MNC Sekuritas 9 Februari 2026

    29 shares
    Share 12 Tweet 7
  • RS Kemenkes Makassar Resmi Beroperasi: Pusat Kesehatan Internasional untuk Indonesia (Timur)

    62 shares
    Share 25 Tweet 16
  • Beda Smoothing Sutra dengan Smoothing Biasa, Rebonding, dan Straightening

    1330 shares
    Share 532 Tweet 333
  • Tragedi Papua: Pilot Smart Air Tewas Ditembak, Isu Tambang Ilegal dan Ancaman TPNPB Mengemuka

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
‘Kami kira akan mati di sini,’ Pengungsi Rohingya Trauma setelah diusir Mahasiswa - Featured

Unduh Buku Saku “SIAGA BENCANA” dari BNPB

02/11/2023

Buku saku siaga bencana ini tidak menjamin keselamatan Anda. Namun, memberikan pedoman secara umum untuk kesiapsiagaan.

Read moreDetails

WARTAKITA

‘Kami kira akan mati di sini,’ Pengungsi Rohingya Trauma setelah diusir Mahasiswa - Featured
Fashion & Kecantikan

Parfum Mahal Tapi Cepat Hilang Kena Keringat? 4 Rekomendasi Parfum “Anti-Gerah” Tahan Lama di Cuaca Indonesia

30/11/2025
‘Kami kira akan mati di sini,’ Pengungsi Rohingya Trauma setelah diusir Mahasiswa - Featured
Gaya Hidup

Jeda di Tengah Badai: Tiga Kompas Batin untuk Mengarungi Gelombang Hidup

20/11/2025
‘Kami kira akan mati di sini,’ Pengungsi Rohingya Trauma setelah diusir Mahasiswa - Featured
Gadget

Insta360 GO 3S Hadir dengan Video 4K dan Dukungan Apple Find My

25/07/2024
img 1764471350 26f1c112a772ad44.jpg
Fashion & Kecantikan

Azzaro The Most Wanted: Parfum Pria yang Memikat dengan Aroma Melenakan

14/12/2025
‘Kami kira akan mati di sini,’ Pengungsi Rohingya Trauma setelah diusir Mahasiswa - Featured
Otomotif

Seni Merawat Vespa Matic: Bebaskan Gredek, Nikmati Perjalanan Halus

06/12/2025
‘Kami kira akan mati di sini,’ Pengungsi Rohingya Trauma setelah diusir Mahasiswa - Featured
Gaya Hidup

Aroma yang Tak Terlupakan: Rahasia Kepercayaan Diri Pria Modern

02/12/2025
‘Kami kira akan mati di sini,’ Pengungsi Rohingya Trauma setelah diusir Mahasiswa - Featured
Fashion & Kecantikan

Ingin Dihormati di Kantor? Ini 4 “Power Scent” Pria & Wanita yang Bikin Aura Anda Seperti CEO

29/11/2025
‘Kami kira akan mati di sini,’ Pengungsi Rohingya Trauma setelah diusir Mahasiswa - Featured
Gadget

Jisoo BLACKPINK dan Dyson: Rahasia Rambut Sehat Berkilau

21/11/2025
‘Kami kira akan mati di sini,’ Pengungsi Rohingya Trauma setelah diusir Mahasiswa - Featured
Fashion & Kecantikan

Rahasia Kilau Rambut Jisoo Bukan Cuma Alat Mahal! 4 “Serum Ajaib” Wajib Punya untuk Lindungi Rambut dari Panas

29/11/2025
‘Kami kira akan mati di sini,’ Pengungsi Rohingya Trauma setelah diusir Mahasiswa - Featured
Otomotif

Modifikasi Vespa Matic: 10 Aksesoris ‘Proper’ Budget Pelajar-Sultan

04/12/2025
‘Kami kira akan mati di sini,’ Pengungsi Rohingya Trauma setelah diusir Mahasiswa - Featured
Fashion & Kecantikan

Smoothing vs Rebonding vs Keratin: Mana yang Terbaik untuk Rambutmu?

16/11/2025
‘Kami kira akan mati di sini,’ Pengungsi Rohingya Trauma setelah diusir Mahasiswa - Featured
Otomotif

Ancaman Mogok Akibat Aki Lemah di Musim Hujan: Kenapa Perawatan Mandiri Mobil LCGC Jadi Krusial?

16/11/2025
‘Kami kira akan mati di sini,’ Pengungsi Rohingya Trauma setelah diusir Mahasiswa - Featured
Alam dan Lingkungan Hidup

Tips Keselamatan Saat Gempa Bumi

23/12/2023

Gempa bumi tidak seperti kejadian alam lainnya yang masih bisa diprediksi jauh-jauh hari dengan lebih akurat.

Read moreDetails
  • beranda
  • kontak
  • layanan
  • beriklan
  • privasi
  • perihal

©2021 wartakita media

  • Login
No Result
View All Result
  • 🏠
  • ALAM
  • WARTA
    • PEMBELAJARAN
    • HUKUM
    • NUSANTARA
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SEPAK BOLA
    • #CEKFAKTA
  • GAYA
  • MAKASSAR
  • TEKNOLOGI
  • KONTAK
    • Mari Bermitra
    • Tentang Wartakita
    • Tim Redaksi
    • Kebijakan Privasi
    • TRAKTIR KOPI

©2021 wartakita media

wartakita.id menggunakan cookies tanpa mengorbankan privasi pengunjung.