Proses identifikasi korban bencana alam, seperti longsor yang terjadi di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, seringkali dihadapkan pada berbagai tantangan kompleks. Polda Jawa Barat kini tengah berupaya maksimal dalam mengenali identitas para korban, meskipun menghadapi kendala signifikan terkait kondisi jenazah.
Tantangan Identifikasi Akibat Kondisi Jenazah
Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol Hendra Rochmawan, memaparkan bahwa kendala utama dalam identifikasi korban longsor di Cisarua adalah kondisi jenazah yang telah mengalami perubahan signifikan. Sebagian besar jenazah yang berhasil dievakuasi ditemukan setelah berada di lokasi bencana lebih dari enam hari.
Kondisi ini, menurut Kombes Pol Hendra, berdampak pada proses pembusukan dan perubahan jaringan tubuh, yang secara otomatis mempersulit proses pengenalan identitas secara visual atau metode konvensional lainnya. Ini merupakan tantangan berat bagi tim Disaster Victim Identification (DVI) yang bertugas.
Upaya Forensik Polda Jabar untuk Mengatasi Kendala
Meskipun dihadapkan pada situasi yang sulit, Polda Jawa Barat menegaskan komitmennya untuk terus melaksanakan proses identifikasi dengan memanfaatkan seluruh kemampuan dan metode forensik yang tersedia. Tim DVI tidak tinggal diam dan terus bekerja keras untuk mengenali para korban.
Metode Ante Mortem dan Post Mortem Tetap Dioptimalkan
Tim DVI menggunakan kombinasi dua metode utama dalam upaya identifikasi, yaitu identifikasi ante mortem (data yang dikumpulkan sebelum seseorang meninggal, seperti catatan medis, foto, atau keterangan keluarga) dan identifikasi post mortem (data yang dikumpulkan dari jenazah itu sendiri, seperti sidik jari, DNA, atau ciri fisik lainnya).
Kombes Pol Hendra Rochmawan menyatakan, “Sejauh ini belum ada kendala yang tidak bisa diatasi. Tim ante mortem dan post mortem masih bisa menggunakan berbagai teknik untuk menggali data identitas fisik korban.” Pernyataan ini menunjukkan optimisme dan profesionalisme tim di lapangan.
Perkembangan dan Komitmen Hingga Tuntas
Hingga saat ini, tim DVI Polda Jawa Barat telah berhasil mengidentifikasi sebanyak 68 kantong jenazah. Sementara itu, 17 kantong jenazah lainnya masih dalam proses identifikasi lanjutan yang memerlukan analisis lebih mendalam. Proses rekonsiliasi data ante mortem dan post mortem biasanya dilakukan pada sore hari sebelum identitas korban secara resmi diumumkan kepada publik.
Polda Jawa Barat berjanji akan terus memberikan pelayanan dan upaya identifikasi secara maksimal hingga seluruh korban bencana longsor Cisarua dapat dikenali dan diserahkan kepada keluarga mereka sesuai dengan prosedur yang berlaku. Laporan mengenai jumlah orang hilang terus diperbarui, dan tim DVI akan melayani tanpa henti hingga seluruh proses selesai sepenuhnya.























