Wartakita.id, MAKASSAR – Jambore Kepala Desa Sulawesi Selatan 2025 resmi dibuka di Makassar, 12 Desember 2025. Acara ini diikuti 5.000 kepala desa dari 24 kabupaten. Gubernur Sulsel dan perwakilan Kementerian Desa turut hadir. Jambore ini bertujuan memberdayakan 10.000 kader pembangunan desa.
Kegiatan bertema “Desa Inovatif” ini diawali apel besar dan sesi workshop. Fokus utama adalah peningkatan pengelolaan dana desa yang mencapai Rp 1,2 triliun untuk tahun 2026. Pembahasan mencakup pemanfaatan teknologi digital dan pengembangan potensi pariwisata desa.
Acara berlangsung selama tiga hari, hingga 14 Desember 2025. Lokasi kegiatan mencakup area Makassar dan sekitarnya. Sesi lapangan akan digelar di beberapa desa di Kabupaten Sidrap dan Gowa. Tujuannya untuk melihat langsung praktik terbaik di lapangan.
Jambore diadakan untuk merespons perubahan pasca-reformasi Undang-Undang Desa tahun 2024. Diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pengelolaan desa. Selain itu, kegiatan ini berupaya mengatasi kesenjangan pembangunan antar pedesaan di Sulawesi Selatan.
Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, memuji tingginya partisipasi kepala desa. Ia menyebut 90% kepala desa hadir dalam acara penting ini. Semangat kolaborasi antar kepala desa dinilai sangat positif untuk kemajuan daerah.
Kegiatan ini menggunakan metode pembelajaran hybrid, termasuk sesi melalui Zoom. Diskusi kelompok dan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antar-desa juga menjadi bagian penting. Inisiatif ini diharapkan memperkuat otonomi desa dalam pembangunan.
Melalui media sosial, tagar #JamboreDesaSulsel telah digunakan lebih dari 80.000 kali. Situs resmi Pemerintah Provinsi Sulsel juga mencatat 200.000 akses terkait informasi jambore. Antusiasme ini menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam mendorong inovasi desa.
Salah satu target utama dari jambore ini adalah penurunan angka kemiskinan. Diharapkan, program-program inovatif yang dihasilkan dapat menurunkan angka kemiskinan di Sulawesi Selatan sebesar 5%.
Peserta juga diajak untuk memamerkan produk unggulan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dari desa masing-masing. Pameran ini menjadi ajang promosi sekaligus pertukaran ide antar pelaku ekonomi desa.
Pelatihan digital akan membekali para kepala desa dengan kemampuan memanfaatkan teknologi untuk administrasi dan pelayanan publik. Ini penting untuk efisiensi dan transparansi pengelolaan pemerintahan desa.
Pengembangan pariwisata desa menjadi sektor prioritas lain. Kepala desa didorong untuk mengidentifikasi dan mengelola potensi wisata lokal guna meningkatkan pendapatan masyarakat dan daerah.
Gubernur Sulsel menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. “Pemerintah provinsi siap mendukung penuh setiap inovasi yang lahir dari jambore ini,” ujarnya dalam sambutan pembukaan.
Jambore ini bukan sekadar pertemuan, namun sebuah langkah strategis. Tujuannya adalah menciptakan desa-desa yang mandiri, inovatif, dan berdaya saing di seluruh Sulawesi Selatan. Hasil konkret diharapkan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat pedesaan.
Melalui berbagai sesi, para kepala desa didorong untuk berbagi pengalaman sukses dan tantangan yang dihadapi. Saling belajar menjadi kunci utama dalam menghadapi kompleksitas pembangunan desa di era modern.
Dana desa Rp 1,2 triliun untuk tahun 2026 akan dikelola lebih efektif. Fokus pada inovasi diharapkan mampu mengoptimalkan alokasi anggaran untuk program-program yang berdampak langsung pada kesejahteraan warga.
Pemberdayaan 10.000 kader pembangunan desa menjadi fondasi penting. Kader ini akan menjadi ujung tombak di lapangan, mendampingi masyarakat dalam menjalankan program-program inovatif desa.
Jambore Kepala Desa Sulsel 2025 menjadi bukti komitmen pemerintah daerah. Upaya ini diharapkan dapat mewujudkan desa-desa yang lebih maju dan sejahtera di seluruh Sulawesi Selatan.























