Amerika Serikat bersiap menghadapi gelombang aksi demonstrasi nasional ketiga yang masif pada Sabtu (28/3), di mana jutaan warga diperkirakan akan menyuarakan kemarahan terhadap kebijakan Presiden Donald Trump yang dianggap otoriter dan perpanjangan konflik di Iran.
Aksi Protes Nasional Ketiga: Suara Rakyat Menggema
Gerakan akar rumput bernama “No Kings” kembali menginisiasi demonstrasi besar-besaran ini, menegaskan posisinya sebagai oposisi paling vokal terhadap pemerintahan Trump sejak awal masa jabatannya. Ini menandai gelombang protes ketiga dalam kurun waktu kurang dari setahun, menunjukkan skala perlawanan yang terus berkembang di kalangan masyarakat Amerika.
Latar Belakang dan Tuntutan Demonstran
Kemarahan publik yang mendorong aksi protes ini berakar pada beberapa isu krusial yang disoroti oleh gerakan “No Kings”:
- Perang di Iran: Kelanjutan perang yang dipimpin Trump bersama Israel menjadi salah satu pemicu utama, dengan tuntutan agar konflik tersebut segera diakhiri karena dianggap berlarut-larut tanpa solusi yang jelas.
- Gaya Pemerintahan Otoriter: Penyelenggara demonstrasi mengkritik keras pendekatan Trump, termasuk penggunaan keputusan eksekutif yang sering, dugaan politisasi Departemen Kehakiman untuk menekan lawan politik, dukungan terhadap industri bahan bakar fosil, penolakan terhadap isu perubahan iklim, serta kecenderungan menampilkan kekuatan militer secara berlebihan.
- Insiden Kekerasan Domestik: Naveed Shah dari Common Defense, sebuah asosiasi veteran yang mendukung gerakan ini, menyuarakan keprihatinan mendalam atas insiden kekerasan di dalam negeri. Hal ini mencakup pembunuhan warga sipil oleh aparat bersenjata di jalanan, praktik pemisahan keluarga, dan penargetan terhadap komunitas imigran yang dianggap melanggar hak asasi manusia.
Perkembangan Gerakan “No Kings” dari Awal hingga Skala Nasional
Gerakan “No Kings” telah menunjukkan pertumbuhan yang signifikan sejak aksi protes nasional pertamanya pada Juni 2025, yang bertepatan dengan perayaan ulang tahun Trump dan parade militer di Washington. Aksi perdana ini berhasil menarik jutaan partisipan dari berbagai kota besar di seluruh Amerika Serikat.
Pada Oktober, aksi “No Kings” kedua berhasil mengumpulkan sekitar tujuh juta demonstran. Tujuan utama dari aksi ini adalah untuk meningkatkan kesadaran publik menjelang pemilihan paruh waktu pada November, mengingat Partai Republik menghadapi risiko kehilangan kendali atas kedua kamar parlemen akibat tingkat dukungan Trump yang stagnan di kisaran 40 persen.
Data terbaru dari pihak penyelenggara menunjukkan rencana lebih dari 3.000 aksi unjuk rasa yang akan digelar secara serentak, sebuah peningkatan substansial dibandingkan aksi sebelumnya. Demonstrasi ini diproyeksikan menjangkau kota-kota besar di pesisir timur dan barat, serta meluas ke daerah pinggiran kota dan pedesaan, mengindikasikan basis dukungan yang semakin luas.
Minnesota: Titik Fokus Perhatian Nasional
Wilayah Minnesota menjadi salah satu area yang mendapat sorotan utama dalam rangkaian aksi protes kali ini. Beberapa bulan sebelumnya, wilayah ini telah menjadi pusat perhatian nasional akibat tindakan keras pemerintahan Trump terhadap imigran yang disertai dengan insiden kekerasan.
Untuk memberikan dukungan moral dan artistik bagi aksi protes, penyanyi rock legendaris Bruce Springsteen, yang dikenal sebagai kritikus vokal Trump, dijadwalkan tampil di St. Paul, ibu kota negara bagian Minnesota. Springsteen akan membawakan lagu “Streets of Minneapolis,” sebuah balada yang ia ciptakan untuk mengenang Renee Good dan Alex Pretti, dua warga AS yang tewas ditembak oleh agen ICE saat aksi protes pada Januari lalu. Kehadiran Springsteen diharapkan dapat menggalang simpati dan semangat para demonstran.
Pertumbuhan Menjadi Gerakan Perlawanan Nasional
Pihak gerakan “No Kings” dengan bangga menyatakan bahwa apa yang dimulai sebagai satu hari perlawanan sederhana pada tahun 2025 kini telah berkembang menjadi gerakan perlawanan nasional yang kuat dan terorganisir terhadap pemerintahan Trump. Fenomena yang patut dicatat adalah dua pertiga dari peserta yang berencana untuk berdemonstrasi pada Sabtu ini dilaporkan berasal dari luar kota-kota besar, sebuah indikasi jelas dari perluasan basis gerakan ke daerah-daerah yang secara tradisional dianggap sebagai basis pendukung Partai Demokrat.
Randi Weingarten, presiden Federasi Guru Amerika, memberikan pandangannya, menyatakan bahwa “Amerika sedang berada di titik balik.” Ia menambahkan, “Orang-orang merasa takut, dan mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok. Sudah saatnya pemerintah mendengarkan dan membantu mereka membangun kehidupan yang lebih baik, alih-alih memicu kebencian dan ketakutan.” Pernyataan ini mencerminkan aspirasi luas masyarakat yang menginginkan perubahan kebijakan yang lebih berpihak pada kesejahteraan rakyat.























