Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam pada perdagangan Senin, 16 Maret, mencatat level terendah sejak Juli 2025 sebelum sedikit memulih. Penurunan ini didorong oleh kekhawatiran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang berpotensi melampaui batas wajar, diperparah oleh kenaikan harga minyak dunia dan likuiditas pasar yang menurun menjelang periode Lebaran.
IHSG Tertekan Akibat Sentimen Negatif
Pada perdagangan Senin, 16 Maret, IHSG merosot signifikan hingga menyentuh level 6.917,3 (-3,1%), terendah sejak Juli 2025. Meskipun sempat ada pemulihan parsial, indeks ditutup pada angka 7.022,3 (-1,6%). Dalam sepekan terakhir, pelemahan IHSG mencapai -4,3%. Penurunan ini dipicu oleh beberapa faktor krusial:
- Kekhawatiran Defisit APBN: Potensi defisit APBN yang melampaui batas legal menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor mengenai kesehatan fiskal negara.
- Harga Minyak Tinggi: Eskalasi konflik di Iran mendorong harga minyak bertahan di atas US$100 per barel, memberikan tekanan pada perekonomian global dan domestik.
- Penurunan Likuiditas Pasar: Menjelang periode Lebaran, rata-rata nilai transaksi harian dalam sepekan terakhir hanya mencapai Rp15,2 triliun, jauh di bawah rata-rata tahun berjalan sebesar Rp25,5 triliun, mengindikasikan berkurangnya aliran dana di pasar.
Saham-saham yang memberikan kontribusi terbesar pada penurunan indeks antara lain Dian Swastatika Sentosa ($DSSA) (-19,1 poin), Bumi Resources Minerals ($BRMS) (-17,2 poin), dan Amman Mineral Internasional ($AMMN) (-13,4 poin). Dari total 910 saham yang diperdagangkan, hanya 180 saham yang mampu ditutup di zona hijau.
Respons Pemerintah dan Upaya Mitigasi Defisit APBN
Menanggapi isu defisit APBN, Presiden Prabowo Subianto menyatakan kepada Bloomberg bahwa defisit di atas 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) hanya akan dipertimbangkan dalam situasi darurat dan bersifat sementara. Beliau menekankan komitmen terhadap disiplin fiskal dan optimisme untuk menghindari kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Namun, ia mengakui bahwa kenaikan harga minyak di atas US$120 per barel dalam jangka panjang akan sulit dihindari dampaknya.
Pernyataan presiden ini merespons analisis Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, pada Jumat, 13 Maret. Airlangga mengungkapkan bahwa analisis tiga skenario terkait fluktuasi harga minyak dan nilai tukar rupiah menunjukkan kesulitan mencapai target defisit tanpa pemotongan belanja negara.
Sebelumnya, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, telah memperingatkan bahwa jika anggaran belanja tidak disesuaikan dan harga minyak bertahan di kisaran US$90-92 per barel, APBN 2026 berpotensi defisit hingga 3,6% terhadap PDB. Presiden Prabowo juga menegaskan bahwa anggaran program Makan Bergizi Gratis tidak akan dipangkas dan pemerintah sedang menjajaki solusi lain, termasuk upaya pengurangan konsumsi BBM.
Dampak terhadap Rupiah dan Pasar Obligasi
Kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia turut membebani nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. Pada hari ini, Rupiah melemah sekitar -0,23% ke level 16.990. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah dengan tenor 10 tahun mengalami kenaikan 12 basis poin menjadi 6,914%, menandai level tertinggi sejak Mei 2025.
Prospek Sektor dan Peringatan Investasi
Tekanan pada APBN diperkirakan akan semakin besar jika tren kenaikan harga minyak berlanjut. Situasi ini juga berpotensi mendorong Bank Indonesia untuk mengetatkan suku bunga sejalan dengan tren global, yang dapat memicu inflasi. Namun, secara historis, kenaikan harga minyak seringkali diikuti oleh kenaikan harga komoditas ekspor utama Indonesia seperti batu bara dan Crude Palm Oil (CPO).
Dalam skenario harga minyak tinggi yang berkepanjangan, sektor batu bara (misalnya Adaro Andalan Indonesia ($AADI) dan Indo Tambangraya Megah ($ITMG)) serta CPO (seperti Triputra Agro Persada ($TAPG) dan Dharma Satya Nusantara ($DSNG)) dipandang masih menawarkan peluang menarik bagi investor.
Waspada Potensi Manipulasi Saham pada Emiten Baru
Dalam pandangan investasi yang dibagikan di komunitas Stockbit, pengguna bernama skydrugz27 memberikan peringatan mengenai potensi manipulasi harga saham, khususnya pada perusahaan yang baru melakukan Penawaran Umum Perdana (IPO) dalam lima tahun terakhir. Ia menyoroti adanya temuan ‘uang muka’ pada laporan keuangan yang nilainya tidak menunjukkan pergerakan. Jika ‘uang muka’ tersebut tidak berubah nilainya selama lebih dari satu tahun, hal tersebut patut dicurigai sebagai indikasi manipulasi.
Modus ‘uang muka’ ini diduga digunakan sebagai dana titipan dari pihak pengendali emiten untuk memanipulasi harga saham di pasar modal, bukan untuk keperluan pembelian aset sebagaimana yang seharusnya. Skydrugz27 menggunakan contoh emiten yang pernah terlibat dalam kasus ‘penggorengan saham’ untuk mengilustrasikan praktik ini.
Skydrugz27 dikenal aktif berbagi wawasan investasi di komunitas Stockbit sejak tahun 2017, dengan fokus pada investor individu dan mempopulerkan istilah ‘investasi se-lot se-lot’.























